Melihat dengan Hati dan Menumbuhkan Empati untuk Para Ibu Pekerja di Negeri ini

Profesi utamanya abdi negara, tetapi terkadang menjadi mahasiswa S-3 IPDN Jakarta, terkadang jadi da'i sesekali juga menjadi penulis.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Zidny Taqiyya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap tahunnya, kala kalender telah menyentuh angka satu di bulan Mei, atmosfer di berbagai sudut negeri berubah menjadi penuh semangat. Hari Buruh atau May Day biasanya identik dengan kepalan tangan ke udara, tuntutan kenaikan upah, dan perayaan hak-hak pekerja. Namun, meskipun riuhnya orasi dan deretan spanduk di jalanan, ada sebuah sunyi yang sering kali luput dari pandangan mata kita yakni suara hati Para ibu pekerja.
Mereka adalah sosok-sosok tangguh yang setiap pagi harus bergelut dengan dilema antara pengabdian profesional dan kerinduan pada pelukan buah hati. Dalam momen Hari Buruh kali ini, saya mengajak kita meluangkan waktu sejenak, bukan untuk berdebat soal angka, melainkan untuk menanamkan empati dan melihat dengan hati betapa besarnya pengorbanan yang mereka berikan untuk masa depan bangsa ini.

Menjadi ibu pekerja di Indonesia bukanlah sebuah perjalanan yang bertabur bunga. Ia tak ubahnya jalan terjal yang penuh dengan beban ganda. Di satu sisi, mereka adalah motor penggerak ekonomi keluarga dan institusi tempat mereka mengabdi. Di sisi lain, mereka tetaplah seorang ibu yang jiwanya tertinggal di rumah setiap kali pintu depan dikunci. Sayangnya, infrastruktur sosial kita belum sepenuhnya ramah terhadap realitas ini. Ketersediaan tempat penitipan anak (daycare) yang layak, aman, dan berkualitas masih menjadi kemewahan yang sulit dijangkau oleh banyak lapisan masyarakat. Hal ini memaksa para ibu untuk mengambil risiko, menaruh kepercayaan mereka pada institusi-institusi yang mereka harapkan mampu menjadi perpanjangan tangan kasih sayang mereka saat mereka sedang berjuang mencari nafkah.
Namun, di tengah perjuangan yang sudah berat itu, para ibu ini sering kali masih harus memikul beban tambahan berupa stigma sosial. Sering kali kita mendengar komentar yang tampak ringan namun menyayat hati: “Mengapa harus kerja? Bukankah tugas ibu di rumah?” atau “Seharusnya cari suami yang lebih mapan supaya anak tidak dititipkan.” Kalimat-kalimat seperti ini seolah menempatkan bekerja sebagai sebuah egoism semata, padahal bagi sebagian besar ibu, bekerja adalah bentuk cinta yang paling konkret. Mereka bekerja untuk memastikan gizi anak tercukupi, pendidikan anak terjamin, dan masa depan mereka lebih cerah dari hari ini. Tidak semua orang memiliki kemewahan untuk memilih "diam di rumah". Bagi banyak keluarga, keringat sang ibu sejatinya adalah napas bagi keberlangsungan dapur untuk tetap mengebul dan sekolah sebagai tempat meraih cita. Memperingati Hari Buruh berarti juga mengakui bahwa ibu pekerja adalah pahlawan yang tidak boleh kita hakimi dengan standar moral yang sempit.
Luka para ibu pekerja pada hari ini terasa semakin perih ketika kita mendengar berita tentang tragedi yang terjadi di salah satu daycare di Yogyakarta. Tempat yang seharusnya menjadi pelabuhan aman bagi anak-anak saat orang tua mereka bekerja, justru berubah menjadi sumber trauma. Kabar yang tak ubahnya berita kriminal semata tetapi juga tamparan bagi nurani kita semua. Keadilan, bagi seorang ibu yang menitipkan nyawa buah hatinya, bukanlah soal menang-kalah di pengadilan, melainkan soal rasa aman yang tidak boleh dikhianati.
Dalam konteks ini, kita melihat bagaimana sebuah institusi hukum di negeri ini yang justru mencoba memberikan “klarifikasi” terkait dugaan keterlibatan salah satu anggotanya dalam yayasan tersebut. Namun, sering kali narasi yang muncul terasa sangat administratif dan jauh dari rasa empati. Alasan-alasan seperti "hanya meminjamkan nama untuk menolong" atau "tidak menerima gaji" mungkin secara hukum formal tampak sebagai pembelaan yang sah. Namun, jika kita melihat dengan mata hati, ada sesuatu yang hilang di sana sebagai makhluk sosial kita menyebutnya tanggung jawab moral.
Dimana seorang penegak hukum adalah simbol keadilan yang hidup. Setiap huruf yang membentuk namanya di atas dokumen resmi, baik itu di dalam kantor maupun di kegiatan sosial, membawa bobot integritas yang tidak bisa dipisahkan. Ketika seorang ibu memilih sebuah daycare, mereka tidak hanya melihat gedung atau fasilitasnya tetapi mereka juga melihat siapa di balik lembaga itu. Nama besar seorang pejabat atau penegak hukum memberikan rasa tenang yang tak ternilai bagi seorang ibu yang sedang cemas di tempat kerja. Inilah yang dalam psikologi disebut sebagai pilar legitimasi.
Jika kita merujuk pada teori Moral Disengagement dari Albert Bandura (1999), kita diingatkan bagaimana manusia bisa meyakinkan dirinya bahwa standar moral tidak berlaku dalam konteks tertentu karena mereka merasa tidak terlibat secara teknis. Namun, bagi para ibu, keterlibatan itu tidak bisa dipenggal-penggal secara administratif. Tanggung jawab adalah satu kesatuan yang utuh. Begitu pula dengan fenomena Disonansi Kognitif oleh Leon Festinger (1957) yang mungkin dirasakan dimana upaya untuk memisahkan jati diri profesional dengan keterlibatan personal sebagai bentuk pertahanan diri. Kita perlu memahami bahwa integritas bukan seperti pin yang bisa dilepas-pasang saat jam kantor usai. Ia tak ubahnya seperti bagian tubuh, yang membawa konsekuensi pada setiap langkah yang diambil.
Dunia empati tidak mengenal istilah "hanya sekadar meminjamkan nama, namun juga rasa tanggung jawab" Sebab, bagi mereka yang tersakiti, keadilan sejati tidak ditemukan dalam surat pernyataan tertulis atau pembelaan prosedur yang kaku. Keadilan itu ada pada kejujuran untuk mengakui bahwa ada kepercayaan publik yang telah luruh. Menegakkan keadilan untuk para ibu berarti mengakui bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan setiap dukungan yang kita berikan sekecil apa pun itu membawa mandat pengawasan moral.
Kesedihan kita sebagai bangsa semakin mendalam ketika kita menyadari bahwa perjuangan ibu pekerja terkadang berujung pada duka yang tak terkatakan. Baru-baru ini, kita juga berduka atas berpulangnya 16 orang ibu pekerja yang menjadi korban tragedi di stasiun Bekasi Timur. Ini adalah pengingat yang sangat pahit bahwa perlindungan terhadap mereka masih jauh dari kata ideal. Dokter Gia (2026) pernah menyentuh sisi paling rapuh dalam kemanusiaan kita dengan mengatakan bahwa ada istilah untuk anak yang kehilangan orang tua, atau pasangan yang kehilangan belahan jiwanya, namun tidak ada satu kata pun dalam bahasa manusia yang mampu mendefinisikan rasa sakit orang tua yang kehilangan anaknya. Kesedihan itu begitu besar, melampaui kemampuan bahasa untuk menampungnya.
Hari Buruh sejatinya bisa kita jadikan momentum bagi kita semua baik itu pemerintah, penegak hukum, dan masyarakat luas untuk kedepan membangun ekosistem yang lebih penuh kasih bagi para ibu. Keadilan yang terlambat atau keadilan yang hanya dibungkus dengan pembelaan administratif sesungguhnya adalah bentuk ketidakadilan yang baru. Kita membutuhkan hukum yang punya jiwa, hukum yang mampu mendengar isak tangis seorang ibu dan mengerti bahwa di balik setiap berkas perkara, ada kehidupan manusia yang hancur.
Sebagai penutup, melalui tulisan ini saya ingin memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para ibu pekerja di seluruh pelosok negeri. Kepada mereka yang tetap tersenyum di depan meja kerja meskipun pikirannya tertuju pada balita yang sedang demam di rumah atau mungkin sedang menolak makan karena menunggu ibunya pulang. Kepada mereka yang tangguh menghadapi komentar miring demi masa depan keluarga dan kepada mereka yang sedang berjuang menuntut keadilan bagi anak-anaknya.
Sejatinya, Keadilan sejati menuntut keberanian kita untuk melampaui teks-teks hukum yang dingin. Ia menuntut kita untuk kembali ke nurani, untuk memulihkan hati yang hancur, dan memastikan bahwa masa kecil anak-anak kita yang juga merupakan penerus bangsa kita untuk kembali dipenuhi dengan tawa dan cinta, bukan trauma atau air mata. Semoga di hari yang penting dan bersejarah ini, janji akan kesejahteraan buruh juga mencakup perlindungan yang utuh bagi martabat dan keselamatan setiap ibu yang sedang berjuang di luar sana. Karena ketika kita melindungi seorang ibu, kita sedang melindungi masa depan sebuah bangsa. Ingatlah, bahwa pendidikan pertama seorang anak adalah Ibunya.
Selamat Hari Buruh untuk para ibu tangguh Indonesia. Teruslah bersinar, Teruslah Berkontribusi dimanapun kalian berada dan ditugaskan, doa kami semua selalu menyertai setiap langkah perjuanganmu. Selamat Hari Buruh 2026, Ibu!
