Konten Media Partner

Sarah Warastuti, Ibu Asal Sleman yang Viral Minta Ganja Medis untuk Anaknya

Tugu Jogjaverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Santi Warastuti, ibu rumah tangga asal Sleman yang viral usai minta ganja medis untuk anaknya yang sedang sakit. Foto: istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Santi Warastuti, ibu rumah tangga asal Sleman yang viral usai minta ganja medis untuk anaknya yang sedang sakit. Foto: istimewa

Santi Warastuti, ibu rumah tangga asal Dusun Karangwetan Kalurahan Tegaltirto Kapanewon Berbah Kabupaten Sleman ini mendadak viral. Foto bersama anaknya dengan membawa poster tuntutan ganja medis dilegalkan di acara Car Free Day (CFD) Jakarta beredar luas di media sosial

Seniman Andien Aisyah Haryadi mengunggah foto Santi bersama anaknya yang terkulai lemas di kursi roda. Pika, anak dari Santi terlihat terikat erat di kursi roda. Dalam foto tersebut, salah satu tangan Santi terlihat memegang poster bertuliskan

"TOLONG ANAKKU BUTUH GANJA MEDIS,"demikian tulisan tersebut.

Foto tersebut lantas viral di media sosial dan kini banyak yang memberikan pendapat berkaitan dengan tuntutan melegalkan ganja medis. Bahkan hari Kamis (30/6/2022) ini, DPR RI melakukan dengar pendapat berkaitan dengan Ganja Medis tersebut termasuk mengundang Santi.

kumparan post embed

Santi nekat datang ke Car Free Day (CFD) di Jakarta memang untuk memperjuangkan nasib anaknya yang menderita cerebral palsy. Biasanya pasien cerebral palsy juga disertai epilepsi. Ketika epilepsi kambuh maka yang terjadi adalah kejang-kejang.

"Anak saya butuh ganja untuk meredakan kejang-kejang itu," tutur dia, ketika dihubungi awak media.

Santi mengaku nekat datang agar mendapat perhatian dari khalayak umum sebab a isi surat yang dua tahun lalu ia tujukan kepada MK serasa tak bertepuk sebelah tangan. Sebab sudah dua tahun, surat tersebut tak kunjung dapat kejelasan dan kepastian.

Dua tahun ia berjuang demi nasib buah hatinya agar mendapatkan perawatan medis yang dia butuhkan. Anak dari Santi bernama Pika. Pika divonis oleh dokter menderita Cerebral Palsy tahun 2015 silam.

Sejak pertama kali anaknya divonis menderita Cerebral Palsy, Santi memang tak berhenti untuk memperjuangkan kesembuhan anaknya. Rumah sakit seolah menjadi rumah kedua bagi dirinya dan juga anak perempuannya tersebut.

"Obat demi obat dikonsumsi oleh anak saya. Berbagai obat saya coba untuk meredakan kejang-kejang akibat epilepsi. Bahkan saya bawa anak saya berobat ke mana saja sesuai arahan orang lain yang mengatakan anak saya bisa sembuh,"terang dia.

Santi mengaku sangat sedih dengan kondisi anaknya tersebut. Sama seperti anak-anak dengan cerebral palsy, memang disertai dengan epilepsi. Ketika Epilepsi sudah menyerang, maka kejang adalah hal yang sering melanda anaknya.

"Banyak juga anak-anak cerebral palsy kebal obat, sudah minum macam-macam tetap kejang," tuturnya.

Selama ini, bila gejala kejangnya sedang kumat, Pika akan rutin mengonsumsi obat-obat konvensional yang diberikan oleh pihak rumah sakit. Namun sampai saat ini, belum ada perkembangan signifikan berkaitan dengan apa yang dialami oleh anaknya.

Menurutnya, tujuh tahun memberikan obat anti kejang kepada anaknya bukan waktu yang singkat. Oleh karenanya, ia berupaya agar anaknya mendapatkan asupan yang bisa mengobati kejang-kejang ketika epilepsi kambuh. Dan ketika ada saran bisa menggunakan ganja medis.

"Saya berjuang untuk mendapatkan ganja tersebut dengan alasan medis. Terserah orang mau berkata apa. Mereka harus membayangkan di posisi saya bagaimana menghadapi dan merawat Pika,"terangnya.

Ia tak membantah bahwa ada kekhawatiran dalam dirinya, Pika akan mengalami resistensi obat sebagai efek samping. Namun ia berusaha menyingkirkannya, karena obat sirup yang digunakan oleh Pika sebagai obat penyakitnya dosisnya meningkat dan telah memberikan sejumlah efek samping.

"Obat yang dikonsumsi anak saya semuanya menimbulkan efek samping," kata dia.

Tonton video menarik dari Tugu Jogja berikut ini:

video youtube embed