Pencarian populer

Kebahagiaan Paco Alcacer yang Sederhana

Di Dortmund, Alcacer moncer. (Foto: AFP/Ina Fassbender)

Chiajna adalah kota yang sama sekali tidak mengesankan. Letaknya memang sangat dekat dengan Bukares yang merupakan ibu kota Rumania. Akan tetapi, Chiajna dan Bukares betul-betul bagaikan bumi dan langit. Satu-satunya yang membuat kota Chiajna dikenal adalah sebuah biara Kristen kuno yang sekarang telah menjadi puing.

Namun, Chiajna yang sepi itu --penduduknya hanya sekitar 14 ribu orang menurut sensus 2011-- pernah menjadi saksi bagaimana sekumpulan bocah memperkenalkan diri mereka pada dunia sepak bola internasional. Hari pertama bulan Agustus di tahun 2011, 22 remaja beradu kebolehan di Stadionul Concordia untuk memperebutkan gelar Piala Eropa U-19.

Ke-22 remaja tadi masing-masing berasal dari Republik Ceko dan Spanyol. Kala itu, mereka memang belum jadi siapa-siapa. Akan tetapi, sekarang lain ceritanya. Sebagian dari mereka telah berhasil mematenkan diri sebagai pemain profesional yang jempolan. Tomas Koubek, Toma Kalas, dan Pavel Kaderabek menjadi tiga nama tenar yang mencuat dari skuat Ceko malam itu.

Dari kubu Spanyol, jumlah yang muncul lebih banyak lagi. Sebagian dari mereka seperti Ignasi Miquel dan Borja Baston akhirnya memang gagal memenuhi potensi besarnya. Namun, hal serupa tidak bisa dikatakan untuk Sergi Gomez, Ion Aurtenetxe, Ruben Pardo, Pablo Sarabia, Juanmi Garcia, Gerard Deulofeu, Alvaro Morata, Jonas Ramalho, serta Daniel Carvajal. Para pemain itu kini telah menjadi pesepak bola papan atas di negerinya.

Lakon kita pada cerita ini juga ada dalam skuat tersebut. Bahkan, dia adalah protagonis bagi La Furia Roja muda pada laga itu. Sampai 90 menit, Ceko dan Spanyol harus puas bermain imbang 1-1. Maka, perpanjangan waktu pun digelar. Celaka bagi Spanyol karena Patrik Lacha kemudian mencetak gol bagi Ceko di menit ke-97. Jika aturan gol emas masih diberlakukan kala itu, tamatlah perjuangan Spanyol.

Namun, terpujilah siapa pun yang kemudian menghapuskan aturan gol emas sekaligus memperkenalkan aturan gol perak. Sebab, hal terbaik pada laga itu baru terjadi ketika perpanjangan waktu sudah memasuki babak kedua.

Menit ke-108 dan 115, gawang Koubek koyak dua kali dan untuk dua gol tersebut hanya ada satu pencetak gol. Dia baru masuk di menit ke-54 untuk menggantikan Juanmi. Namun, dialah yang akhirnya menjadi pahlawan Spanyol. Dua gol dalam waktu tujuh menit. Itulah yang kemudian jadi sumbangsih tak terlupakan Francisco 'Paco' Alcacer untuk Timnas Spanyol U-19.

***

Delapan gol sudah dicetak Alcacer musim ini. Padahal, dia baru turun berlaga enam kali dan tidak semua laga itu dia lakoni sebagai starter. Menit bermainnya sejauh ini baru menyentuh angka 236. Itu artinya, per pertandingan, Alcacer turun 39 menit lebih sedikit. Dengan delapan golnya, maka Alcacer sudah sukses mencetak satu gol tiap 29,5 menit.

Ya, sehebat itulah Alcacer di awal musim 2018/19 ini. Mencetak dua gol dalam tempo tujuh menit, seperti yang dilakukannya di final Piala Eropa U-19 itu, rupanya hanyalah awal dari segala pencapaian yang diraih Alcacer saat ini. Delapan gol dari enam pertandingan itu baru catatannya di Bundesliga. Selain itu, dia juga sudah mengemas masing-masing satu gol di Liga Champions serta UEFA Nations League.

Musim panas lalu, Alcacer membuat sebuah langkah besar. Sebuah langkah yang membuatnya bebas dari belenggu yang sudah menjeratnya dalam dua musim sebelumnya. Dari kerasnya bangku cadangan Barcelona, Alcacer memilih untuk menyeberang ke Borussia Dortmund dengan status pinjaman. Kini, dia pun bisa merasakan lagi kerasnya pertandingan di atas rumput hijau.

Apa yang dilakukan Alcacer di Piala Eropa U-19 2011 itu adalah sebuah awal manis. Lahir dan besar di Torrent, 25 tahun silam, Alcacer merupakan produk asli akademi Valencia. Kala berlaga di turnamen 2011 itu dan pada turnamen 2012 di bawah asuhan Julen Lopetegui, Alcacer masih berstatus sebagai pemain Valencia B. Pasca-turnamen edisi 2012, barulah Alcacer dipromosikan Los Che ke tim senior.

Namun, Alcacer tidak bisa langsung bermain dengan tim senior. Kala itu, pada musim 2012/13, dia harus rela dipinjamkan dulu ke Getafe. Alcacer memang turun cukup sering pada musim itu. Namun, dari 20 penampilan, dia cuma bisa mengemas tiga gol. Bukan sebuah langkah yang mudah.

Striker Barcelona, Paco Alcacer. (Foto: REUTERS/Albert Gea)

Kisah hidup Alcacer memang penuh cobaan. Masa-masa peminjaman di Getafe yang sulit itu bahkan tidak ada apa-apanya ketimbang tragedi yang menimpanya setahun sebelumnya.

Meski baru secara resmi dipromosikan ke tim senior pada 2012, Alcacer sebenarnya sudah beberapa bermain untuk tim utama sejak masih berusia 17 tahun, atau pada tahun 2010. Pada 2011, tak lama setelah mengantarkan Spanyol U-19 juara di Rumania, Alcacer terllibat dalam sebuah pertandingan persahabatan menghadapi Roma di Mestalla.

Pada laga itu, Alcacer melakukan apa yang sebelumnya dia lakukan di Chiajna: Masuk dari bangku cadangan untuk mencetak gol. Satu gol dilesakkan Alcacer ke gawang Roma yang saat itu dilatih oleh Luis Enrique Martinez. Seusai laga, Alcacer yang berbahagia itu memilih untuk merayakan keberhasilan bersama keluarganya yang hadir di stadion.

Akan tetapi, saat hendak berjalan pulang, ayah Alcacer yang kala itu baru berusia 44 tahun tiba-tiba terkena serangan jantung. Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Sang ayah akhirnya tidak tertolong dan meninggal dunia di tepi sebuah jalan yang terletak di belakang Mestalla.

Tragedi itu adalah tragedi yang nantinya bakal membuat Alcacer jadi kesayangan para pendukung Valencia. Apalagi, setelah kembali dari masa peminjaman di Getafe, Alcacer moncer. Di musim pertama sebagai pemain senior Valencia, Alcacer turun dalam 34 pertandingan La Liga dan Liga Europa dengan torehan 13 gol serta 7 assist.

Di musim kedua, Alcacer kian menjadi. Apalagi, saat itu dia sudah tak lagi kudu bersaing dengan Jonas Goncalves. Alcacer menjadi striker utama Valencia dengan tampil sebanyak 32 kali di La Liga dan mencetak 11 gol serta 5 assist. Penampilan apik ini pun berlanjut ke musim berikutnya. Padahal, Valencia di musim 2015/16 itu harus mengalami masa-masa kelam.

Di tengah kemelut Valencia itu, Alcacer muncul sebagai secercah harapan dengan 13 gol dan 6 assist-nya di La Liga. Pada musim itu pula dia ditunjuk sebagai kapten tim oleh Gary Neville yang umur kepelatihannya cuma seumur jagung. Itulah titik puncak Alcacer sebagai pahlawan lokal Valencia.

Alcacer saat masih berseragam Valencia. (Foto: AFP/Gerard Julien)

Sayangnya, cerita indah itu berakhir pada musim berikutnya. Dengan banderol 30 juta euro, Barcelona mencomot Alcacer. Ketika pergi, Alcacer sempat mengeluhkan bahwa Valencia adalah klub yang tidak dijalankan dengan benar. Inilah yang akhirnya membuat dirinya dicerca habis oleh para suporter Valencia. Pada waktu itu, di mata para pendukung, Alcacer berhenti menjadi pahlawan mereka.

Kepindahan ke Barcelona yang tidak menyenangkan itu kemudian diikuti dengan masa-masa yang tak menyenangkan pula. Pada musim 2016/17, Alcacer hanya menjadi pilihan keempat di bawah Leo Messi, Neymar Jr., dan Luis Suarez. Alcacer pun lebih banyak mendekam di bangku cadangan.

Namun, seperti yang dituliskan Richard Fitzpatrick untuk Bleacher Report, masa-masa Alcacer di Barcelona ini tidaklah seburuk yang terlihat. Selama dua musim, Alcacer turun dalam 50 pertandingan dengan 22 di antaranya sebagai starter. Dari situasi itu, dia masih mampu mencetak 15 gol, termasuk satu gol di final Copa del Rey 2016/17.

Menurut seorang jurnalis Mundo Deportivo bernama Manuel Bruna, transfer Alcacer ke Barcelona itu hanya bisa dianggap gagal dari segi finansial. Sedangkan, dari aspek sepak bola, Alcacer masih layak untuk tidak mendapat vonis gagal sepenuhnya.

Akan tetapi, Alcacer memang harus pergi. Apalagi, Ernesto Valverde sama sekali tidak mempercayainya. Perbandingannya, di bawah Enrique pada musim 2016/17, Alcacer turun sampai 23 kali dan mencetak 6 gol plus 3 assist. Sementara, bersama Valverde, pemain satu ini hanya diberi kepercayaan 19 kali, meski dari sana dia tetap mampu mencatatkan 5 gol dan 3 assist.

Alcacer pergi dari Barcelona dengan membawa bekal cedera. Itulah mengapa, pada laga-laga awalnya bersama Dortmund, pelatih Lucien Favre hanya menurunkannya sebagai pengganti. Akan tetapi, itu tidak menghentikan laju kencang Alcacer. Di Westfalen, keran golnya benar-benar mengalir deras. Dalam empat pertandingan perdana, Alcacer hanya sekali bermain penuh ketika melawan Monaco dan dia tetap sanggup melesakkan tujuh gol.

Inilah yang kemudian membawa Alcacer kembali ke Timnas Spanyol level senior. Sebelum dipanggil Enrique pada Oktober lalu, terakhir kali Alcacer bermain untuk La Seleccion adalah pada 2016, sebelum dia hengkang ke Barcelona. Istimewanya, dalam laga Wales vs Spanyol itu, Alcacer lagi-lagi sukses mencetak gol. Begitu pun di laga selanjutnya manakala Spanyol ditaklukkan Inggris di Benito Vilamarin.

Setelahnya, laju Alcacer memang sempat tersendat di mana dia 'hanya' mencetak satu gol dalam tiga pertandingan Bundesliga dan Liga Champions. Namun, di laga keempatnya usai jeda internasional, Alcacer kembali mencatatkan nama di papan skor. Gol tersebut terasa semakin manis karena yang menjadi korban adalah Bayern Muenchen dalam Der Klassiker. Dortmund menang 3-2 pada laga itu walau sempat tertinggal dua gol lebih dulu.

***

Lalu, apa rahasia di balik ketajaman Alcacer itu? Well, sebenarnya sama sekali tidak ada rahasia apa-apa. Alcacer hanya butuh kesempatan. Sebagai seorang pemain, Alcacer memang bukan sosok yang paling jago dalam menggocek lawan atau mengeluarkan trik-trik ajaib, tetapi dia adalah juru gedor ulung. Beri Alcacer waktu dan tempat, maka gol akan datang dengan sendirinya.

Dalam sebuah wawancara singkat bersama Television Espanola yang dilansir Diario Sport, Alcacer menekankan pentingnya kepercayaan diri. Di Dortmund, dia merasa mendapat dukungan besar dari segenap elemen yang ada. Hal itulah yang tidak dia rasakan bersama Barcelona.

Dengan menjadi opsi keempat, secara otomatis kepercayaan diri Alcacer akan drop. Lalu, di musim kedua, kepercayaan yang diberikan padanya tetap minim walaupun Neymar akhirnya pergi. Hal-hal macam itulah yang akhirnya menghambat Alcacer di Barcelona.

Kendati begitu, Alcacer mengaku tidak menyesal pernah ke Barcelona. Pasalnya, di sana dia belajar banyak, khususnya dari Messi yang disebutnya pesepak bola terbaik dunia. Segala ilmu plus kesabaran Alcacer di Barcelona itu akhirnya baru dia tuai buahnya ketika telah berseragam Dortmund.

Dortmund sendiri merupakan ekosistem yang pas bagi Alcacer. Pertama, dia dilatih oleh Favre yang sebelumnya sudah pernah membangkitkan kembali karier Mario Balotelli di Nice. Striker seperti Alcacer, yang rajin bergerak, adalah striker kesayangan Favre yang pasti akan terpakai di timnya. Itu terbukti dengan bagaimana Alcacer terus mendapat kepercayaan walau cedera masih menghantui.

Lalu, alasan kedua adalah tim Dortmund saat ini, dengan tiga gelandang serang kreatif yang menyokongnya, adalah tim yang sangat pas bagi Alcacer. Secara khusus, Alcacer memberi kredit pada Marco Reus yang bermain sebagai pemain nomor sepuluh sekaligus kapten tim.

"Marco banyak membantuku beradaptasi baik di dalam maupun luar lapangan. Dia adalah salah satu alasan kenapa aku bahagia di sini. Dia adalah pemimpin kelas dunia. Aku sangat menghargai apa yang dia lakukan. Bermain dengannya sangatlah mudah. Tak cuma hebat dalam menyerang, dia juga rajin turun ke belakang membantu pertahanan," kata Alcacer soal Reus seperti diwartakan situs resmi Bundesliga.

Apa yang dirasakan Alcacer ini tidak bertepuk sebelah tangan. Sebab, Reus sendiri merasa senang bisa membantu rekan barunya tersebut. "Dia sedang rajin mencetak gol sekarang dan aku berharap itu berlanjut terus," kata Reus, juga kepada situs resmi Bundesliga. "Dia selalu bekerja keras dan benar-benar mematikan di depan gawang. Kalian bisa lihat sendiri kepercayaan dirinya sedang tinggi-tingginya."

Akhir kata, bukan kebetulan jika Alcacer berhasil di Dortmund. Pada dasarnya, dia memang penyerang berkualitas. Lalu, dia juga punya ilmu segudang dengan berlatih dan bermain bersama Messi cs. Alcacer pun kini menemukan kepercayaan diri baru dengan sokongan pelatih serta kapten Dortmund, tim yang gaya bermainnya cocok dengan karakternya.

Jadi, memang tidak ada rahasia di balik sinar Alcacer untuk Dortmund. Memang, semua itu butuh penjelasan, tetapi apa yang dialami sang penyerang sebenarnya bisa dilacak dari kisah hidupnya. Kini, Alcacer telah menemukan tempat terbaik dan rasanya, tak ada alasan untuk mengatakan bahwa bulan madu ini bakal berakhir cepat.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60