Konten dari Pengguna

Serangan Drone Ukraina di Moskow dan Ironi Sejarah yang Dilupakan Rusia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Irsyad Mohammad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Infografis atas serangan drone Ukraina ke Rusia selama Juni-Agustus 2026, serta beberapa fakta sejarah saat Rusia mempertahankan diri dari invasi negara dan saat Rusia jadi agresor terhadap negara lain. Infografis ini menunjukkan perbedaan yang sangat jelas. Sumber gambar: gambar buatan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Infografis atas serangan drone Ukraina ke Rusia selama Juni-Agustus 2026, serta beberapa fakta sejarah saat Rusia mempertahankan diri dari invasi negara dan saat Rusia jadi agresor terhadap negara lain. Infografis ini menunjukkan perbedaan yang sangat jelas. Sumber gambar: gambar buatan AI.

Serangan drone Ukraina yang menembus Moskow, Saint Petersburg, hingga Omsk pada Juni–Agustus 2026 bukan lagi sekadar soal drone. Yang sedang dipertaruhkan hari ini bukan hanya efektivitas radar, sistem pertahanan udara, atau keamanan sejumlah fasilitas energi Rusia. Yang jauh lebih penting adalah kredibilitas Rusia sebagai kekuatan besar dunia.

Selama lebih dari empat tahun perang berlangsung, Rusia berulang kali menampilkan dirinya sebagai negara dengan salah satu kemampuan militer paling tangguh di dunia. Namun dalam politik internasional, status kekuatan besar tidak hanya ditentukan oleh jumlah tank, pesawat tempur, atau hulu ledak nuklir yang dimiliki. Ia juga ditentukan oleh reputasi: apakah lawan masih gentar, apakah sekutu masih percaya, dan apakah negara tersebut mampu mengubah kekuatan material menjadi pengaruh geopolitik yang nyata.

Karena itu, ketika drone-drone Ukraina berhasil menjangkau wilayah yang sebelumnya dianggap relatif aman dari jangkauan Kyiv, pertanyaan yang muncul bukan sekadar berapa banyak kerusakan yang ditimbulkan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah Rusia masih mampu mempertahankan citra sebagai kekuatan yang dapat melindungi dirinya sendiri maupun sekutu-sekutunya.

Dari Garis Depan Menuju Jantung Ekonomi Rusia

Infografis serangan ratusan drone Ukraina atas kilang-kilang minyak dan gas Rusia. Tujuan Ukraina untuk mengganggu perekonomian Rusia, sehingga mengganggu Rusia untuk membiayai peperangan di Ukraina.

Jika diperhatikan secara berurutan, serangan-serangan Ukraina menunjukkan pola yang jelas. Pada tahap awal perang, target utama adalah posisi militer Rusia di garis depan. Setelah itu sasaran bergeser ke depot bahan bakar dan fasilitas logistik. Berikutnya kilang minyak, terminal ekspor energi, hingga infrastruktur komunikasi strategis mulai masuk dalam daftar target.

Puncaknya terjadi ketika drone Ukraina menghantam Kilang Minyak Omsk, salah satu fasilitas energi paling penting Rusia yang berada sekitar 2.700 kilometer dari wilayah yang dikuasai Kyiv. Serangan tersebut menunjukkan bahwa perang tidak lagi terbatas pada Donbas atau wilayah perbatasan. Ia telah menjangkau jantung ekonomi Rusia.

Pola ini menunjukkan bahwa Ukraina tidak sedang melakukan serangan acak. Kyiv menjalankan strategi economic warfare (perang ekonomi) yang bertujuan mengganggu sumber pendapatan, logistik, dan infrastruktur yang menopang kemampuan perang Rusia, intinya mengacaukan ekonomi Rusia.

Serangan drone menjadi instrumen untuk meningkatkan biaya perang yang harus ditanggung Moskow sekaligus memperlihatkan bahwa wilayah Rusia tidak lagi sepenuhnya aman dari jangkauan lawannya.

Namun persoalan Rusia hari ini tidak berhenti pada kerusakan fisik akibat serangan tersebut. Dampak yang lebih besar justru menyangkut persepsi dan kredibilitas serta citra Rusia di mata dunia.

Ketika Jaminan Keamanan Rusia Kehilangan Bobot

Perbandingan dua kekuatan besar dunia yakni Amerika Serikat dan China dalam manajemen aliansi (alliance management) keduanya punya reputasi dalam mempertahankan sekutu-sekutunya. Meskipun belakangan ini di tahun 2026, akibat Perang Iran-Amerika Serikat & Israel, di zaman Presiden Donald Trump kredibilitas Amerika Serikat dalam mempertahankan sekutu-sekutunya di Timur Tengah sangat diragukan, tapi paling tidak selama bertahun-tahun Amerika Serikat punya reputasi panjang dalam mempertahankan sekutu-sekutunya sebelum zaman Donald Trump periode kedua. Sumber gambar: gambar buatan AI.

Dalam hubungan internasional, kekuatan besar harus mampu memberikan rasa aman kepada sekutunya. Amerika Serikat memahami prinsip ini dengan sangat baik. Selama puluhan tahun Washington berhasil mempertahankan NATO di Eropa serta aliansi keamanan dengan Jepang dan Korea Selatan di Asia Timur.

Negara-negara tersebut tetap bertahan bukan semata karena kekuatan militer Amerika Serikat, melainkan karena Washington berhasil membangun reputasi sebagai credible security guarantor—penjamin keamanan yang kredibel.

Ketika sekutunya menghadapi ancaman, Amerika Serikat menunjukkan bahwa komitmennya dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata, baik dalam bentuk kehadiran militer, bantuan persenjataan, dukungan diplomatik, maupun tekanan ekonomi terhadap lawan-lawannya. Reputasi inilah yang menjadi salah satu sumber utama pengaruh global Amerika Serikat.

China juga memahami pentingnya kredibilitas semacam itu. Pada 19 Oktober 1950, Mao Zedong mengirim tentaranya ke Perang Korea (1950-1953) untuk melawan Korea Selatan dan mencegah runtuhnya rezim Kim Il-sung di Korea Utara, meskipun langkah tersebut membawa risiko konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat.

Ilustrasi gambar ketika China melakukan invasi atas Vietnam pada tahun 1979, dalam perang yang disebut sebagai Sino-Vietnam War. Perang ini dilakukan China untuk menghukum Vietnam yang menginvasi dan menggulingkan rezim Khmer Merah di Kamboja pada tahun 1978, serta membela sekutunya rezim Khmer Merah yang dipimpin Pol Pot yang berideologi Maoisme. Meskipun Vietnam dan China sama-sama berideologi komunis, namun Vietnam berpihak kepada Uni Soviet dalam Perpecahan Ideologis China-Uni Soviet (Sino-Soviet Split) yang terjadi pada tahun 1960 akibat Nikita Khruschev mengkritik Joseph Stalin dalam pidato rahasia Partai Komunis Uni Soviet dalam Kongres ke-20 Partai Komunis Uni Soviet. Pidato itu membuat Mao Zedong geram karena Joseph Stalin, Gurunya dihina dan Mao Zedong menyebut Nikita Khruschev sebagai "revisionis" dan bukan komunis sejati. Gerakan komunis di seluruh dunia pecah akibat Sino-Soviet Split, di Indonesia saja misalnya Partai Komunis Indonesia (PKI) berpihak kepada China dan membuat Uni Soviet geram. Sumber gambar: gambar buatan AI.

Hampir tiga dekade kemudian, pada 17 Februari 1979, China kembali menggunakan kekuatan militer ketika melancarkan perang terhadap Vietnam setelah Hanoi menggulingkan rezim Khmer Merah yang didukung Beijing di Kamboja.

Terlepas dari kontroversi moral soal intervensi China di kedua perang tersebut, pesan yang ingin disampaikan China jelas: Beijing bersedia membayar harga yang mahal untuk mempertahankan kredibilitasnya di mata sekutu maupun lawan.

Yang menarik, kedua keputusan itu diambil ketika China masih jauh dari statusnya sebagai raksasa ekonomi dunia seperti hari ini. Pada masa tersebut, kekuatan ekonomi dan militer Uni Soviet justru jauh lebih besar dibandingkan China, namun China jauh lebih berani ketimbang Uni Soviet dalam hal membela sekutunya. Sejarah membuktikkan Beijing bersedia untuk menanggung biaya politik dan militer demi mempertahankan kredibilitasnya di mata sekutu maupun lawan.

Rusia sudah kehilangan sekutu satu-satunya di dunia Arab. Tinggal tersisa Iran di Timur Tengah, itu pun bukan bangsa Arab melainkan Persia. Namun Rusia selama 2025 tidak mempertahankan serius dalam Perang 12 Hari 2025, karena masih jaga perasaan Israel dan Presiden Rusia Vladimir Putin juga punya hubungan baik dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Jadi Rusia terkesan main 2 kaki, belakangan Rusia baru membantu agak serius karena China pasang badan membela Iran di tahun 2026 dan melihat Iran sangat paten, karena mampu menghancurkan seluruh pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah dan rudal-rudal serta drone-drone Iran mampu menembus Iron Dome Israel dan menghancurkan wilayah Israel. Sumber gambar: gambar buatan AI.

Di sinilah Rusia menghadapi persoalan yang semakin serius. Pada akhir 2024, Bashar al-Assad—sekutu terpenting Rusia di Timur Tengah—jatuh setelah bertahun-tahun bertahan dalam perang saudara. Padahal Moskow telah menginvestasikan sumber daya militer yang besar untuk mempertahankan rezim tersebut dan bahkan memiliki pangkalan militer strategis di Tartus. Namun ketika momen paling menentukan tiba, Rusia tidak mampu mencegah runtuhnya satu-satunya sekutunya di dunia Arab.

Preseden serupa muncul pada awal 2026 ketika Nicolás Maduro kehilangan kekuasaan di Venezuela. Sekali lagi Rusia mengeluarkan kecaman keras, tetapi tidak mampu mengubah keadaan di lapangan. Sekali lagi muncul pertanyaan mengenai sejauh mana nilai jaminan keamanan Rusia bagi sekutu-sekutunya.

Iran mengalami pengalaman yang tidak jauh berbeda. Setelah perubahan politik di Suriah melemahkan posisi regional Teheran, Rusia tidak menunjukkan kemampuan yang cukup untuk membantu membalikkan keadaan. Bahkan ketika Iran menghadapi tekanan militer yang besar dalam Perang Dua Belas Hari 2025, dukungan Rusia relatif terbatas.

Sebaliknya, China tampil jauh lebih aktif melalui dukungan ekonomi, logistik, serta perannya sebagai pembeli utama minyak Iran pada saat Teheran menghadapi tekanan internasional yang berat.

Bagi banyak pengamat, rangkaian peristiwa tersebut memperkuat kesan bahwa Rusia semakin kesulitan mengubah kekuatan militernya menjadi jaminan keamanan yang kredibel bagi sekutu-sekutunya. Persoalannya bukan sekadar apakah Rusia memiliki senjata yang cukup, melainkan apakah negara lain masih percaya bahwa senjata tersebut akan digunakan untuk membela mereka ketika krisis datang.

Dalam kajian hubungan internasional, kemampuan mempertahankan kepercayaan sekutu semacam ini dikenal sebagai alliance management (manajemen aliansi). Di titik inilah letak persoalan utama Rusia. Mereka masih memiliki kekuatan militer yang besar, tetapi semakin sulit meyakinkan pihak lain bahwa kekuatan tersebut dapat diterjemahkan menjadi perlindungan yang nyata.

Ironi Sejarah yang Dilupakan Rusia

Infografis ini menjelaskan mengapa Rusia tidak runtuh dalam dua kali invasi besar atas negerinya karena adanya just cause (legitimasi moral untuk berperang). Ketika Rusia (saat itu bernama Uni Soviet) melakukan invasi atas Afghanistan, mereka tidak dapat mengalahkan mujahidin Afghanistan dan gagal mempertahankan rezim komunis Afghanistan. Mengapa demikian? Karena Uni Soviet tidak memiliki just cause. Hal yang sama terjadi pada Ukraina yang mampu bertahan hingga hari ini, bahkan membuat Rusia tidak nyaman dengan sanksi-sanksi internasional hingga serangan drone Ukraina ke wilayahnya, mengapa Ukraina sanggup bertahan hingga hari ini? Jawabannya adalah just cause, yang juga dimiliki para Mujahidin saat melawan Uni Soviet dulu. Sumber gambar: gambar bikinan AI.

Namun ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting. Setelah hampir 4 tahun invasi, mengapa Ukraina tidak runtuh?

Untuk menjawab pertanyaan ini, Rusia sebenarnya tidak perlu melihat jauh ke luar negerinya sendiri. Jawabannya justru tersimpan dalam sejarah Rusia.

Pada 1812, Napoleon Bonaparte menginvasi Rusia dengan pasukan yang saat itu dianggap hampir tak terkalahkan. Rusia mundur ke pedalaman, mengorbankan Moskow, dan memanfaatkan luas wilayahnya untuk menguras kekuatan lawan. Pada akhirnya pasukan Prancis mengalami kekalahan besar.

Dalam historiografi Rusia, konflik tersebut dikenang sebagai Perang Patriotik atau Patriotic War of 1812 karena rakyat Rusia merasa sedang mempertahankan tanah air mereka dari invasi asing.

Pola yang hampir sama terulang pada 1941 ketika Nazi Jerman melancarkan Operasi Barbarossa untuk menginvasi Uni Soviet. Uni Soviet menghadapi ancaman eksistensial yang jauh lebih besar dibandingkan era Napoleon. Namun alih-alih runtuh, mereka bertahan.

Pertempuran Stalingrad menjadi simbol perlawanan nasional yang luar biasa dan pada akhirnya Tentara Merah berhasil merebut Berlin pada 1945. Perang tersebut dikenang sebagai "Perang Patriotik Raya" atau "The Great Patriotic War" dan hingga kini menjadi salah satu fondasi identitas nasional Rusia modern.

Dalam kedua peristiwa itu, Rusia berperang sebagai pihak yang mempertahankan tanah airnya. Ancaman datang dari luar, dan rakyat Rusia percaya bahwa mereka sedang membela sesuatu yang sah serta layak dipertahankan.

Namun sejarah menunjukkan hasil yang berbeda ketika Rusia berganti peran.

Pada 1979, Uni Soviet menginvasi Afghanistan. Secara material, Soviet jauh lebih kuat dibandingkan Mujahidin Afghanistan. Mereka memiliki tank, pesawat tempur, helikopter, dan sumber daya yang jauh lebih besar. Namun perang tersebut berlangsung hampir satu dekade dan akhirnya berakhir dengan penarikan mundur pasukan Soviet.

Mengapa Mujahidin Afghanistan menang? Salah satu penyebabnya adalah karena banyak warga Afghanistan memandang diri mereka sedang mempertahankan tanah air dari kekuatan asing. Keyakinan tersebut menciptakan daya tahan politik, ekonomi, sosial, dan militer yang tidak mudah dihancurkan oleh keunggulan teknologi militer dan ekonomi lawan.

Dalam teori perang yang adil (just war theory), kondisi seperti ini sering disebut sebagai just cause atau legitimasi moral untuk berperang. Legitimasi moral tentu bukan satu-satunya faktor yang menentukan kemenangan, tetapi sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi sumber ketahanan yang sangat kuat dalam konflik jangka panjang.

Mengapa Ukraina Tetap Bertahan?

Perbandingan beda sikap antara mantan Presiden Afghanistan Ashraf Gani saat menghadapi Taliban dan Volodymyr Zelensky saat menghadapi invasi Rusia. Sumber gambar: gambar buatan AI.

Di sinilah posisi Ukraina hari ini menjadi lebih mudah dipahami.

Ukraina memandang dirinya bukan sebagai pihak yang menyerang, melainkan sebagai negara yang sedang mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya. Persepsi tersebut memberi fondasi moral yang kuat bagi upaya perangnya.

Contoh paling jelas terlihat pada sikap Presiden Volodymyr Zelensky pada hari-hari pertama invasi Rusia di tahun 2022. Ketika ditawari evakuasi oleh Amerika Serikat, alih-alih kabur malahan ia memilih tetap berada di Kyiv. Ia mengatakan: “kami butuh amunisi, bukan tumpangan” (I need ammunition, not a ride). Keputusan itu kemudian menjadi simbol penting yang memperkuat moral nasional Ukraina sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa pemerintah Ukraina tidak berniat menyerah.

Kontras dengan itu, ketika Taliban memasuki Kabul pada Agustus 2021, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani memilih kabur, tinggal glanggang colong playu dari negaranya dengan menaiki helikopter Afghanistan bersama keluarganya.

Kepergian Ghani mempercepat runtuhnya moral pasukan pemerintah Afghanistan yang selama bertahun-tahun dibangun dengan dukungan Amerika Serikat. Bagi banyak prajurit, sulit mempertahankan semangat perlawanan dan mengorbankan nyawa ketika pemimpin tertinggi negara dan panglima tertinggi militer telah lebih dahulu meninggalkan medan perang yang seharusnya ia pertahankan.

Bagi mereka, ngapain kita mati konyol sedangkan pemimpin kita aja kabur? Hal ini yang menjelaskan mengapa Taliban bisa masuk ke Kabul, Ibukota Afghanistan tanpa perlawanan yang berarti.

Dengan demikian, legitimasi moral untuk berperang (just cause) semacam inilah yang membantu menjelaskan mengapa Ukraina tidak runtuh meskipun menghadapi lawan yang secara material jauh lebih kuat. Bahkan setelah bertahun-tahun perang berlangsung, Ukraina tidak hanya bertahan, tetapi juga terus beradaptasi hingga mampu menyerang jauh ke wilayah Rusia sendiri.

Yang Dipertaruhkan Rusia Hari Ini

Bila Rusia tidak mengatasi akibat yang tidak diingkan dari serangan drone Ukraina dengan tindakan yang berarti, maka kredibilitas Rusia sebagai negara kuat akan diragukan oleh musuh-musuhnya. Sumber gambar: gambar buatan AI.

Karena itu, serangan drone yang menembus Moskow, Saint Petersburg, dan Omsk sesungguhnya hanyalah gejala dari persoalan yang jauh lebih besar.

Penyakit yang sebenarnya adalah krisis kredibilitas.

Di satu sisi, Rusia semakin kesulitan meyakinkan sekutunya bahwa Moskow mampu menjadi penjamin keamanan yang dapat diandalkan. Di sisi lain, Rusia menghadapi lawan yang memiliki legitimasi moral yang kuat untuk terus bertahan dalam perang yang panjang.

Rusia tetap merupakan salah satu kekuatan militer terbesar di dunia. Namun kekuatan besar tidak hanya hidup dari tank, rudal, dan hulu ledak nuklir. Ia juga hidup dari reputasi, kepercayaan, dan kemampuan memengaruhi perilaku negara lain.

Yang dipertaruhkan Rusia hari ini bukan hanya sejumlah kilang minyak yang terbakar akibat serangan drone Ukraina. Yang dipertaruhkan adalah reputasinya sebagai kekuatan besar. Drone yang menembus Moskow hanyalah gejala. Penyakit yang sebenarnya adalah krisis kredibilitas.

Sejarah Rusia sendiri menunjukkan bahwa kekuatan terbesar suatu bangsa lahir ketika ia mempertahankan tanah airnya. Ironinya, pelajaran itu kini tampak lebih dipahami oleh Ukraina daripada oleh Rusia sendiri.