Moise Kean dan Mukjizat yang Terus Dirawat

26 Maret 2019 14:20 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Moise Kean pada pertandingan antara Italia dan Finlandia. Foto: AFP/Andreas Solaro
zoom-in-whitePerbesar
Moise Kean pada pertandingan antara Italia dan Finlandia. Foto: AFP/Andreas Solaro
ADVERTISEMENT
Akhir November 2016, di Estadio Ramon Sanchez Pizjuan yang disesaki puluhan ribu manusia itu, sejarah tercipta. Pertandingan antara tuan rumah Sevilla dan Juventus sudah memasuki menit-menit penghabisan ketika seorang remaja diminta untuk melakukan pemanasan. Tidak lama pemanasan itu dilakukan, hanya beberapa menit. Setelah itu, remaja itu pun berjalan menuju tempat wasit keempat berada.
ADVERTISEMENT
Isyarat kemudian diberikan. Di papan elektronik yang diangkat sang wasit keempat, tertera dua angka berbeda. Angka 5 terpampang dengan warna merah. Di sebelahnya, ada angka 34 yang ditampilkan dengan warna hijau. Isyarat itu diberikan kepada para pemain tim tamu. Miralem Pjanic yang mengenakan kostum nomor 5 diminta keluar untuk memberikan tempat kepada si pemain bernomor 34, Moise Bioty Kean.
Dan dengan begitulah sejarah tercipta. Pada laga melawan Sevilla yang dimenangi Juventus 3-1 tersebut, Kean yang belum genap 17 tahun —16 tahun dan 267 hari tepatnya— menjadi pemain kelahiran abad ke-21 pertama yang tampil di Liga Champions.
Beberapa hari sebelumnya, pada pertandingan melawan Pescara yang dimenangi Juventus 3-0, Kean sudah menjalani debut Serie A yang membuatnya jadi pemain kelahiran tahun 2000 pertama yang bermain di empat liga top Eropa —Inggris, Spanyol, Jerman, dan Italia.
ADVERTISEMENT
Tidak ada gol atau assist yang diciptakan Kean dalam dua pertandingan tersebut. Akan tetapi, satu hal yang perlu dicamkan baik-baik adalah Kean bermain untuk Juventus. Di tim seperti Juventus, bisa bermain saja sudah merupakan prestasi luar biasa, khususnya bagi seorang bocah berusia 16 tahun.
Melaju ke 2019, gaung nama Kean semakin kencang terdengar. Wajar, karena sensasi belum berhenti dia torehkan. Yang teranyar, dia berhasil mencetak satu gol saat Timnas Italia mengandaskan perlawanan Finlandia dengan skor 2-0, Minggu (24/3/2019) dini hari WIB. Itu berarti, Kean yang sudah melakoni debut bersama Timnas Italia pada laga uji tanding melawan Amerika Serikat, November 2018 lalu, berhasil mencetak gol pada pertandingan kompetitif pertamanya di level internasional.
ADVERTISEMENT
Moise Kean merayakan gol pertamanya untuk Timnas Italia. Foto: REUTERS/Jennifer Lorenzini
Tak lama sebelum itu, tepatnya pada 9 Maret 2019 di pertandingan menghadapi Udinese, Kean juga sudah mencuri perhatian. Dalam laga itu pelatih Juventus, Massimiliano Allegri, sengaja melakukan rotasi besar-besaran supaya para pemain kunci fit saat berhadapan dengan Atletico Madrid di Liga Champions.
Kean ketika itu menjadi starter di Serie A untuk pertama kalinya musim ini dan kesempatan tersebut tak dia sia-siakan. Dua gol, ditambah satu aksi yang berujung pada gol penalti Emre Can, berhasil dia persembahkan untuk 'Si Nyonya Tua'.
Rentetan penampilan gemilang itulah yang kemudian makin melambungkan nama Kean. Dia dianggap sebagai bintang masa depan, baik bagi Juventus maupun Timnas Italia. Optimisme publik sepak bola Italia itu pun disambut Kean dengan sebuah janji yang diucapkannya dengan penuh percaya diri.
ADVERTISEMENT
"Aku selalu mencoba mempersiapkan diri dan berlatih secara teratur sehingga siap saat waktunya datang. Tentu aku merasa lebih dari gembira. Aku menggunakan gol itu untuk memotivasi agar bekerja lebih keras. Ada banyak rekor yang bisa kupecahkan dan aku ingin mewujudkannya," kata Kean.
***
Ketika Kean menjalani pertandingan menghadapi Pescara dan Sevilla tadi, meskipun masih berusia 16 tahun, dia sudah berstatus sebagai pemain profesional. Di usia demikian, seorang pemain harus mendapatkan restu dari orang tuanya untuk menandatangani kontrak. Juventus pun ketika itu menghubungi Biorou dan Isabelle, ayah dan ibu Kean, supaya bisa mengikat sang pemain muda.
Moise Kean bermain melawan Juventus saat dipinjamkan ke Verona. Foto: AFP/Alberto Pizzoli
Kontrak akhirnya diteken. Namun, bukan berarti kemudian semua masalah beres begitu saja. Pada Juni 2017, kurang lebih setahun setelah Kean menandatangani kontrak, sang ayah membeberkan fakta tentang sebuah janji yang alpa dipenuhi oleh Juventus.
ADVERTISEMENT
"Juventus menawarkan kontrak €700.000 per tahun dan itu angka yang bagus. Namun, masalahnya mereka juga berjanji akan memberiku traktor untuk mengurusi bisnis pertanianku di Pantai Gading, tetapi sekarang mereka bilang dananya tidak ada. Aku memang meminta mesin pertanian ke mereka dan ketika itu mereka bilang tidak ada masalah, tetapi sekarang situasinya berubah," kata Biorou ketika itu.
Alpanya pemenuhan janji itu akhirnya tidak jadi masalah berkepanjangan karena Kean sendiri tidak pernah berkata apa-apa soal itu. Kean memilih untuk fokus kepada pengembangan kariernya di Juventus dan atas alasan itulah dia kemudian rela dipinjamkan ke Hellas Verona —di mana dia mencetak 4 gol dalam 20 laga— pada musim 2017/18.
Kean lahir di Vercelli, sebuah kota kecil di dekat Turin, pada 28 Februari 2000. Sang ibu, Isabelle, yang sudah tinggal di Italia sejak 1990 menuturkan kepada Tuttosport —harian olahraga yang berbasis di Turin— bahwa putra bungsunya itu merupakan bukti eksistensi mukjizat Tuhan.
ADVERTISEMENT
"Kalian tahu kenapa dia dipanggil Mose di rumah? Karena kelahirannya adalah wujud mukjizat. Para dokter bilang aku sudah tidak mungkin punya anak. Aku kemudian menangis dan cuma bisa berdoa. Giovanni —kakak Kean yang lahir pada 1993— juga meminta seorang adik. Suatu malam aku memimpikan Nabi Musa. Dia datang untuk membantuku dan empat bulan kemudian aku hamil," kenang Isabelle.
Moise Kean mencetak gol pada pertandingan Coppa Italia melawan Bologna. Foto: AFP/Tiziana Fabi
Bagi Kean kecil, hidup tidak selalu mudah, terutama sejak sang ayah kembali ke Pantai Gading. Untuk memenuhi kebutuhan dua putranya, Isabelle yang bekerja sebagai perawat itu kerapkali harus mengambil dua shift. Namun, seperti yang dituturkan Isabelle sendiri, keberhasilan Kean menjadi pesepak bola profesional membuat segalanya jadi lebih mudah.
"Suatu hari dia meneleponku pukul 05:30 pagi. Saat itu aku sedang bersiap-siap untuk bekerja di Nizza Monferrato. Aku takut, kupikir dia kenapa-kenapa. Tapi, dia kemudian berkata, 'Bu, aku punya kejutan.' Aku menjawab, 'Jangan bilang kamu enggak jadi teken kontrak sama Juve'," tutur Isabelle.
ADVERTISEMENT
"Dia bilang, 'Enggak, kok, ibu. Aku sudah tanda tangan. Ibu enggak perlu bekerja lagi dan sekarang bisa hidup denganku di Turin.' Kesuksesan Moise itu membayar lunas semua pengorbanan yang kulakukan di masa lalu," tambahnya.
***
Kean sudah menunjukkan bakat bermain sepak bola sejak masih kanak-kanak. Di usia 7 tahun, bakat Kean itu ditemukan oleh Renato Biasi —mantan kiper Torino era 1980-an— yang kemudian memasukkannya ke akademi Asti. Kean tak lama menghabiskan waktu di Asti karena di tahun yang sama Biasi menawarkannya ke akademi Torino. Jadilah kemudian Kean masuk ke sistem akademi elite Italia.
Tiga tahun di Torino, Kean kemudian hengkang ke akademi Juventus. Menurut aturan, sampai berusia 14 tahun, kontrak seorang pemain junior hanya berdurasi satu tahun dan harus diperbarui setiap tahunnya. Pada 2010, alih-alih memperpanjang masa belajar di Torino, Kean memilih untuk menimba ilmu bersama Juventus.
ADVERTISEMENT
Moise Kean dalam laga debut bersama Juventus. Foto: AFP/Marco Bertorello
Di tim junior, kemampuan Kean langsung terlihat menonjol. Kecepatan dan kekuatan, dua hal yang jadi pembeda di sepak bola usia muda, sudah secara natural dimiliki olehnya. Tubuh Kean kecil pun sudah lebih atletis ketimbang rekan-rekan seusianya. Tak heran jika perjalanan Kean ke tim senior jadi jauh lebih singkat. Enam tahun setelah masuk ke akademi Juventus, Kean sudah dikontrak secara profesional.
Setelah mentas dari akademi, Kean pun jadi penyerang dengan kemampuan komplet. Tak sekadar kuat dan cepat, Kean kini juga memiliki kecerdasan dalam bergerak dan insting mencetak gol yang terasah dengan baik. Lalu, jangan lupakan pula teknik olah bola yang membuatnya bisa dimainkan di sektor sayap seperti pada pertandingan Italia versus Finlandia itu.
ADVERTISEMENT
Selama tiga tahun menjadi pemain profesional, Kean sudah bermain sebanyak 26 kali di Serie A, masing-masing sekali di Coppa Italia dan Supercoppa Italiana, serta 2 kali di Liga Champions. Dari sana, dia sudah melesakkan 7 gol baik untuk Juventus maupun Verona. Capaian itu membawanya ke Timnas Italia yang tengah melakoni regenerasi di bawah Roberto Mancini. Satu gol dari dua pertandingan jadi catatan Kean sejauh ini bersama Lo Nazionale.
***
Di usia yang baru menginjak angka 19, masa depan Kean di dunia sepak bola jelas masih sangat panjang. Namun, dia beruntung karena berada di lingkungan yang tepat. Juventus saat ini memiliki sosok Cristiano Ronaldo yang bisa jadi panutan dalam urusan membangun karier gemilang di sepak bola. Kean sendiri mengaku banyak belajar dari seniornya tersebut.
ADVERTISEMENT
"Aku bisa belajar banyak dari Ronaldo. Aku hanya mencoba mempersiapkan diri lewat latihan demi latihan. Seperti yang kubilang baru-baru ini, ada banyak rekor yang bisa kupecahkan dan aku siap melakukannya," tutur Kean.
Belajar dari Ronaldo sesungguhnya tidaklah mudah karena etos kerja pemain asal Portugal itu nyaris tiada duanya. Berlatih, berlatih, dan berlatih adalah kuncinya. Jika di usianya yang sekarang Kean sudah menyadari itu, artinya dia sudah berada di trek yang tepat. Meski demikian, satu hal yang tidak layak ditiru Kean dari Ronaldo adalah bagaimana memperlakukan wanita.
Yang kini menjadi problem bagi Kean adalah menit bermain. Berlatih memang sudah jadi kewajiban bagi seorang pemain, tetapi untuk apa berlatih jika jam terbang terus berada di ambang batas minimal? Oleh karena itu, agar talentanya tak terbuang di tempat latihan, Kean bisa mempertimbangkan untuk pergi dari Juventus walau hanya sementara. Untuk mewujudkan itu, dia bisa meminta bantuan sang agen, Mino Raiola, yang selama ini dikenal piawai memuluskan karier pemain-pemain yang dia tangani.
ADVERTISEMENT
Namun, pergi dari Juventus hanyalah satu opsi. Opsi lainnya tentu saja bertahan di Turin dan mencoba mencuri hati Allegri. Ini bukan persoalan mudah, tetapi bukan pula kemustahilan. Apalagi, Kean sudah mendapat nasihat dari ibunya sendiri yang jadi sebuah indikasi bahwa bertahan di Juventus sesungguhnya bisa jadi pilihan terbaik.
"Kuucapkan terima kasih kepada Presiden [Andrea] Agnelli. Aku menyerahkan bocah laki-lakiku kepadanya dan dia mengubahnya jadi seorang pria. Aku bilang kepada Moise untuk mempertahankan apa yang sudah dia lakukan. Dia harus selalu mendengar apa kata pelatih dan rekan-rekan setim yang lebih tua," ujar Isabelle.
Hal itu, ditambah dengan makin besarnya kepercayaan Allegri, bisa menjadi cambuk bagi Kean untuk terus memperjuangkan tempat di Juventus. Sebagai catatan, usai membobol gawang Udinese, Kean juga dimainkan Allegri pada laga melawan Atletico. Kean tampil sebagai pemain pengganti dan mampu mendapat satu peluang emas di mana tembakannya melebar tipis di samping gawang Jan Oblak.
ADVERTISEMENT
Juventus sendiri saat ini sudah nyaman di puncak klasemen Serie A. Dengan kata lain, seharusnya kesempatan bermain bagi Kean pun bakal kian terbuka lebar. Dengan semakin menuanya Mario Mandzukic, bukan tidak mungkin dalam waktu dekat Kean bakal jadi tumpuan baru La Vecchia Signora di lini depan. Hal itu, tentu saja, akan membuat tempatnya di Timnas Italia semakin sulit tergantikan.