Konten Media Partner

Kiprah Pemuda di Gunungkidul Hadirkan Taman Belajar untuk Anak Usia Dini

Tugu Jogjaverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana Taman Belajar 'Ruang Ceria' yang ramai anak-anak untuk belajar sambil bermain di Balai Padukuhan Gebang, Kalurahan Pengkol, Kapanewon Nglipar, Gunungkidul. Foto: Erfanto/Tugu Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Taman Belajar 'Ruang Ceria' yang ramai anak-anak untuk belajar sambil bermain di Balai Padukuhan Gebang, Kalurahan Pengkol, Kapanewon Nglipar, Gunungkidul. Foto: Erfanto/Tugu Jogja

Hampir setiap sore, apalagi akhir pekan, suasana Balai Padukuhan Gebang, Kalurahan Pengkol, Kapanewon Nglipar, Gunungkidul nampak meriah. Puluhan anak-anak usia Paud, TK dan SD nampak berjajar tak beraturan menuruti mood mereka masing-masing.

Nampak pula beberapa remaja yang hilir mudik menyambangi masing-masing anak untuk membantu mereka ketika menghadapi kesulitan. Tak hanya bermain, namun anak-anak ini sedang belajar bersama dengan dibimbing oleh beberapa remaja sebagai tutornya.

Tanpa aturan yang ketat, anak anak ini belajar dengan santai, dan bahkan beberapa terlihat sambil bermain dengan teman temannya. Inilah sanggar atau taman belajar yang digagas oleh remaja serta muda-mudi di Padukuhan Gebang, sebuah padukuhan terpencil di wilayah Kabupaten Gunungkidul

Adalah Siti Agus Siatigna (22), yang menggagas Taman Belajar ini. Pemudi ini mencoba memberikan virus kebaikan kepada teman-teman Karang Taruna di sekliling tempat tinggalnya untuk ikut menjadi tutor belajar bagi anak anak.

"Kami menyebut program ini sebagai 'Ruang Ceria', di mana anak anak diberikan sarana dan ruang untuk belajar sambil bermain," ujar Siti, Kamis (28/10/2021).

Tak ada keharusan yang harus dilakukan oleh anggota karangtaruna. Demikian juga tidak ada kewajiban bagi anak-anak yang ingin turut serta belajar dengan mereka. Yang penting adalah ada keinginan untuk belajar berdasarkan kelompok umur mereka.

kumparan post embed

Siti memang mengkonsep Ruang Ceria ini dengan kesan tidak formal dalam belajar. Karena, menurut Siti, belajar dengan tidak formal akan mempunyai banyak nilai plus, diantaranya anak anak akan lebih bebas dan santai berinteraksi dengan teman temannya.

"Nilai positifnya ya mereka merasa lebih bebas untuk berkspresi," ujar dia.

Dengan konsep yang ia jalankan maka anak-anak akan lebih kreatif, di samping juga tertarik untuk mempelajari hal hal yang baru. Pembelajarannya juga dilaksanakan dengan santai, karena konsep mereka adalah belajar sambil bermain.

Kegiatan ini sudah mereka rintis sejak tiga tahun yang lalu, sempat berhenti karena terhalang Pandemi. Kini kegiatan tersebut kembali mereka lakukan, seiring kegiatan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang mulai dilakukan di sekolah.

Sesuai konsep "Ruang Ceria", anak anak yang mengikuti proses belajar ini memang terlihat gembira, mereka bebas memilih akan belajar apa. Anak anak yang berusia rata rata 3 sampai 10 tahun ini terlihat sedang berlatih menulis, membaca, menggambar, atau hanya sekedar bermain dengan temannya.

"Kegiatan ini kami mulai tahun 2018, awalnya di rumah saya, dulu hanya beberapa anak yang ikut, lalu terhalang Pandemi, jadi terpaksa berhenti dulu," cerita Siti.

Konsep belajar "Ruang Ceria" ini dilaksanakan seminggu sekali dengan waktu beberapa jam. Dia menyatakan antusias anak anak untuk belajar sangat tinggi, mereka merasa sangat senang dan bersemangat bisa belajar dengan santai sambil bermain bersama teman temannya.

kumparan post embed

"Kegiatan selesai, banyak anak anak yang belum mau pulang, katanya mereka belajar baru sebentar," ujar Siti dengan tertawa.

Saat kasus COVID-19 di kampungnya mulai mereda, Siti kemudian berinisiatif untuk memulai kegiatan ini lagi. Dia mengaku merasa peduli dan prihatin terhadap anak anak yang selama Pandemi hanya bersekolah secara Daring, sehingga tentu sangat tertinggal pembelajarannya.

Siti dan teman temannya akhirnya meminta izin kepada perangkat setempat untuk menggunakan balai padukuhan sebagai tempat belajar. Untuk saat ini, memang tidak hanya anak usia dini yang mengikuti proses ini, bahkan ada beberapa peserta yang sudah duduk di bangku SD.

"Harapan kami kegiatan ini akan bisa membantu dalam menunjang proses pembelajaran mereka di sekolah formal," lanjutnya wanita yang dalam kesehariannya adalah seorang pengajar di sebuah sekolah swasta.

Untuk sarana belajar yang selama ini mereka gunakan, baik buku atau peralatan sekolah lainnya, Siti mengaku pernah mendapat donasi dari beberapa pihak. Namun beriring peserta yang semakin bertambah, maka sarana belajar ini sering kurang, sehingga dia dan teman temannya kadang harus mengeluarkan biaya dari uang pribadi untuk membeli alat tulis.

"Walaupun begitu, kami merasa ikhlas, karena biaya yang mereka keluarkan juga semampunya. Enjoy saja, niat kita kan sukarela untuk ikut membantu mencerdaskan generasi," ujar dia.