Pengertian Dolmen, Sejarah, dan Lokasi Penemuannya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengertian dolmen bisa diartikan sebagai meja batu besar dengan permukaan yang datar. Umumnya meja tersebut digunakan sebagai tempat untuk meletakkan sesajian kepada arwah atau nenek moyang.
Menurut sejarah, dolmen termasuk hasil peninggalan dan kebudayaan dari masa megalitikum awal yang ditemukan pertama kali di Eropa, Asia, dan Afrika.
Di Indonesia sendiri, sudah banyak hasil peninggalan dolmen yang tersebar, seperti dolmen untuk kubur bati di Bondowoso dan Merawan hingga dolmen sebagai tempat pemujaan di Telagamukmim. Simak ulasan lengkap soal pengertian dan sejarah dolmen berikut ini.
Pengertian Dolmen
Menyadur buku Antropologi Sosial Budaya karangan Sriyana, S.Sos, M.Si, dolmen terdiri dari dua kata, yakni dol yang berarti meja dan men yang artinya batu.
Jika digabungkan, dolmen adalah meja batu besar dengan permukaan rata yang digunakan sebagai tempat untuk meletakkan sesaji untuk dipersembahkan kepada arwah nenek moyang.
Tidak hanya itu, dolmen terkadang dijadikan sebagai tempat untuk meletakkan roh atau tempat duduk ketua suku agar mendapat berkah magis dari para leluhurnya.
Bagaimana bentuk dolmen? Menurut buku Situs Megalitikum Lampung karangan Drs. Maskun, M.H, Sumargono, S.Pd., M.Pd, dolmen memiliki variasi bentuk yang tidak hanya berfungsi sebagai kuburan, tetapi juga dijadikan sebagai pelinggih roh atau tempat sesajen.
Meski demikian, ada juga dolmen yang berkaki menhir (batu tunggal) seperti di daerah Pasemah, Sumatera Selatan. Dan ada juga dolmen yang berbentuk seperti kubur batu, seperti yang ditemukan di Bondowoso dan di Merawan, Jember, Jawa Timur.
Apa ciri ciri dolmen? Apabila dilihat dari bentuknya, dolmen memiliki panjang hingga 325 cm, lebar 145 cm, dan tinggi 115 cm. Nantinya, dolmen tersebut akan disanggah oleh beberapa batu besar dan kecil.
Biasanya, batu-batu kecil yang digunakan sebagai penyangga disebut dengan umpak. Di zaman sekarang, batu-batu kecil tersebut dikenal sebagai cikal bakal adanya pondasi pada suatu bangunan.
Fungsi Dolmen
Dolmen memiliki berbagai fungsi, salah satunya sebagai tempat untuk menaruh sesajen bagi para leluhur. Namun, apakah fungsi lain dari dolmen? Mengutip buku Kebudayaan Megalitik di Dataran Tinggi Iyang-Ijen karangan Kayan Swastika, berikut fungsi-fungsinya:
Sarana meletakkan sesaji dalam ritual pemujaan nenek moyang.
Tempat berdiri putri raja saat menari dan tempat bagi putri-putri raja berlatih menari.
Tempat pelaksanaan ritus adat penaungan kumande dan mappeong.
Tempat atau sarana pelantikan raja.
Tempat atau sarana pelaksanaan angkat pela atau panas pela.
Tempat atau sarana ritus penggantian atap rumah adat.
Tempat memukul genderang untuk memanggil warga masyarakat supaya berkumpul.
Simbol pusat kampung.
Simbolisasi struktur sosial baik secara horizontal maupun secara vertikal.
Tempat duduk para pemimpin.
Tempat meletakkan sejarah jenazah agar terhindar dari binatang buas.
Sejarah Dolmen
Dolmen dari zaman apa? Dolmen merupakan hasil budaya dari zaman megalitikum atau batu besar.
Tidak hanya dolmen yang menjadi hasil budaya dari zaman megalitikum, ada pula menhir, sarkofagus, kubur batu, punden berundak-undak, hingga arca. Untuk lebih jelasnya, berikut pengertiannya.
Menhir adalah tugu dari batu tunggal.
Sarkofagus adalah keranda ata peti batu besar yang bentuknya seperti palung atau lesung dan diberi tutup.
Kubur batu adalah kuburan dalam tanah.
Punden adalah batu yang disusun secara bertingkat.
Arca adalah bangunan batu yang berbentuk manusia atau binatang yang merupakan perwujudan dari roh nenek moyang.
Merujuk pada buku Sejarah Indonesia Kelas x SMA/MA/SMK karangan Amurwani Dwi L, dkk, zaman megalitikum diartikan sebagai budaya yang pada umumnya diwujudkan dalam batu-batu besar.
Pendirian batu-batu besar tersebut juga diperuntukkan sebagai lambang atau sarana pemujaan terhadap arwah nenek moyang. Ada pula ciri-ciri dari hasil peninggalan zaman megalitikum, di antaranya:
Menggunakan dan meninggalkan kebudayaan batu besar
Berkembang dari zaman neolitikum (batu muda) dan zaman logam
Mulai tinggal menetap di suatu wilayah
Telah mengetahui sistem pembagian kerja dan gotong royong
Terdapat pemimpin kelompok
Sudah menerapkan food producing atau memiliki kemampuan bercocok tanam, beternak, dan nelayan
Membuat alat-alat dari gerabah dan sudah mulai memanfaatkan logam
Mulai mengenal kepercayaan animisme dan dinamisme (memuja roh nenek moyang)
Dalam buku Sejarah Daerah Jawa Barat yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, awalnya dolmen adalah sebuah batu besar yang terletak di atas batu-batu kecil lainnya. Kemudian, kebudayaan dolmen semakin berkembang dan kini disebut sebagai meja batu.
Penemuan dolmen sendiri sudah ada di berbagai daerah, contohnya Gunung Kaledong dekat Leles, ada batu besar berbentuk oval dan ditunjang oleh batu kecil lainnya sebanyak dua buah.
Kemudian, di daerah Serangsari, Subang terdapat juga sebuah batu yang diperkirakan seperti dolmen, tapi dinamakan oleh penduduk setempat sebagai Batu Panyuwangan. Menurut kepercayaan penduduk, batu tersebut dianggap sebagai tempat pertemuan arwah nenek moyang.
Lokasi Penemuan Dolmen
Dolmen merupakan hasil peninggalan dari suatu kebudayaan pada masa megalitikum awal atau 10.000 tahun sebelum masehi. Di Indonesia, dolmen banyak ditemukan pada zaman bercocok tanam dan umumnya terdapat di daerah Jawa Timur dan Sumatera Barat.
Menyadur buku Explore Ilmu Pengetahuan Sosial Jilid 1 untuk SMP/MTs Kelas VII karangan Mulya, dkk, lokasi penemuan dolmen di Indonesia, di antaranya Kuningan (Jawa Barat), Bondowoso dan Jember (Jawa Timur) serta Nusa Tenggara Timur.
Sementara itu, dolmen yang berkakikan menhir dapat ditemukan di Pasemah, Sumatera Selatan dan ada juga yang digunakan sebagai kubur batu, seperti yang ditemukan di Bondowoso dan di Merawan, Jember, Jawa Timur.
Selain itu, ada juga dolmen yang dijadikan sebagai tempat pemujaan, umumnya bentuk dolmen tersebut terdapat di daerah Telagamukmin, Sumberjaya, Lampung Barat.
Kemudian, temuan dolmen-dolmen lainnya ada di Pamatang, pulau Panggung, Nanding, Tanjungara, Pajarbulan, Gunung Megang, Tanjungsakti, Pagerdewa, dan Sumbawa.
(JA)
Frequently Asked Question Section
Apa pengertian dari dolmen?

Apa pengertian dari dolmen?
Dolmen adalah meja batu besar dengan permukaan rata yang digunakan sebagai tempat untuk meletakkan sesaji untuk dipersembahkan kepada arwah nenek moyang.
Apa ciri-ciri dolmen?

Apa ciri-ciri dolmen?
Apabila dilihat dari bentuknya, dolmen memiliki panjang hingga 325 cm, lebar 145 cm, dan tinggi 115 cm. Nantinya, dolmen tersebut akan disanggah oleh beberapa batu besar dan kecil.
Dolmen dari zaman apa?

Dolmen dari zaman apa?
Dolmen merupakan hasil budaya dari zaman megalitikum atau batu besar.
