Konten dari Pengguna

Indonesia di Usia 81 Tahun: Mengapa Kita Gagal Melahirkan Industri Strategis?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Irsyad Mohammad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia di Usia 81 Tahun: Mengapa Kita Gagal Melahirkan Industri Strategis?
zoom-in-whitePerbesar

Tahun ini, tepat pada 17 Agustus 2026, Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaannya. Di tengah keberagaman suku, etnis, bahasa, dan agama yang sedemikian besar, Indonesia masih tegak berdiri. Saya pernah membahas secara lengkap mengenai hal ini setahun sebelumnya dalam esai saya: “80 Tahun RI: Pelajaran dari Runtuhnya Uni Soviet, Yugoslavia, dan Cekoslovakia” yang dimuat di Kumparan pada 15 Agustus 2025.

Uni Soviet yang merupakan negara adikuasa hanya bertahan 69 tahun (1922-1991), Yugoslavia dan Cekoslovakia masing-masing hanya bertahan 74 tahun (1918-1992). Indonesia, dengan segala kekurangannya, telah melampaui usia negara-negara besar itu.

Namun, selamat dari perpecahan bukanlah jaminan kejayaan. Mempertahankan keutuhan wilayah tidak otomatis membuat kita unggul di tengah persaingan global. Jika kita merenungi perjalanan bangsa pasca-Reformasi 1998 hingga sekarang, Indonesia masih berkutat pada masalah yang sama dan belum banyak terpecahkan.

Dari sekian banyak persoalan, ada satu hal paling krusial yang jarang dibahas secara jujur: Indonesia tidak memiliki satu pun industri strategis yang menjadi keunggulan komparatif (comparative advantage) yang diakui dunia.

Saya pertama kali mempelajari teori keunggulan komparatif bukan dari buku-buku ekonomi internasional yang rumit, melainkan dari “Buku Paket Ekonomi SMA” waktu saya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Teori klasik David Ricardo itu mengajarkan bahwa suatu negara harus fokus memproduksi barang atau jasa yang paling efisien dan tidak perlu memaksakan diri mengembangkan semua sektor, itu saja tidak lebih.

Buku paket ekonomi SMA pun sudah cukup untuk memahami konsep ini. Namun Indonesia melakukan kesalahan mendasar: kita ingin mengembangkan semuanya, tetapi tidak pernah serius mengembangkan satu pun. Kita ingin membuat pesawat, ingin membuat mobil, ingin membuat baterai listrik, ingin menjadi pusat data, ingin menjadi lumbung pangan dunia. Semua ingin, semua setengah-setengah. Akibatnya, tidak ada satu pun yang benar-benar kita kuasai. Kita tidak memiliki keunggulan di sektor manufaktur canggih sekaligus gagal mengelola komoditas alam secara berdaulat.

Negara Tidak Harus Unggul di Semua Bidang

Lihatlah negara-negara lain. Mereka tidak berusaha menjadi segalanya bagi semua orang. Mereka memilih satu atau dua bidang dan menggarapnya dengan sungguh-sungguh, lintas pemerintahan, lintas generasi.

Brazil, misalnya, tidak mencoba membuat semua jenis industri strategis. Mereka fokus pada satu hal: dirgantara. Embraer S.A., perusahaan kedirgantaraan Brazil, kini menjadi produsen pesawat sipil terbesar ketiga di dunia setelah Boeing dan Airbus, sekaligus pemimpin global di pasar pesawat regional berkapasitas di bawah 150 kursi. Pada 2025, Embraer mencatatkan pendapatan rekor sebesar 7,58 miliar dollar AS dengan total pengiriman 244 pesawat dan nilai pesanan (backlog) mencapai 31,6 miliar dollar AS.

Sekitar 85 persen produksi Embraer diekspor, dengan Amerika Serikat sebagai pasar terbesarnya, menyumbang 45% penjualan pesawat komersial dan 70% pesawat eksekutif. Keberhasilan Brasil di industri ini menjadikannya satu-satunya negara tropis dan berkembang di kawasan khatulistiwa yang memiliki industri pesawat terbang terbesar di antara negara-negara Global South.

Turki, membangun ekosistem industri strategis secara terintegrasi. Pada 2002, industri pertahanan Turki masih sangat bergantung pada luar negeri dengan tingkat ketergantungan sekitar 80 persen. Kini, tingkat ketergantungan itu turun drastis menjadi 20 persen. Ekspor industri pertahanan dan dirgantara Turki pada 2025 mencapai 8,5 miliar dollar AS, dan dalam 12 bulan hingga Mei 2026 melonjak menjadi 10,9 miliar dollar AS—naik 47,1 persen secara tahunan—dengan 57 persennya ditujukan ke negara-negara anggota NATO.

Baykar, produsen drone Turki, menjadi eksportir drone terbesar di dunia tiga tahun berturut-turut dengan ekspor 2,2 miliar dollar AS pada 2025 dan total pendapatan 2,5 miliar dollar AS, di mana 88 persennya berasal dari ekspor. Keunggulan drone Turki telah menarik berbagai negara untuk membelinya, termasuk Indonesia. Pada 12 Februari 2025, Indonesia dan Turki menandatangani perjanjian kerjasama strategis di bidang pertahanan, termasuk pembentukan perusahaan patungan (joint venture) untuk memproduksi, merakit, dan memelihara drone di Indonesia.

Indonesia bahkan mengakuisisi 60 unit Bayraktar TB3 dan 9 unit Akinci dari Turki sebagai bagian dari kerjasama lanjutan yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Saya pernah menulis secara lengkap mengenai prospek hubungan diplomatik Indonesia dan Turki ini dalam esai saya yang berjudul “Menakar Prospek Hubungan Diplomatik Indonesia dan Turki”, dimuat di Total Politik pada 14 Februari 2025. Di bidang otomotif, Turki mencatat rekor ekspor 41,5 miliar dollar AS pada 2025, meningkat 12 persen, dengan produksi kendaraan mencapai 1,42 juta unit dan ekspor kendaraan menembus 1,05 juta unit.

Iran, meskipun dihantam sanksi internasional paling berat di dunia, berhasil membangun keunggulan di industri pertahanan dan otomotif. Drone Shahed-136 buatan Iran, yang hanya berharga sekitar 20.000 hingga 50.000 dollar AS per unit, memaksa lawan menggunakan rudal pencegat yang harganya bisa mencapai 4 juta dollar AS per unit—rasio biaya 1:200 yang mengubah strategi perang modern. Iran bahkan memasok rudal balistik ke Rusia dalam jumlah besar.

Di sektor otomotif, Iran didominasi oleh dua produsen utama: Iran Khodro dan SAIPA. Meskipun menghadapi sanksi, Iran Khodro tetap mempertahankan produksi dan ekspor, terutama ke pasar Irak. SAIPA, pada periode Februari 2025 hingga Januari 2026, mencatatkan perputaran ekspor sebesar 18,31 juta dollar AS. Pasar otomotif Iran secara keseluruhan dinilai mencapai 41,57 miliar dollar AS pada 2025.

India, yang sering diejek oleh netizen Indonesia sebagai “Negeri Prindavan”, justru memiliki pencapaian sains dan teknologi, terutama dunia IT yang jauh melampaui kita. Pada 2013, India berhasil mengirimkan Mars Orbiter Mission ke Planet Mars, menjadikannya negara Asia pertama yang mencapai orbit Mars. Ekspor perangkat lunak (software) dan jasa IT India mencapai 222 miliar dollar AS pada tahun fiskal 2024-2025. Di bidang otomotif, ekspor mobil India mencapai 12,2 miliar dollar AS pada FY2025.

Bajaj Auto, eksportir kendaraan roda dua dan roda tiga terbesar India, telah mencatatkan ekspor lebih dari 2 miliar dollar AS, dengan total volume ekspor mencapai 1,82 juta unit. Bajaj Auto bahkan menjadi salah satu eksportir terbesar India dengan ekspor menyumbang hampir 50 persen dari pendapatan perusahaan.

Di Indonesia sendiri, kendaraan roda tiga Bajaj sudah lama digunakan sebagai kendaraan umum di berbagai kota, bahkan telah menjadi salah satu ikon kota Jakarta sejak pertama kali hadir pada 1975. Semua ini berkat doktrin "perangai ilmiah" (science temper) yang dirumuskan Bapak Bangsa India, Jawaharlal Nehru dan dimasukkan dalam konstitusi India sejak awal.

Ilustrasi pesawat tempur JF-17 buatan Pakistan sedang menyerang pesawat tempur India. Sumber gambar: gambar buatan AI.

Pakistan menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menghalangi suatu negara untuk membangun industri strategis. Pakistan telah mengembangkan program nuklirnya sejak era Zulfikar Ali Bhutto pada 1970-an. Pada 2025, Pakistan meningkatkan pengeluaran untuk senjata nuklir hingga 18 persen, menjadikannya negara kedua di dunia dengan pertumbuhan pengeluaran nuklir tertinggi. Selain itu, melalui kerja sama dengan China, Pakistan mengembangkan pesawat tempur ringan JF-17 Thunder yang diproduksi oleh Pakistan Aeronautical Complex (PAC) di Kamra, Pakistan.

Keberhasilan ekspor JF-17 sangat signifikan. Pada Juni 2025, Pakistan menandatangani kontrak dengan Azerbaijan senilai 4,6 miliar dollar AS untuk 40 unit JF-17 Block III. Pakistan juga mencapai kesepakatan dengan Libya senilai 4 hingga 4,6 miliar dollar AS untuk 16 unit JF-17 dan 12 pesawat Super Mushak. Secara keseluruhan, nilai kontrak ekspor pertahanan Pakistan pada 2025 mencapai hampir 10 miliar dollar AS. Saya menulis soal ini lebih lengkap di Kumparan juga dalam tulisan "Dulu Indonesia di Depan, Kini Pakistan Sukses Ekspor Jet Tempur", silahkan dicek untuk data lebih lengkapnya.

Pakistan menjadi negara Muslim pertama di dunia modern yang mencapai prestasi gemilang di bidang sains dengan melahirkan Prof. Mohammad Abdus Salam, ilmuwan Muslim pertama peraih Nobel Sains. Ia menerima Nobel Fisika 1979 bersama Sheldon Glashow dan Steven Weinberg atas pengembangan teori elektrolemah (electroweak theory) yang mempersatukan gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah.

Umat Islam sejatinya memiliki tradisi ilmu pengetahuan yang panjang. Pada Zaman Kejayaan Islam (Islamic Golden Age), yang secara tradisional berlangsung dari abad ke-8 hingga ke-13M dunia Islam menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan global. Di era inilah lahir ilmuwan-ilmuwan besar seperti Al-Khawarizmi (Bapak Aljabar), Ibnu Sina (Bapak Kedokteran Modern), Al-Biruni, dan Ibnu Khaldun, nama-nama yang hingga kini masih dikenang dalam sejarah sains dunia.

Namun ironisnya, Indonesia—sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia—hingga kini belum pernah melahirkan satu pun peraih Nobel, terutama di bidang sains. Padahal dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa dan mayoritas Muslim, seharusnya Indonesia mampu melahirkan putra-putri terbaik yang berkontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan dunia, sebagaimana Pakistan telah melakukannya melalui Abdus Salam, atau sebagaimana para ilmuwan Muslim di masa kejayaan Islam pernah melakukannya.

Malaysia memilih semikonduktor dan otomotif sebagai dua pilar industrialisasinya. Di bidang elektronik, pada 2025 ekspor produk Electrical & Electronics (E&E) Malaysia mencapai rekor 176 miliar dollar AS, meningkat 18 persen dan menyumbang 44 persen dari total ekspor Malaysia. Dari jumlah itu, ekspor semikonduktor mencapai 96 miliar dollar AS. Para raksasa global seperti Intel dan TSMC berlomba membangun pabrik di Penang, yang diprediksi menjadi “Silicon Valley” baru di Asia Tenggara.

VinFast VF 3 di GIIAS 2026. Foto: Sena Pratama/kumparan

Vietnam, yang baru stabil pada 1995, memilih manufaktur sebagai jalan keluar dari kemiskinan. Pada 2025, realisasi FDI Vietnam mencapai 27,62 miliar dollar AS, meningkat 9 persen dan merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sektor manufaktur dan pengolahan menyedot sekitar 83 persen dari total realisasi modal FDI tersebut. Total ekspor Vietnam pada 2025 mencapai 475 miliar dollar AS, naik 17 persen.

Vietnam membangun mobil listrik nasional Vinfast, yang pada 2025 berhasil mengirimkan 196.919 kendaraan listrik secara global, meningkat 102 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan Vinfast pada 2025 mencapai 3,6 miliar dollar AS, meningkat 105,4 persen secara tahunan, dengan nilai ekspor diperkirakan mencapai 903,74 juta dollar AS. Negara ini juga menjadi salah satu eksportir pertanian terbesar dunia.

Apa pola dari semua negara ini? Mereka memilih. Tidak satu pun dari negara-negara tersebut berusaha menjadi yang terbaik dalam segala bidang. Mereka memilih satu atau dua bidang yang menjadi "proyek nasional" dan menggarapnya dengan konsistensi selama puluhan tahun, melintasi pergantian rezim dan krisis ekonomi. Bandingkan dengan Indonesia: kita tidak pernah memilih. Indonesia justru terlalu sering berganti fokus sebelum sempat menikmati hasil dari pilihan yang telah dibuat. Akibatnya, pembangunan industri nasional berjalan seperti estafet yang tongkatnya terus berpindah tangan sebelum pelari mencapai garis akhir.

Ketika Indonesia Ingin Mengembangkan Segalanya

Hingga hari ini, keunggulan komparatif Indonesia nyaris seluruhnya berada di sektor hulu. Indonesia adalah eksportir batubara terbesar di dunia. Sepanjang tahun 2025, nilai ekspor batubara Indonesia mencapai 24,48 miliar dollar AS, turun 19,70 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 30,49 miliar dollar AS. Volume ekspor batubara tercatat 390,93 juta ton. Fluktuasi harga internasional membuat pendapatan negara tidak pernah pasti.

Di sektor kelapa sawit, Indonesia adalah produsen dan eksportir terbesar dunia untuk minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO). Ekspor CPO dan turunannya pada Januari-November 2025 mencapai 21,63 miliar dollar AS, naik 19,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada paruh pertama 2025 saja, ekspor CPO dan turunannya mencapai 11,43 miliar dollar AS. Nikel juga mulai dilirik. Pada 2025, Indonesia menghasilkan sekitar 2,6 juta ton nikel atau setara 66,7 persen produksi global, dengan cadangan sekitar 62 juta ton atau 44,5 persen cadangan dunia. Nilai ekspor produk olahan nikel Indonesia mencapai sekitar 9,73 miliar dollar AS.

Masalahnya, komoditas-komoditas ini tidak pernah bertransformasi menjadi industri strategis yang dikuasai oleh anak bangsa. Tambang nikel terbesar di Morowali justru konsesinya dikuasai oleh perusahaan-perusahaan China. Indonesia hanya menjadi pemasok bahan mentah dan setengah jadi, sementara nilai tambah terbesar dinikmati oleh asing.

Yang lebih memprihatinkan adalah gejala deindustrialisasi. Gejala tersebut tercermin dari perjalanan sektor manufaktur Indonesia. Pada awal dekade 2000-an, kontribusi industri manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pernah mencapai sekitar 32 persen. Namun dalam dua dekade berikutnya kontribusinya terus menurun hingga berada di kisaran 18–19 persen. Banyak ekonom menyebut kondisi ini sebagai deindustrialisasi prematur, yakni melemahnya peran industri manufaktur sebelum Indonesia benar-benar berhasil menjadi negara industri maju.

Memang harus diakui bahwa dalam beberapa tahun terakhir terdapat sedikit perbaikan. Kontribusi manufaktur kembali mendekati 19 persen pada 2024–2025. Namun angka tersebut masih jauh di bawah capaian Indonesia pada awal 2000-an ketika sektor manufaktur menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Pada Juni 2026, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia bahkan jatuh ke angka 46,9, masuk ke zona kontraksi. Indonesia bukan hanya tidak maju, tetapi sedang mundur dalam industrialisasi.

Penurunan itu bukan sekadar persoalan statistik. Ia menunjukkan bahwa Indonesia belum berhasil menjadikan industri manufaktur sebagai mesin transformasi ekonomi. Perekonomian nasional masih sangat dipengaruhi oleh naik turunnya harga komoditas di pasar dunia. Ketika harga komoditas meningkat, penerimaan negara ikut terdongkrak. Ketika harga komoditas melemah, optimisme ekonomi pun ikut merosot. Ketergantungan semacam ini membuat Indonesia belum sepenuhnya keluar dari pola sebagai pengekspor sumber daya alam, bukan sebagai penghasil produk industri berteknologi tinggi.

Industri Strategis yang Dikhianati: Pelajaran dari Dirgantara Indonesia

Untuk memahami tragisnya nasib industri strategis Indonesia, kita tidak perlu melihat jauh. Kita cukup melihat sejarah PT Dirgantara Indonesia (dulu IPTN). Pada 10 Agustus 1995, Indonesia berhasil menerbangkan pesawat penumpang N250 Gatotkaca, sebuah pesawat turboprop canggih rancangan B.J. Habibie. Saat itu, China bahkan belum bisa membuat pesawat sendiri. Indonesia hampir mencapai keunggulan komparatif di bidang industri pesawat.

Namun, badai datang. Krisis Finansial Asia 1997 menghantam Indonesia paling parah. Presiden Suharto mundur pada 21 Mei 1998, dan Habibie naik menggantikan. Ironi terbesar terjadi: Habibie, sang arsitek industri penerbangan Indonesia, justru dipaksa menutup hasil jerih payahnya sendiri.

Tekanan datang melalui Letter of Intent (LoI) dengan IMF yang ditandatangani pada 15 Januari 1998. IMF meminta Indonesia menutup industri pesawat dengan alasan penghematan biaya. Michel Camdessus, Direktur IMF saat itu yang berasal dari Prancis, jelas membawa kepentingan negaranya yang memiliki Airbus. Amerika Serikat juga tidak ingin Boeing memiliki saingan dari Asia Tenggara.

Yang berhenti pada tahun 1998 bukan hanya sebuah proyek pesawat terbang. Yang ikut terhenti adalah keberanian Indonesia untuk bermimpi menjadi negara industri berteknologi tinggi.

Harapan untuk membangkitkan kembali industri ini muncul pada 2016, ketika proyek pesawat R80 dan N245 ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional. Namun pada Jumat, 29 Mei 2020, dalam rapat terbatas yang dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo, pemerintah menghapus dua proyek pesawat itu dari daftar PSN dan menggantinya dengan pengembangan tiga proyek pengembangan drone. Alasan yang diberikan: situasi pandemi COVID-19.

Sejak saat itu, Indonesia tetap membangun berbagai industri, tetapi jarang lagi membangun mimpi yang cukup besar untuk mengubah posisi bangsa ini dalam rantai industri global.

Akibatnya, hingga saat ini, ketergantungan PT Dirgantara Indonesia pada komponen impor masih sangat tinggi. Ironisnya, alih-alih membangun kemampuan desain dan manufaktur secara mandiri, pada Januari 2025 Wakil Menteri Perindustrian justru harus meminta Boeing untuk membangun pabrik komponen di Indonesia, dengan menawarkan kawasan industri di Batam dan Bintan sebagai lokasi potensial. Permintaan ini mencakup pemberian lisensi untuk industri MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) serta pembangunan pusat pelatihan penerbangan di Indonesia.

Konsekuensinya, ketergantungan alutsista pun tak terhindarkan. Sepanjang Januari-Juli 2025 saja, Indonesia mengimpor senjata dan amunisi senilai 65 juta dollar AS, dengan pemasok terbesar adalah Uni Emirat Arab (25,84 juta dollar AS) dan Amerika Serikat (11,58 juta dollar AS). Angka ini hanyalah puncak gunung es, belum termasuk pesawat tempur, kapal selam, dan sistem persenjataan berat lainnya.

Bandingkan dengan Brazil. Mereka juga memulai dari nol. Namun Embraer tidak pernah berhenti. Pemerintah Brazil berganti-ganti, krisis datang dan pergi, tetapi komitmen untuk membangun industri dirgantara tetap dijaga. Kini Embraer adalah kebanggaan nasional dan pemain global. Indonesia, dengan N250 yang lebih dulu terbang daripada pesawat buatan China dan Brazil pada zamannya, justru membiarkan mimpinya mati.

Indonesia Ingin Dikenal Dunia sebagai Apa?

Salah satu alasan mengapa Indonesia gagal membangun identitas industri adalah karena kita tidak pernah menjawab pertanyaan mendasar: “Indonesia ingin dikenal dunia sebagai apa?

Kretek, misalnya, adalah produk asli Indonesia dengan racikan cengkeh yang unik. Seharusnya kretek bisa menjadi ikon kebanggaan seperti cerutu Kuba yang mewah dan mahal. Namun, karena kita tidak pernah membangun narasi budaya yang kuat, justru raksasa asing seperti Philip Morris membeli Sampoerna, British American Tobacco membeli Bentoel, dan KT&G membeli pabrik Tri Sakti Purwosari Makmur. Resep rahasia buatan anak bangsa kini dikuasai oleh bangsa lain.

Sudah 81 tahun negara kita berdiri, namun kita payah sekali dalam pencitraan dan menjual narasi Indonesia, hal ini terbukti dengan lebih terkenalnya Bali daripada Indonesia sendiri. Banyak turis asing bertanya, "Indonesia di sebelah mananya Bali?" Ini adalah cermin betapa payahnya diplomasi publik dan pencitraan negara kita. Korea Selatan bisa menjual K-Pop dan mobil Hyundai secara bersamaan. Turki bisa menjual drone dan drama serta film Turki secara bersamaan. Indonesia tidak pernah menghubungkan budaya dengan industri secara terencana.

Setelah Reformasi 1998, Indonesia setelah amandemen konstitusi bahkan membuang Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang disusun oleh MPR. Padahal, GBHN adalah instrumen penting untuk memastikan pembangunan industri strategis berjalan lintas kepresidenan. Sebagai gantinya, kita membuat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi & infrastruktur fisik, tetapi tidak pernah menunjuk secara spesifik satu industri strategis yang harus dikembangkan secara masif.

BUMN strategis seperti Pindad, PAL Indonesia, dan PT Dirgantara Indonesia berjalan sendiri-sendiri tanpa sinergi dan tanpa target nasional yang mengikat. Swasta nasional tidak berani masuk dan mengembangkan industri strategis karena risiko besar dan ketiadaan kepastian kebijakan.

Pailitnya pabrik tekstil Texmaco yang dimiliki oleh Marimutu Sinivasan menjadi preseden bagi swasta nasional, mulanya ia memiliki niat baik ingin membangun industri otomotif ia melobi sahabatnya, Presiden Suharto dengan meminjam dalam jumlah sangat besar dengan harapan bangsanya dapat dipandang dunia karena punya industri otomotif.

Namun terpaan Krisis Finansial Asia 1997, membuat hutangnya membengkak dan politik nasional berubah pasca-Reformasi dan tidak berpihak kepada itikad baiknya untuk mengembangkan industri mobil nasional. Walhasil nilai hutangnya membengkak menjadi puluhan triliun akibat jatuhnya nilai dollar. Membuatnya menjadi buronan karena menjadi pengemplang obligor BLBI, sampai ia kabur ke luar negeri. Adiknya Marimutu Manimaren melanjutkan usaha Texmaco pun tidak mampu membayar hutangnya, akhirnya bunuh diri pada 2003.

Nasib sial menimpa Sinivasan setelah puluhan tahun pasca-Reformasi ia menjadi buronan akhirnya tertangkap juga. Pada Minggu, 8 September 2024, Marimutu Sinivasan ditangkap oleh petugas Imigrasi Kelas II TPI Entikong di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kalimantan Barat, saat hendak melarikan diri ke Kuching, Malaysia.

Penangkapan dilakukan karena namanya masuk dalam daftar pencegahan atas permintaan Kementerian Keuangan terkait tunggakan piutang negara. Berdasarkan laporan, jumlah utang BLBI Marimutu mencapai 3,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp31 triliun. Setelah diperiksa, Marimutu diserahkan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan.

Impian Indonesia untuk memiliki mobil nasional (mobnas) sendiri tidak berhenti pasca tutupnya mobil Teknologi Industri Mobil Rakyat (Timor), juga tutupnya industri otomotif Texmaco–wacana ini sempat menyeruak lagi dengan munculnya mobil Esemka dalam pemberitaan nasional pada tahun 2012.

Mobil yang diklaim dirakit oleh anak-anak SMK itu sempat menggugah harapan Indonesia pada akhirnya dapat memiliki mobnasnya. Namun hingga hari ini, tidak pernah ada satu pun mobil Esemka yang melintas di jalan raya dalam jumlah yang berarti. Mobil Esemka adalah “mobil fiktif” yang hanya ada di wacana dan pemberitaan, bukan di jalan raya.

Indonesia memiliki ratusan juta penduduk, tetapi sepanjang sejarahnya, tidak pernah ada satu pun perusahaan teknologi global yang lahir dari negeri ini, dan tidak pernah ada satu pun peraih Nobel. Ini bukan karena kita bodoh, tetapi karena kita tidak pernah memiliki visi besar yang diterjemahkan ke dalam kebijakan industri yang berkelanjutan dan serius.

Industri Strategis Apa yang Sebenarnya Ingin Kita Wariskan?

Infografis atas tulisan ini untuk memudahkan menyimpulkan artikel ini. Sumber gambar: gambar buatan AI.

Padahal inti dari keunggulan komparatif bukanlah berhenti pada kemampuan menghasilkan komoditas, melainkan kemampuan mengubah komoditas tersebut menjadi industri yang memiliki nilai tambah tinggi. Negara tidak menjadi maju hanya karena memiliki sumber daya alam. Negara menjadi maju karena mampu mengolah sumber daya itu menjadi teknologi, mengubah teknologi menjadi produk, lalu menjadikan produk tersebut sebagai identitas industrinya di pasar global.

Di sinilah saya melihat pertanyaan paling penting setelah delapan puluh satu tahun kemerdekaan bukan lagi berapa banyak kekayaan alam yang dimiliki Indonesia. Pertanyaannya jauh lebih mendasar: industri strategis apa yang sebenarnya ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya?

Sebab sejarah berulang kali menunjukkan bahwa negara tidak menjadi besar karena berusaha menguasai segala hal. Negara menjadi besar karena berani menentukan prioritas, kemudian mengerjakannya secara konsisten selama puluhan tahun, bahkan melampaui pergantian pemerintahan dan generasi.

Indonesia telah berusia 81 tahun. Kita berhak berbangga karena masih utuh di tengah gelombang disintegrasi yang menenggelamkan negara adidaya sekalipun. Namun, kegagalan membangun industri strategis adalah noda hitam yang tidak bisa terus ditutupi. Turki, Brazil, India, Malaysia, Vietnam, Iran, dan Pakistan telah menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk membangun keunggulan komparatif. Mereka memilih, mereka fokus, dan mereka konsisten.

Sudah waktunya Indonesia berani mengorbankan ambisi di semua bidang dan memilih minimal satu industri strategis untuk dijadikan proyek nasional abad ke-21. Pilihan harus ditentukan melalui konsensus nasional, tetapi yang terpenting adalah komitmen untuk memilih satu dan tidak berganti-ganti, mengembalikan semangat GBHN yang dulu sempat hilang.

Kita tidak perlu menjadi seperti Amerika Serikat yang menguasai segalanya. Kita cukup menjadi seperti Vietnam yang fokus pada manufaktur, Malaysia yang fokus pada semikonduktor, atau Turki yang membangun ekosistem industri alutsista secara terintegrasi. Fokus adalah harga yang harus dibayar untuk keunggulan.

Jika kita terus menerus menyebar energi tanpa arah yang jelas, maka di ulang tahun ke-100 nanti, kita hanya akan menjadi negara tua yang kaya komoditas, tetapi miskin teknologi, miskin industri, dan miskin harga diri. Masih ada waktu untuk memilih, tetapi waktu tidak berpihak pada mereka yang tidak segera bertindak.