Pencarian populer

Taktik Defensif, Biang Blunder Prabowo

Ilustrasi Lipsus kumparan: Siapa Bikin Blunder di Debat Capres. Foto: Herun Ricky/kumparan

Alih-alih merespons serangan Sandiaga yang berpura-pura jadi Jokowi selama latihan debat, Prabowo kerap berkelakar, membuat Sandi mengelus dada.

Unicorn bikin repot. Jagat maya langsung riuh hanya gara-gara Prabowo bertanya balik ke Jokowi soal unicorn—“Yang Bapak maksud unicorn? Unicorn, maksudnya yang apa itu... yang online-online itu. Iya Pak, itu?”

Prabowo tak pelak dinilai kurang antisipatif dalam debat capres kedua. “Prabowo terlihat banyak confused, tidak cukup menguasai masalah yang diperdebatkan, tidak masuk ke wilayah yang cukup detail. Ia menyentuh masalah dengan banyak retorika besar,” ujar Sirojudin Abbas, Direktur Program Saiful Mujani Research & Consulting, lembaga riset dan konsultansi politik.

“Kalau tidak ditangani dengan baik, isu unicorn ini potensial menggerus suara milenial (yang berpotensi masuk) ke Prabowo,” kata analis media sosial, Ismail Fahmi, dalam rangkaian analisisnya berdasarkan data Drone Emprit, sehari sesudah debat, Senin (18/2).

Anggota Dewan Pakar Ekonomi Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Dradjad Wibowo, mengakui Prabowo kurang banyak menyajikan data. Padahal, ujarnya, pemaparan data diperlukan untuk menunjukkan kepada publik bahwa Prabowo paham ragam persoalan, sehingga ia punya kebijakan alternatif kredibel jika terpilih menjadi presiden menggantikan Jokowi.

“Menurut saya, mungkin Pak Prabowo harus bisa masuk ke level kolonel, tidak hanya level jenderal. Masuk level kolonel untuk bisa menjelaskan rincian dalam menjalankan dan mengegolkan perintah. Harus lebih rinci sedikitlah,” ujar Dradjad.

Walau begitu, politikus PAN itu memuji Prabowo yang berperangai kalem sepanjang debat. Menurutnya, itulah sisi lain seorang Prabowo yang memang ingin ditampilkan kepada khalayak.

Prabowo Subianto saat Debat Capres 2019 putaran kedua di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Sejak menggelar simulasi debat bersama timnya, Prabowo memang kalem betul, malah banyak membanyol alih-alih tegang. Beberapa jam menjelang debat capres hari Minggu itu (17/2), kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, berhias gelak tawa.

Si empunya rumah kerap berkelakar saat berlatih debat. Ia melemparkan jokes yang mengundang tawa para anggota tim sukses yang mendampinginya berlatih.

“Jokowi itu enggak gitu, tapi kayak gini,” kata Prabowo kepada cawapresnya, Sandiaga Uno, yang tengah berperan sebagai Jokowi jadi-jadian.

Bukannya merespons serangan fiktif yang dilontarkan Sandi yang sedang berpura-pura jadi Jokowi, Prabowo justru mengkritik logat dan gestur Sandi yang ia nilai kurang sempurna dalam mengimitasi Jokowi. Pendeknya, Prabowo salfok alias salah fokus.

“Gini lho, San,” ujar Prabowo, mengambil alih singkat peran Jokowi dari Sandi. Ia lantas menirukan gaya bicara Jokowi, dan meminta Sandi mengikuti cara bertutur itu.

Sandi hanya bisa tertawa sambil mengelus dada melihat Prabowo menirukan Jokowi. Kemampuan mimikri Prabowo itu, menurut Sandi, tak banyak diketahui orang.

“Dia itu bisa mimicking (meniru) setiap orang yang dia temui. Dia bisa tiru suara-suaranya, aksennya. Pas saya niruin Pak Presiden Jokowi, itu dia benerin juga. Dia bisa niruin semuanya,” kata Sandi kepada kumparan.

Melihat tingkah Prabowo, sontak para anggota tim pemenangan terbahak. Di sekeliling Prabowo saat itu, selain Sandi, hadir antara lain Dradjad Wibowo dan Direktur Materi dan Debat BPN Sudirman Said.

Mereka mendampingi Prabowo berlatih dalam beberapa sesi, misal sesi simulasi debat yang penuh tawa, dan sesi pendalaman materi ketika Prabowo banyak berdiskusi soal substansi materi dengan para anggota timnya.

Untuk sesi simulasi debat, Sandi pegang peran utama sebagai Jokowi jadi-jadian. Tak heran ia sering melontarkan pertanyaan bernada menyerang kepada Prabowo. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah masuk dalam skenario yang disiapkan timses mereka.

Namun Prabowo sepanjang dua jam latihan itu, tak mau meladeni serangan Sandi. Ia menerapkan strategi defensif—yang ia bawa hingga acara debat sungguhan.

Prabowo Subianto dipijat cawapresnya, Sandiaga Uno, saat jeda Debat Pertama Capres & Cawapres 2019. Foto: Antara/Sigid Kurniawan

“Beberapa kali saya coba sudutkan, tapi dia (Prabowo) sama sekali enggak mau menyerang. Malah dia bilang, jangan (menyerang),” kata Sandi.

Ia bercerita, tim simulasi debat sempat mengusulkan kepada Prabowo untuk menerapkan strategi taktis—defensif tapi juga ofensif. Maksudnya, mari menyerang balik saat diserang demi membalikkan situasi. Tapi gagasan itu dimentahkan Prabowo.

Prabowo justru sejak awal berniat membiarkan Jokowi menyerangnya sesuka hati.

“Strategi beliau mungkin membiarkan Presiden melakukan serangan-serangan. Dia mau lebih kalem. Beliau bilang, masyarakat juga mengerti kok apa yang mereka inginkan,” ujar Sandi.

Benar saja, saat debat berlangsung, Jokowi beberapa kali memojokkan Prabowo. Satu hal yang paling memicu polemik adalah perkara ratusan ribu hektare lahan yang dikuasai Prabowo di Kalimantan Timur dan Aceh Tengah. Tapi Prabowo tak terlihat kesal.

Mantan Danjen Kopassus mengatakan, lahan tersebut merupakan hibah pemerintah, dan ia menguasai lahan tersebut dengan status Hak Guna Usaha (HGU).

“Saya ingin minta izin, (tadi) disinggung tanah yang katanya saya kuasai ratusan ribu (hektare) dari beberapa tempat, itu benar. Tapi itu adalah HGU, itu milik negara. Jadi setiap saat negara bisa ambil kembali, dan kalau untuk negara saya rela mengembalikan itu semua. Tapi daripada jatuh ke tangan asing, lebih baik saya kelola karena saya nasionalis,” kata Prabowo tenang dalam pidato penutupan debat.

Dua hari kemudian, Selasa (19/2), Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan lahan 220 ribu hektare di Kaltim diambil alih Prabowo senilai US$ 150 juta dari perusahaan yang mengalami kredit macet, dan JK selaku wakil presidenlah yang memperbolehkan Prabowo mengelola lahan tersebut.

“Pak Prabowo menguasai (lahan itu), tapi sesuai UU, sesuai aturan, apa yang salah? Kebetulan waktu itu saya yang kasih (izin) itu. Saya bilang ‘You beli tapi cash, tidak boleh utang.’ ‘Siap,’ (katanya) dia akan beli dengan cash. Dia belilah itu, jadi itu hak (Prabowo). Itu kredit macet, diambil alih oleh Bank Mandiri, kemudian saya minta Agus Martowardojo (Dirut Mandiri saat itu) untuk memberikan kepada pribumi supaya jangan jatuh ke luar negeri—ke Singapura,” jelas JK.

Prabowo Subianto saat Debat Capres 2019 putaran kedua di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Prabowo bukan cuma santai saat debat. Ketua Umum Gerindra itu bahkan tercatat melontarkan pujian sampai lima kali kepada Jokowi sang rival.

Pujian pertama terucap di segmen pertama, saat pembacaan visi dan misi. Prabowo menilai masalah yang mendera Indonesia bukan kesalahan pemimpinnya, melainkan kesalahan semua pihak sebagai sebuah bangsa.

Pujian kedua terlontar pada segmen kedua. Prabowo memuji Jokowi yang telah membangun infrastruktur, meski pembangunan itu ia nilai kurang efisien.

Masih di segmen kedua, Prabowo menyebut paparan Jokowi soal produksi sawit Indonesia yang mencapai 46 juta ton per tahun perlu diapresiasi.

Joko Widodo dan Prabowo Subianto berjabat tangan usai Debat Capres 2019 putaran kedua di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu, (17/2). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Dradjad Wibowo mengatakan, Prabowo memang ingin tampil kalem. Sebab, di mata Prabowo, debat bukan hanya soal penguasaan materi, tapi juga perkara menunjukkan sosok Prabowo di hadapan masyarakat. Ini termasuk untuk mengubah persepsi terkait sosok Prabowo yang selama ini disebut seram dan arogan oleh sebagian orang.

Maka, penampilan rileks dan tak ofensif diharapkan dapat menggalang suara dari pemilih yang masih ragu (undecided voters) untuk beralih ke Prabowo.

“Itu (image sangar) kan menjadi hambatan bagi seseorang untuk memilih dia. (Sekarang) dia terlihat rileks,” ujar Dradjad.

Sementara pujian Prabowo untuk Jokowi dianggap Sudirman Said sebagai bentuk sportivitas.

“Itulah Pak Prabowo. Seorang gentleman, perwira yang punya sikap kesatria. Ketika orang lain bagus, beliau bilang bagus. Tapi tidak kehilangan pesan bahwa beliau datang ke kompetisi politik ini dengan niat memperbaiki keadaan,” ujar Sudirman yang sempat membantu Jokowi di Kabinet Kerja sebagai Menteri ESDM.

Meski demikian, Sirojudin Abbas justru menilai strategi Prabowo jadi blunder. “Memuji kebijakan Pak Jokowi itu artinya tidak punya alternatif kebijakan yang lebih baik dari Pak Jokowi. Ini bisa menurunkan kepercayaan dari pemilihnya. Dalam data kami (SMRC), masih ada sekitar 5-6 persen, baik pemilih Pak Jokowi dan Pak Prabowo, yang kemungkinan masih bisa mengubah pilihannya (swing voters).

Dradjad Wibowo. Foto: Dok. Agung Wibowo/medcom.id

Dradjad menggarisbawahi kesulitan Prabowo untuk menjelaskan detail soal implementasi rancangan kebijakannya bila kelak terpilih sebagai presiden. Masalah ini, kata Dradjad, lebih karena durasi bicara yang terbatas dalam debat.

Prabowo sukar memaparkan materi yang padat dalam waktu singkat. Apalagi, ia biasa bicara berjam-jam dengan substansi banyak dan beranak pinak. Padahal, waktu untuk menjawab pertanyaan lawan dalam debat pilpres hanya dua menit, dan untuk menyampaikan visi-misi cukup tiga menit.

“Pak, kita ini cuma punya waktu tiga menit. Enggak bisa kalau Bapak begitu (melontarkan semua ide). Nanti bisa satu setengah jam sendiri,” kata Sandi kepada Prabowo dengan cemas saat simulasi.

Tiga Alpa Prabowo-Jokowi pada Debat Capres. Foto: Putri Sarah Arifira/kumparan

Segala kekurangan Prabowo bakal dibenahi dalam debat berikutnya. “Yang perlu diperbaiki ke depan adalah menambah beberapa data dalam presentasi beliau. Data-data yang krusial, yang jadi kunci. Kemudian juga perlu menekankan langkah-langkah (yang jadi rencana) Prabowo-Sandi ketimbang (pemerintahan) saat ini,” tutur Dradjad.

Perbaikan materi bukannya tak bisa dilakukan. Apalagi Prabowo sesungguhnya didukung kumpulan pakar dari kalangan profesional, akademisi, hingga pengusaha. Sebut saja mantan Menko Ekuin Kwik Kian Gie, mantan staf khusus Menteri ESDM Said Didu, Direktur Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa, pakar perumahan Marco Kusuma, ahli hukum lingkungan Irvan Pulungan, ekonom Ichsanuddin Noorsy, pakar pangan Rachmat Pambudi, ahli kelautan Profesor Laode Kamaluddin, dan mantan dirjen Kementan Endang Thohari.

Pak Prabowo harus bisa masuk ke level kolonel, tidak hanya level jenderal. Masuk level kolonel untuk bisa menjelaskan rincian dalam menjalankan dan mengegolkan perintah. Harus lebih rinci sedikit.

—Dradjad Wibowo

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: