Nasib Pilu Penjual Keripik Asongan untuk Keluarga

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Konten dari Pengguna
22 November 2022 17:20
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Dimas Muplih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT

Pria penjual keripik asongan di Gamping, Yogyakarta

foto Nur Huda sedang berjualan di depan Indomaret Gamping, Sleman, Yogyakarta. ((Selasa(8/11/2022))
zoom-in-whitePerbesar
foto Nur Huda sedang berjualan di depan Indomaret Gamping, Sleman, Yogyakarta. ((Selasa(8/11/2022))
Makanan dibedakan menjadi 2, ada makanan berat dan ringan. Makanan berat merupakan makanan pokok yang biasa dikonsumsi sehari-hari misalnya nasi, sayur, ataupun lauk pauk. Sedangkan makanan ringan merupakan makan yang dikonsumsi untuk menghilangkan rasa lapar untuk sementara saja.
ADVERTISEMENT
Dengan adanya makanan ringan tersebut, membuat orang tertarik untuk membelinya. Hal ini dikarenakan makanan ringan mempunyai banyak variasi dan juga jenisnya. Contohnya gorengan, kue, keripik dan masih banyak lagi.
Banyak masyarakat yang menjadikan makanan ringan sebagai mata pencaharian dengan cara menjualnya dikarenakan cara membuatnya yang mudah dan bisa mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Namun sayang nasib setiap orang berbeda, ada yang sukses ada juga yang masih belum berhasil.
Nasib yang malang di alami oleh pria berumur 48 tahun. Dia menunjukkan tekadnya dengan berjualan keripik selama 15 tahun, tidak peduli panas matahari dan merasakan dinginnya hujan pria tersebut tetap berjualan dengan penuh semangat dan pantang menyerah.
Pria tersebut bernama Nur Huda, bertahan hidup dengan istri dan empat anaknya. Kedua anaknya sudah berkerja dan 2 lagi masih bersekolah. Tetapi Dia memilih untuk tetap berjualan demi menghidupi kebutuhan keluarganya. Dia menjual keripik tersebut dengan cara berkeliling sampai ke Boyolali, Solo, dan Semarang. Akan tetapi Dia lebih sering berjualan ke daerah Yogyakarta tepatnya menetap di depan Indomaret Gamping.
ADVERTISEMENT
"Sebelumnya saya pernah berjualan kerupuk tenggiri, tetapi setelah adanya pandemi saya berganti jualan keripik pisang dan tempe", ujar Nur Huda. Memang dengan adanya pandemi Covid-19 sangat berdampak bagi masyarakat di Indonesia ini. Akan tetapi hal tersebut tidak membuat Nur Huda putus asa, dia tetap mempunyai ide dengan cara berjualan keripik ini.
Keripik tersebut dia ambil sekitar 2 keranjang atau 100 bungkus dari juragan keripik di Semarang, kemudian dijual kembali dengan cara berkeliling sampai habis. Harga dari keripik tersebut senilai Rp. 10.000 per 3 bungkus. Jika keripiknya tidak habis hingga menjelang malam, dia terpaksa tidak pulang ke rumah dan tidur di teras yang kosong atau di kantor kecamatan sampai keesokan harinya atau sampai jualan keripiknya habis.
ADVERTISEMENT
Penghasilan dari jualan keripik tersebut sekitar 700 ribu rupiah saja per 2 keranjang yang bawa, itupun kalau jualannya habis semua. Pendapatan tersebut masih kotor belum dipotong untuk makan serta modal yang dia ambil. Dia tampak senang ketika ada yang membeli dagangannya. Setelah ditanya ternyata tempat tinggalnya bukan di Yogyakarta, Semarang adalah tempat tinggal aslinya. Untuk menuju ke Yogyakarta dia hanya bertumpangan dengan mobil truk dan akan dijemput kembali ketika jualan keripiknya sudah habis.
Nur Huda mengatakan "jualan keripik ini penghasilan tidak menentu karena terkadang ramai dan terkadang juga sepi, tetapi saya tetap bersyukur dengan adanya penghasilan tersebut".
Sekarang ini penghasilan yang didapat dari berjualan keripik dikatakan cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Walaupun tidak sebanding dengan jerih payahnya berjualan keripik dari Semarang ke Yogyakarta dengan bermodal tumpangan mobil truk.
ADVERTISEMENT
Begitu berat perjuangan Nur Huda terlepas dari nasib yang dia alami. Namun kegigihannya menjadi contoh bagi masyarakat, dari kebanyakan orang yang mengambil jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehingga terjerumus kepada kesesatan. Tetapi dia tetap memilih mencari uang dengan cara bejualan. Meskipun penghasilannya sedikit tetapi dengan rasa syukur yang banyak bisa membuat hidup lebih bahagia dan penuh berkah.
Dikutip dari novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk karya Hamka "Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau kerja sekedar bekerja, kera juga bekerja”. Bisa kita sadari bahwa menjalani kehidupan harus dengan penuh ke ikhlasan serta rasa syukur yang sangat besar. Karena keikhlasan bisa memangkitkan seluruh daya dan upaya yang ada dalam diri.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020