Pencarian populer

Menimbang-nimbang Kado Natal Apa yang Pantas untuk Man United

Hiasan Natal di Stadion Old Trafford. (Foto: Alex Livesey/Getty Images)

Enam puluh juta dolar. Itulah jumlah uang yang diterima Mariah Carey hanya dari royalti lagu 'All I Want for Christmas Is You' rilisan 1994. Ada banyak hal yang bisa menjelaskan mengapa lagu tersebut bisa begitu laku. Akan tetapi, rasanya tak ada yang bisa mengalahkan ini: Yakni, bahwa masa-masa Natal sebenarnya adalah masa-masa penuh kegalauan.

Citra Natal yang dibentuk oleh media adalah soal cinta, kebahagiaan, dan keluarga. Tengok saja film-film televisi rilisan Lifetime dan Hallmark Channel kalau tidak percaya. Bahkan, Netflix pun sekarang sudah ikut-ikutan bermain di genre spesial ini. Isinya semua sama dan harus diakui, Natal memang idealnya seperti itu: Penuh cinta, penuh kebahagiaan, dan dihabiskan bersama keluarga atau orang terkasih.

Kenyataannya, film-film dan lagu Carey tadi tidak diciptakan untuk sekadar mengajari mana yang ideal dan mana yang tidak. Lebih dari itu, produk-produk budaya pop itu semua diproduksi untuk mengisi relung hati mereka yang papa, yang kesepian, dan tak tahu harus berbuat apa saat Natal tiba. Kesedihan adalah kunci mengapa narasi cinta-cintaan tadi bisa laku keras. Toh, tak ada yang lebih menyenangkan selain menabur garam di atas luka.

Kegalauan itulah yang kini sedang dihadapi Manchester United. Jika diibaratkan manusia, maka United adalah orang yang terlambat dewasa. Sejak kecil dia dimanja oleh orang tuanya. Si orang tua itu memang galaknya setengah mampus, tetapi semua yang dia perbuat adalah untuk kebaikan si anak. Tak heran jika United bisa 'jadi orang'.

Setelah orang tuanya pergi, United kebingungan. Duit, sih, mereka punya. Bahkan, jumlahnya terus bertambah. Masalahnya, duit ini tidak bisa mereka konversi menjadi sesuatu yang mendatangkan kebahagiaan. Oke, mereka memang masih bisa mendapatkan gelar, tetapi itu semua tidak dibarengi dengan cara bermain yang menjanjikan.

Padahal, seperti halnya hidup, sepak bola adalah urusan membangun masa depan. Di masa kini United memang masih bisa bertahan. Tetapi, dengan permainan yang tidak menjanjikan tadi, gelar pun bakal semakin sulit didapatkan. Kalau gelar makin sulit didapat, penggemar akan hilang, duit pun lenyap. Logika gampangnya kira-kira seperti itu.

Natal sudah semakin dekat. Dengan situasinya saat ini, United takkan bisa melenyapkan kegalauan itu hanya dengan mendengarkan 'All I Want for Christmas Is You' atau maraton film-film romantis di Lifetime dan Hallmark. Lebih dari itu, United butuh kado-kado yang menyenangkan dari Sinterklas. Lalu, apa saja kado yang mereka butuhkan itu?

Pertama, akal sehat. Tanpa akal sehat, Manchester United bakal terus melakukan hal-hal yang nantinya bakal membuat mereka menyesal.

CEO Man. United, Ed Woodward. (Foto: AFP/Oli Scarff)

Pada prinsipnya, United perlu akal sehat untuk menyadari bahwa mereka kini tak lagi spesial. Mereka memang kaya raya, tetapi duit saja tidak cukup. Mereka butuh rencana, butuh ide, butuh filosofi, dan butuh orang-orang yang bisa mengeksekusi semua hal abstrak tadi jadi sesuatu yang konkret.

Supaya Alex Ferguson tidak terus-terusan mesem sambil berkata 'Piye kabare? Penak jamanku, tho?', United harus mengulangi segalanya dari nol. Semua perlu ditata ulang. Mau dibawa ke mana klub ini? Mau bermain seperti apa mereka? Apa targetnya? Semua harus dirinci ulang dan disepakati bersama. Namun, tanpa keberadaan akal sehat, itu bakal mustahil dilakukan. Oleh karenanya, akal sehat adalah kado paling penting yang wajib masuk wishlist mereka.

Kedua, amarah suporter. Masih ingat ketika suporter Arsenal bedemonstrasi menuntut Arsene Wenger mundur? Well, itulah yang dibutuhkan oleh Manchester United. Namun, dalam hal ini bukan cuma Jose Mourinho yang harus disuruh mundur, tetapi semua orang yang sudah terbukti tidak becus menangani klub seperti Ed Woodward serta Glazer bersaudara.

Capaian Manchester United, untuk ukuran klub sebesar mereka, musim ini betul-betul mengenaskan. Di Premier League, mereka duduk di urutan enam dan sampai pekan ke-15 lalu selisih gol mereka berada di angka -1. Di Liga Champions, United juga angin-anginan. Berharap untuk meraih gelar adalah hal terlarang bagi para suporter.

Romelu Lukaku (tengah) berupaya merebut bola dari penguasaan bek lawan. (Foto: JOSE JORDAN/AFP)

Di sinilah para suporter harus bergerak. Sebagai fans Manchester United, larangan untuk berharap adalah sebuah pelanggaran hak asasi. Di bawah Ferguson, United secara otomatis bakal jadi unggulan di semua ajang yang mereka ikuti. Namun, sekarang situasinya lain.

Saat ini prestasi memang seperti dinomorduakan. Bagi Woodward dan Glazer bersaudara, yang terpenting adalah bagaimana caranya menggemukkan pundi-pundi uang mereka. Habis mau bagaimana lagi? Mereka juga tak punya pilihan karena utang United pun menumpuk.

Oleh karena itu, selain melakukan protes, para suporter seharusnya juga memboikot pertandingan-pertandingan United. Tujuannya, agar mereka yang melihat Manchester United cuma sebagai lumbung duit bisa segera angkat kaki. Harapannya, tentu saja, agar kemudian datang orang-orang yang betul-betul peduli akan prestasi di atas lapangan, bukan cuma di lembaran majalah Forbes.

Ketiga, lampu ajaib berisi jin pengabul permintaan. Nah, kado ini memang tidak mudah dikabulkan karena bisa jadi Sinterklas sendiri bingung harus mencari lampu ini di mana. Menurut sahibul hikayat, sejak digunakan oleh Aladdin pada masa kekhalifahan Harun Al-Rasyid, lampu ini belum lagi terlihat oleh siapa pun.

Film animasi 'Aladdin' (Foto: Facebook @DisneyAladdin)

Namun, tak ada salahnya memasukkan ini ke dalam wishlist. Sebab, walaupun lampu ajaib ini merupakan barang mistis, kado berupa akal sehat dan amarah dari fans konon lebih sulit terkabul. Maka, tak ada salahnya United berharap pada Deus Ex Machina yang satu ini.

Selama ini, di lapangan, mereka sudah berulang kali bergantung pada doa Salam Maria untuk memenangi pertandingan. Ketika Mourinho memasukkan Marouane Fellaini, itu artinya United sudah berhenti berikhtiar dan sudah memasuki tahap tawakkal. Secara general, tak cuma di lapangan saja, barangkali yang diperlukan United saat ini adalah sebuah keajaiban.

Yang kemudian menjadi masalah adalah apabila lampu ini nantinya digunakan oleh orang-orang seperti Woodward dan Glazer untuk kepentingan-kepentingan yang selama ini mereka kejar, bukan untuk kepentingan Manchester United sebagai klub sepak bola. Jadi, ya, memang serba salah. Di satu sisi United butuh keajaiban agar ada jalan pintas yang bisa mereka tempuh, tetapi akan lebih berabe lagi seandainya jalan pintas itu cuma digunakan untuk mengeruk duit, alih-alih meraih trofi.

Maka dari itu, kesimpulan dari semua ini adalah Manchester United sebaiknya mempertimbangkan untuk meninggalkan sepak bola saja sepenuhnya dan berubah menjadi koperasi. Rasa-rasanya, inilah yang paling realistis bagi mereka.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23