Konten Media Partner

Cerita Orang Tua di Bantul yang Curhat Impian Anaknya 'Dibunuh' Oknum Guru

Tugu Jogjaverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pembelajaran di sekolah. Foto: istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pembelajaran di sekolah. Foto: istimewa

Bambang Gunawan, seorang warga Bantul baru-baru ini curhat di media sosial mengenai pengalaman anaknya yang impiannya 'dibunuh' oleh guru SMP-nya.

Ketika dikonfirmasi Bambang Gunawan membenarkan hal tersebut. Bambang mengatakan pada intinya orang tua tidak tahu awal mula yang terjadi pada anaknya. Mereka baru mengetahui ketika anak tersebut sudah sembuh dari penyakitnya.

"Kami tahu setelah dia sembuh. Setelah sembuh dia mau cerita," kata dia, Kamis (24/2/2022).

Ia menceritakan peristiwa itu terjadi ketika anaknya kelas 8 SMP. Saat itu pihak keluarga tidak mengetahuinya karena sang anak tidak pernah bercerita. Gejala awalnya karena sang anak tidak mau main musik, tidak mau lagi latihan bernyanyi, tidak mau pentas. Padahal waktu itu keluarga memiliki studio latihan musik dan menyanyi.

kumparan post embed

Sehingga Bambang memandang anaknya aneh. Bambang sempat menduga hal lain karena awalnya anaknya suka main keyboard atau piano tetapi ada saran dari guru musiknya untuk main biola.

"Dia kurang mampu menyesuaikan diri dengan Fredless itulah, jadi dia frustrasi," ujar dosen salah satu perguruan tinggi di DIY.

Bambang mengira anaknya stres karena hal tersebut. Sehingga karena itu anaknya tidak lagi main musik. Bambang juga bertambah heran karena sang anak enggan bermain musik apapun.

Bambang menduga anaknya lebih serius di sekolah karena sudah memasuki jenjang pendidikan SMA. Sang anak kala itu mengambil jurusan IPA, padahal kakaknya mengambil jurusan IPS. Di kelas 2 SMA, sang anak selalu bilang ingin masuk ke kedokteran saat ditanya oleh gurunya hendak kuliah di mana.

"Saya baru tahunya di kelas 2 SMA itu. Oo mau di kedokteran. Terus saya tanya mau di mana lagi, anak saya jawab mau di kedokteran aja pak," ungkap dia.

Sang anak pun mendaftar di kedokteran UMY. Setelah 3 kali ujian ia pun diterima. Selama berkuliah, ia tak mengetahui bila anaknya memiliki masalah.

Saat sang anak masuk ke semester 7-8, kepribadian anak perempuannya mulai berubah. Ia mulai salah paham, sering bentrok, hingga berani berargumen. Bahkan sang anak menjadi sangat rasional dan berani menyalahkan orang tuanya bila salah. Ia mengatakan bahwa di hadapan keluarga, sang anak menjadi sosok yang keras. Sedangkan di hadapan orang lain, sang anak merupakan anak yang sopan.

"Satu semester belum lulus dia sering kurang tidur. Kami belum serius mengamati sampai suatu malam dia mengalami gejala halusinasi. Sehingga yakin anaknya harus diperiksakan," terangnya.

Akhirnya anaknya diperiksakan oleh psikiater yang kebetulan dosen di kampusnya. Dari hasilnya, sang anak perlu mendapatkan terapi dengan obat penenang. Ia menyebutkan penyakit anaknya bukan depresi tetapi maniak atau reaktif bila terjadi sesuatu.

Ia mengungkapkan sang anak beberapa kali menuliskan rumus fisika teori, biologi molekuler, kimia dan sebagainya itu keluar semua tetapi tulisannya acak tidak karuan.

"Pasti bapak tidak paham pakai bahasa Inggris. Tidak karuan," terangnya.

Anaknya kemudian mendapat terapi obat selama setahun dan akhirnya bisa sembuh. Namun 6 bulan menjalani terapi, anaknya harus menjalani koas sehingga dia menitipkan sang anak kepada teman-teman anaknya untuk membantu memberikan obat.

Bambang menambahkan pihaknya baru mengetahui jika anaknya pernah di-bully di sekolah gara-gara cita-citanya menjadi penyanyi setelah anaknya sembuh. Di mana ketika sembuh, anaknya justru bercerita sendiri apa yang dialaminya tersebut. Bahkan kembali ke hobinya untuk bernyanyi dan bermain alat musik lagi.

"Sekarang baik banget kayak anak manis banget, penurut banget. Dia kemudian terbuka dan bercerita. Padahal sejak SMA dan kuliah itu tidak pernah terbuka, tidak pernah punya teman," kata dia.

Dia menambahkan, pertama kali ikut koas saat itu 2 semester yang lalu, anaknya sudah tidak baik lagi. Setiap diperintah untuk memegang alat ataupun melakukan sesuatu berkaitan dengan penanganan pasien, anaknya tidak pernah bersedia melakukannya

"Ya akhirnya saya memutuskan agar anak saya mengundurkan diri," terangnya

Dengan pengalaman anaknya maka dia menyimpulkan memang ada masalah di dunia pendidikan. Terletak pada jiwa pendidik, guru sebagai pendidik.

Menurutnya, banyak guru yang tidak mengerti psikologi perkembangan anak atau lupa menerapkan ilmu tersebut. Terutama di masa SMP. Hal ini karena ada perubahan drastis di biologis dan psikologisnya. Sehingga ia meminta untuk ada evaluasi menyeluruh berkaitan dengan pendidikan.