5 Penulis Feminis dari Masa ke Masa

O Captain, My Captain. (Whitman, 1865)
Tulisan dari Tutur Literatur tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam kajian sastra, pendekatan feminisme sering dikenal dengan kritik sastra feminis. Sejatinya feminisme berbeda dengan emansipasi. Emansipasi lebih menekankan pada partisipasi perempuan dalam pembangunan tanpa mempersoalkan hak serta kepentingan mereka yang dinilai tak adil, sedangkan feminisme memandang perempuan memiliki aktivitas dan inisiatif sendiri untuk mempergunakan hak dan kepentingan tersebut dalam berbagai gerakan, termasuk menciptakan karya sastra. Melalui sastra, kaum perempuan memiliki senjata ampuh untuk mengkritik keadaan sosial dan mengubah keadaan. Mari intip 7 penulis perempuan Indonesia yang berkecimpung di dunia sastra dari masa ke masa berikut ini
1. N.H Dini

Pengalaman hidupnya yang menyambangi berbagai negara membuatnya melahirkan berbagai karya dengan latar belakang budaya yang berbeda. Namun, semua karyanya memiliki benang merah yakni persoalan perempuan di tengah budaya patriarki. N.H Dii sendiri mulai berkarya pada tahun 70-an dan dianggap sebagai pelopor penulis feminis dalam sastra Indonesia modern. Pada tahun itu paham fenimisme sedang gencar-gencarnya masuk ke Indonesia sehingga saat itu tak ada yang bisa menandingi karya-karyanya. Karya-karya N.H Dini yang cukup fenomenal antara lain; Pada Sebuah Kapal, La Barka, Hati yang Damai, Keberangkatan, Tirai Menurun dan masih banyak lagi.
2. Ayu Utami

Pada tahun 1998, novelnya yang berjudul "Saman" menjadi pemenang dalam sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta. Semenjak saat itu pula lah nama Ayu Utami sering dijadikan perbincangan. Novel Saman dianggap telah memberikan warna baru bagi duia sastra Indonesia. Novel ini pula yang menggawangi munculnya sastra wangi, yakni sebutan untuk karya sastra indonesia yang ditulis oleh para penulis beraliran feminis. Selain "Saman", ia juga menulis karya bernafaskan feminisme lainnya yang tak kalah terkenal seperti Larung, Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa, Lalita, Maya dan lainnya.
3. Djenar Maesa Ayu

Melalui karya-karyanya Djenar Maesa Ayu mendobrak batas ketabuan bahasan seksualitas bagi masyarakat Indonesia. Ia serinngkali menyuarakan ketidakadilan yang diterima perempuan secara seksualitas dan kebebasan perempuan untuk menentukan nasib tubuhnya sendiri. Beberapa prosanya antara lain berjudul Nayla, Mereka Bilang, Saya Monyet, 1 Perempuan 14 Laki-Laki dan SAIA. Tak puas berhenti di prosa, ia juga turut menggarap beberapa film yang diadaptasi dari karyanya seperti SAIA, Mereka Bilang Saya Monyet, Nay dan hUSh.
4. Fira Basuki

Penulis wanita yang juga pernah menjadi pemimpin redaksi majalah Cosmopolitan ini sering menggunakan latar Amerika dan Singapura dalam karya-karyanya. Melalui karya-karyanya seperti Jendela-Jendela, Pintu, Atap, Biru, dan Rojak, ia berusaha memprotes situasi dimana perempuan seringkali dijadikan sebagai objek seksual. Ia menuturkan bahwa sitasi tersebut dapat menyebabkan dampak psikologis yang begitu besar terhadap prempuan. Novel Biru sering dianggap sebagai pokok pikiran feminisme radikal , dengan huungan perempuan dan seks yang menjadi cerita dasarnya.
5. Dewi Lestari

Mulanya, wanita yang akrab disapa Dee ini merupakan salah satu anggota grup vokal Rida Sita Dewi. Kemudian karyanya yang berjudul "Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh" pun lahir dan meraup kesuksesan. Novel tersebut kemudian menjadi ramai diperbincangkan karena bercerita menganai tema-tema yang tabu seperti homoseksualitas, perselingkuhan dan pelacuran. Selain itu, Dee juga menulis beberapa karya lainnya seperti Filosofi Kopi, Perahu Kertas dan Madre.
Dengan membaca karya-karya kelima penulis di atas dapat membuat kita sadar bahwa di luar sana masih banyak bentuk ketidakadilan yang harus diterima oleh kaum hawa. Novel apakah yang paling kamu gemari dari penulis wanita di atas?
