Menjelajahi Dunia Lewat Fotografi Jalanan

12 Februari 2017 9:51 WIB
comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Ilustrasi fotografer jalanan. (Foto: Pixabay)
Sabtu pagi itu, usai hujan mampir di Jakarta, pasukan oranye duduk di atas jeruk. Ini bukan editan Adobe Photoshop. Benar-benar "nyata".
ADVERTISEMENT
Foto tersebut hasil jepretan kamera Avesina Dharma, salah satu partisipan #blusukanJKT001 A One Day Street Photography Mentoring yang digelar Safir Makki dan Widya Sartika Amrin, dua fotografer profesional berbasis di Jakarta, Sabtu (4/1).
Dengan menggunakan teknik fotografi forced perspective, lensa kamera Ave, sapaan Avesina, sukses menangkap momen ciamik. Forced perspective menciptakan ilusi objek yang lebih jauh, lebih dekat, lebih besar, atau lebih kecil daripada sebenarnya.
Simak:
Teknik forced perspective merupakan bagian dari street photography. Bedanya, forced perspective dalam fotografi jalanan terjadi secara spontan, tak lewat rekayasa dengan memasukkan objek buatan untuk mempercantik foto.
Untuk menggunakan teknik tersebut, fotografer harus bersabar. Misalnya, ketika Ave memotret pasukan oranye (petugas kebersihan berseragam oranye), ia setidaknya menunggu 10 menit sampai mendapat momen bagus dan mengabadikannya.
ADVERTISEMENT
Street photography itu sebuah pendekatan dalam memotret, merekam kehidupan atau aktivitas dan elemen-elemen lain yang ada di ruang terbuka seperti pusat perbelanjaan, kafe, dan lain-lain. Sifat pendokumentasiannya cenderung spontan, tapi memiliki teknis pendekatan,” kata Safir, mentor kami.
Yang membedakan fotografi jalanan dengan gaya fotografi lain adalah fungsi yang berbeda.
Misalnya, jika fotografi jurnalisme bertujuan untuk menyampaikan objek sebagai kabar atau berita --sehingga menggunakan angle khusus untuk pengambilan foto, fotografi jalanan mengedepankan elemen estetika dalam tiap jepretan foto.
Pertumbuhan fotografi jalanan di Indonesia cukup pesat di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Palembang. Semua itu terlihat lewat rekam ativitas para peminatnya di media sosial.
“Pegiat street photography ikut menyumbang bagi kemajuan dunia fotografi di Indonesia saat ini,” kata Safir.
ADVERTISEMENT
Yang paling penting bagi masyarakat, ujar fotografer CNN Indonesia itu, mereka tak perlu memotret yang rumit-rumit, selama bisa menyampaikan cerita personalnya lewat foto ke semua orang melalui media sosial.
Fotografi jalanan di Indonesia lebih banyak terinspirasi dari karya-karya fotografer jalanan internasional seperti Alex Webb, David Gibson, David Alan Harvey, dan Daido Moriyama, dengan gaya fotografi seperti di Eropa, Amerika, maupun Jepang.
Dalam perkembangannya, lelaki lebih banyak berkecimpung di dunia fotografi jalanan. Bila dibandingkan dari segi kuantitas, jumlah fotografer perempuan dan laki-laki memang tak sebanding. Namun bukan berarti perempuan tak mendapat ruang untuk berkarya.
“Banyak fotografer perempuan yang berprestasi dan menghasilkan karya sepadan dengan laki-laki, bahkan lebih,” ujar Safir.
Contoh fotografer perempuan dalam seni fotografi jalanan ialah Widya Sartika Amrin --yang juga jadi mentor kami. Ia ahli di bidang ini, memberikan saran, kritik, serta mengevaluasi hasil jepretan kami.
ADVERTISEMENT
Widya juga mengarahkan partisipan untuk memotret foto yang berestetika.
Apakah kamu lelaki atau perempuan, fotografi ialah dunia tersendiri, dengan ruang luas untuk dijelajahi dan diabadikan. Membuatmu terhubung langsung dengan objek yang kamu foto, menyentuh mereka lewat lensa kameramu.
Kamu berminat mencoba?
Reporter: Deanda Dewindaru & Maria Sattwika Duhita
Suka fotografi? Ikuti kisah-kisahnya di sini