Konten dari Pengguna

Islam: The Misunderstood Religion

Vicky Kurniawan

Vicky Kurniawan

Alumni Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Padang & Kajian Sejarah Universitas Andalas

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vicky Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI oleh Grok/X, tanpa referensi visual dari pihak ketiga.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI oleh Grok/X, tanpa referensi visual dari pihak ketiga.

"Benturan Peradaban tidak lagi melibatkan Barat (Amerika Serikat) dan Timur (Uni Soviet) namun melibatkan Barat dan berbagai peradaban non-Barat (Islam, Konfusian, Hindu dsb)." Begitulah agaknya Samuel Huntington dalam "The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order" menggambarkan masa depan dunia pasca berakhirnya Perang Dingin.

Buku yang diterbitkan tahun 1996 itu mulanya merupakan kritik terhadap tulisan Francis Fukuyama yang berjudul "The End of History and the Last Man" yang menyimpulkan bahwa pasca runtuhnya Uni Soviet dan berakhirnya Perang Dingin, dunia global memasuki era baru dan Barat telah memenangkan peradaban manusia. Demokrasi liberal dengan pendekatan kapitalisme pasar bebas merupakan puncak evolusi ideologis dan politik manusia yang menandakan komunisme ala Soviet telah gagal.

Fukuyama berargumen bahwa akhir peradaban adalah peradaban Barat dan The Last Man (manusia terakhir) terlalu puas dengan kenyamanan yang telah diperoleh sehingga tidak lagi memiliki ambisi besar yang mendorong sejarah di masa lampau. Tulisan Fukuyama menuai banyak kritik. Ia mengabaikan kekuatan baru yang tengah bertumbuh seperti Tiongkok dan berbagai konflik budaya di wilayah lain seperti di wilayah Selatan.

Buku The End of History and the Last Man karya Francis Fukuyama (Sumber: kumparan.com)

Huntington mulanya menulis artikel dengan judul "The Clash of Civilizations?" dalam jurnal Foreign Affairs tahun 1993. Tulisan ini yang kelak dilengkapi dan dibukukan dengan judul "The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order." Karya ini dipuji banyak kalangan meski tetap dianggap menyimplifikasikan beberapa event history yang telah/dan atau akan terjadi.

Huntington menilai salah satu masalah bagi peradaban Barat di masa depan ialah Islam. Ia menyebutnya sebagai “Islam has bloody borders” — sebuah generalisasi berlebihan, bias dan mengabaikan faktor kolonialisme, intervensi Barat serta kegagalan dalam menjelaskan konflik yang dialami oleh dunia Islam.

Nubuat yang terpenuhi sendiri (Self-Fulfilling Prophecy)

Meski tulisan Huntington membahas berbagai peradaban dan konflik peradaban tersebut terhadap Barat, nyatanya, Huntington menekankan Islam sebagai hot-spot benturan tersebut. Bahkan dalam tulisannya aliansi Islam-Tiongkok (konfusian) menjadi ancaman serius bagi masa depan Barat.

Ia menggambarkan bahwa benturan peradaban sebagai sesuatu yang niscaya untuk dielakkan, sehingga tesis Huntington baik secara langsung atau tidak dapat memengaruhi kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Pasca tragedi 9/11 tesis ini sering digunakan untuk membenarkan kebijakan luar negeri agresif Barat. Bagaimana George W. Bush melancarkan operasi militer (invasi) terhadap Iraq pada Maret 2003 dengan dalih melucuti Senjata Pemusnah Massal (Weapon Mass Destruction/WMDs).

Serangan Al-Qaeda ke gedung World Trade Center (WTC) yang terjadi pada 11 September 2001 (Sumber: kumparan.com)

Bush melabeli tindakannya sebagai "Perang Melawan Teror" serta mengaitkan rezim Saddam Hussein dengan terorisme global. Ancaman internasional terhadap kepemilikan WMDs Saddam Hussein seolah membenarkan "aksi polisionil" Amerika Serikat meski belakangan diketahui bahwa Iraq tidak terlibat langsung dalam tragedi 9/11 dan tidak pernah terbukti memiliki WMDs.

Amerika Serikat akhirnya meninggalkan Iraq sebagai negara porak-poranda pada tahun 2011. Menarik militer secara bertahap hingga menyisakan residu konflik lokal berbasis sektarian antara komunitas Sunni dan Syi'ah. Sesuatu yang masih berlangsung hingga hari ini.

Tesis huntington, alih-alih menjelaskan realitas, ia justru membentuk realitas politik itu sendiri sehingga seolah-olah ia telah "merealisasikan nubuat akademik" dalam tulisannya yang lebih bernada konfrontatif alih-alih dialog-reflektif.

Negara sebagai aktor utama

Meski Huntington berbicara dan menekankan peradaban sebagai penyebab utama konflik masa depan namun dalam praktiknya konflik-konflik yang terjadi di berbagai negara pasca Perang Dingin merupakan konflik yang melibatkan antar negara.

Sebab, teori yang diusung Huntington kurang konsisten karena negara-bangsa tetap menjadi aktor utama, bukan peradaban. Peradaban tidak memiliki struktur politik tunggal untuk bertindak secara kolektif sehingga pernyataan Huntington menjadi tidak relevan jika melihat konflik global pasca Perang Dingin.

Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Uni Soviet (Sumber: kumparan.com)

Beberapa konflik besar yang terjadi di abad 21 semisal: invasi Amerika Serikat ke Iraq; Arab Springs; Eskalasi fraksi Houthi di Yaman; Perang Palestina-Israel yang tak berkesudahan; ISIS di Iraq dan Suriah; Genosida Rohingya; Anekasi Krimea oleh Russia; Invasi Russia terhadap Ukraina, Persekusi minoritas muslim Uighur di Xinjiang, China; Konflik Sudan dan rentetan peperangan di Benua Afrika dsb.

Berbagai konflik yang disebut di atas melibatkan negara terhadap negara atau negara terhadap organisasi/dan atau sebaliknya (Houthi, Yaman. ISIS, Iraq dan Suriah dsb). Peradaban tidak pernah menjadi aktor tunggal dalam menggerakan konflik setidaknya dalam seperempat abad terakhir.

Apa yang diklaim Osama bin Laden pada tragedi 9/11 ialah mewakili Al-Qaeda sebagai organisasi (kelompok teroris) alih-alih Islam sebagai perwakilan peradaban Muslim internasional. Banyak kelompok Islam Ortodoks tidak membenarkan tindakan Osama bin Laden. Singkatnya, komunitas Muslim ortodoks menilai ideologi yang dianut Osama bin Laden sebagai penyimpangan ekstrem dari prinsip-prinsip Islam yang damai dan menolak klaimnya untuk memimpin umat Islam.

Osama bin Laden (Sumber: kumparan.com)

Media sebagai afirmasi tesis Huntington

Caroline Mala Corbin (Professor Hukum University of Miami School of Law) dalam tulisannya yang bertajuk "Terrorist Are Always Muslim but Never White: At the Intersection of Critical Race Theory and Propaganda" mengkritik bias teroris dan muslim.

Corbin menyebutkan bahwa terdapat narasi umum keliru mengenai teroris yang menyerang Amerika. Ia memperhatikan narasi-narasi yang selama ini beredar di televisi, film, pemberitaaan tercermin dalam kebijakan pemerintah.

Televisi yang tengah mencari siaran (Sumber: kumparan.com)

Narasi pertama adalah "teroris selalu dikonstruksikan sebagai Muslim (yang berkulit coklat)." Narasi kedua ialah "orang kulit putih tidak pernah menjadi teroris." Narasi-narasi ini agaknya memengaruhi gambaran yang muncul dalam benak warga Amerika ketika mendapat pertanyaan "Apa yang Anda bayangkan kala mendengar kata 'teroris'?"

Narasi yang berulang-ulang oleh dan didistribusikan oleh media telah mengindoktrinasi pembentukan stereotip "teroris adalah Muslim" dan "orang kulit putih tidak pernah dilabeli sebagai teroris" (white privilege) — seolah orang kulit putih memeroleh keistimewaan untuk tidak dilabeli sebagai teroris.

Narasi-narasi keliru ini memainkan peran penting dalam propaganda pemerintah. Propaganda bergantung pada ideologi-ideologi keliru yang sudah ada sebelumnya, yang merupakan cara lain untuk menggambarkan stereotip rasis. Propaganda juga bergantung pada ideal dan mitos tertentu, dalam hal ini mitos tentang kepolosan dan superioritas orang kulit putih.

Kedua narasi keliru tersebut—“semua teroris adalah Muslim” dan “tidak ada orang kulit putih yang merupakan teroris”—justru merusak, bukan meningkatkan, keamanan kita. Tulis Corbin.

Kritikan Corbin mengenai bias yang salah satunya digerakkan oleh media terhadap Muslim juga selaras dengan Mahmood Mamdani dalam bukunya "Good Muslim Bad Muslim: America, the Cold War, and the Roots of Terror."

Tesis utama dari Mamdani menyebutkan bahwa: "Masalah utama bukan Islam sebagai agama, melainkan cara kekuasaan global-terutama Amerika Serikat-mengkonstruksi Muslim secara politik. Mamdani mendekonstruksi bagaimana wacana Barat (media, negara bahkan akademik) mendikotomi Muslim menjadi dua kategori: Good Muslim dan Bad Muslim.

Dokumen CIA yang menjelaskan deskripsi salah seorang yang dituding sebagai teroris yang tergabung dalam organisasi Taliban (Sumber: kumparan.com)

Dikotomi yang diciptakan Barat ialah Good Muslim sebagai kelompok moderat yang sekuler, pro-Barat dan tidak mempolitisasi Islam sedangkan Bad Muslim merupakan kelompok radikal, anti-Barat dan dilabeli sebagai teroris. Penilaian apakah seseorang itu "baik" atau "buruk" tidak didasarkan pada karakter moral mereka, melainkan pada kepatuhan politik mereka terhadap kepentingan Amerika.

Dikotomi ini diciptakan bukan sebagai analisis ilmiah namun sebagai alat politik dan keamanan — sebuah karya yang secara tidak langsung membongkar analisis wacana ala Huntington dan public policy Amerika Serikat.

Siapa produsen Bad Muslim?

Jika yang disebut teroris adalah Bad Muslim dalam terminologi Mamdani. Maka yang jadi pertanyaannya ialah: Siapa yang memproduksi teroris (Bad Muslim) tersebut? Apakah ia terlahir secara organik atas Islam sebagai agama itu sendiri? Atau apakah ia justru merupakan warisan dari konflik masa lalu?

Jika Huntington melihat peradaban khususnya Islam sebagai entitas konflik di masa depan dengan analisis politis maka Mamdani melakukan penelusuran sejarah di mana bibit itu disemai. Ia berargumen bahwa Islam radikal yang disaksikan dunia hari ini bukanlah fenomena Abad Pertengahan melainkan hasil dari: Intervensi Amerika Serikat selama Perang Dingin. Amerika secara terang-terangan mendukung, mendanai serta melatih kelompok ekstremis (seperti Mujahidin di Afghanistan) untuk melawan Uni Soviet.

Bantuan tersebut bukan karena Amerika peduli terhadap dunia Muslim namun murni karena konflik kepentingan selama Perang Dingin. Proyek CIA yang secara aktif mendukung gerakan-gerakan semacam ini, dikemudian hari justru menjadi senjata yang melawan balik Amerika sendiri.

Saat Perang Dingin usai dan tragedi 9/11 menjadi isu global serta media membingkai narasi untuk: melawan teror, mendorong legislasi keamanan dalam negeri, memberitakan intervensi militer ke negara teror maka dengan sendirinya Islam berubah menjadi agama yang dilabeli sebagai antitesis peradaban Barat.

Persis seperti “nubuat” Huntington yang kemudian dibuktikan oleh praktik politik dan media.

Perbedaan mendasar antara tesis Huntington dan Mamdani ialah: Huntington menganggap konflik (di masa depan) tak terelakkan sedangkan Mamdani menunjukkan konflik diciptakan secara historis dan politis.

Dengan kata lain, Huntington berkata "Islam berbenturan dengan (peradaban) Barat dan Mamdani menjawab bahwa "Justru (peradaban) Barat yang menciptakan Muslim sebagai musuh."

Relevansi hari ini

Melihat public policy Amerika Serikat selama seperempat abad terakhir dan berbagai kebijakan Trump yang baru-baru ini hendak mendeportasi mahasiswa internasional yang pro-Palestina telah menunjukkan bahwa Islamofobia masih dan akan terus berlanjut hingga beberapa waktu ke depan.

Truth Social merupakan media sosial yang digagas oleh Donald Trump untuk menyebarluaskan apa yang ia sebut dengan ide serta gagasannya meski kontennya mengandung kontroversi (Sumber: kumparan.com)

Kebijakan Trump yang membatasi atau bahkan melarang visa bagi negara berpenduduk mayoritas Muslim—yang sempat dibatalkan namun kini diwacanakan kembali—menunjukkan bahwa Islamofobia bukan sekadar residu masa lalu, melainkan instrumen politik aktif. Bagaimana media dan otoritas politik membingkai wacana terhadap Muslim telah menciptakan sebuah reduksionisme sejarah yang berbahaya. Islam kini dipahami hanya melalui lensa keamanan, sebuah proses sistemik yang membuat Islam menjadi agama yang paling disalahpahami, bahkan oleh penganutnya sendiri.

Penyempitan sudut pandang ini pada akhirnya melahirkan sebuah amnesia kolektif. Fixasi dunia terhadap dikotomi "Good Muslim vs Bad Muslim" telah menihilkan narasi besar tentang Islam sebagai peradaban intelektual. Akibatnya, sejarah seolah mengalami lompatan yang janggal: menghapus rentang abad ke-8 hingga ke-13 Masehi dari ingatan manusia, lalu meloncat langsung ke abad ke-20 dengan narasi konflik yang pekat.

Ilustrasi ilmuwan Muslim tengah mendiskusikan ilmu pengetahuan di Abad Pertengahan masa kejayaan Peradaban Islam (Sumber: kumparan.com)

Padahal, pada periode itulah Islam berfungsi sebagai jembatan emas yang menyelamatkan warisan intelektual Yunani dan menyuplainya bagi kebangkitan Renaisans di Eropa. Dengan mereduksi Islam hanya sebagai ancaman geopolitik, dunia sebenarnya tidak hanya kehilangan pemahaman tentang sebuah agama, tetapi juga kehilangan pengakuan atas fondasi ilmu pengetahuan modern yang kita nikmati hari ini. Melawan narasi "Benturan Peradaban" Huntington, pada akhirnya, bukan hanya soal membela identitas, melainkan soal memulihkan kebenaran sejarah yang telah lama dikaburkan.".

Abad Pertengahan merupakan periode abad 8 hingga 13 M di mana perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam mengalami puncaknya (Sumber: kumparan.com)