kumparan
KONTEN PUBLISHER
30 Desember 2019 20:42

Video: Membuat 'Memek', Makanan Khas Simeulue, Aceh

Masyarakat Kabupaten Simeulue, kepulauan di Aceh yang berbatas langsung Samudera Hindia, punya penganan dengan nama sungguh unik, ‘Memek’. Makanan ini mudah ditemui sebagai takjil berbuka puasa, maupun hidangan saat menjamu tamu.
ADVERTISEMENT
Makanan khas Simeulue ini juga sempat membuat heboh pengguna dunia maya pada bulan Oktober 2019 lalu. Kehebohan itu terjadi saat penganan bernama Memek mendapat sertifikat resmi menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia, Selasa malam (8/10).
Karena namanya yang unik, banyak wisatawan yang berkunjung ke Simeulue jadi penasaran dan ingin mencobanya. Begitu juga saat acehkini berkunjung ke Simeulue pada pekan lalu.
Di Simeulue, makanan khas yang satu ini begitu mudah untuk didapatkan oleh para wisatawan. Salah satu lokasinya di Pantai Alaek Sektare di Kecamatan Teupah Barat, Kabupaten Simeulue, Aceh.
Di pantai yang baru dibuka sejak Februari 2019 lalu, umumnya gerai pedagang yang berjualan di situ menyediakan kuliner khas Simeulue tersebut. Seperti saat acehkini singgah di Kantin Bu' Jijah milik Nur Ajizah, satu dari sejumlah gerai yang berjualan di pantai yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) pada Rabu (25/12).
ADVERTISEMENT
Nur Ajizah bahkan bersedia untuk menunjukkan cara membuat makanan khas Simeulue yang satu ini. Ia menjelaskan, Memek terbuat dari beras ketan yang digongseng dan pisang serta santan.
"Ini gunanya setiap ada tamu dihidangkan memek, atau saat berbuka puasa karena nenek moyang kami dulu kalau tidak ada memek ini rasanya tidak sedap untuk buka puasa. Itulah dia namanya memek, makanan khas Simeulue," ujarnya.
Nur Ajizah menyebut, penganan Memek baru dibuat saat ada pesanan oleh pelanggannya atau saat ada tamu. "Kalau yang suka pakai es juga bisa, yang nggak mau pakai es juga tidak apa-apa," tuturnya.
Mau tau caranya lebih detail, simak video kami di atas.
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan