Kumparan Logo

Dari Mancini, Ada Keyakinan pada Bernardeschi dan Doa untuk Balotelli

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pelatih Timnas Italia, Roberto Mancini. Foto: Andreas SOLARO / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Pelatih Timnas Italia, Roberto Mancini. Foto: Andreas SOLARO / AFP

Roberto Mancini menatap Serie A 2019/20 dengan penuh antusiasme. Dia menganggap bahwa pemain-pemain Italia, terutama yang berusia muda seperti Federico Chiesa, Stefano Sensi, Nicolo Barella, dan Federico Bernardeschi, bisa memberikan impak besar bagi klub yang diperkuatnya.

Sensi dan Barella akan berada dalam satu kubu musim ini. Mereka baru saja didatangkan Internazionale masing-masing dari Sassuolo dan Cagliari. Kedua pemain ini diproyeksikan jadi penghuni tim inti skuat besutan Antonio Conte bersama Marcelo Brozovic di lini tengah.

Chiesa, sementara itu, tampaknya akan bertahan di Fiorentina. Putra legenda sepak bola Italia, Enrico Chiesa, itu sebenarnya sempat hampir jadi pemain Juventus ketika Fiorentina masih dimiliki Della Valle Bersaudara. Namun, pemilik anyar Rocco Commisso enggan melepas winger 21 tahun tersebut.

Kemudian, ada Bernardeschi di Juventus. Ini adalah musim ketiga pemain berjuluk Brunulleschi itu bersama 'Si Nyonya Tua'. Kehadiran Maurizio Sarri sebagai pelatih diharapkan mampu memberi stabilitas posisi bagi pemain 25 tahun tersebut.

Pemain muda andalan Fiorentina, Federico Chiesa. Foto: AFP/Filippo Monteforte

Dalam kapasitasnya sebagai Commissario Tecnico Timnas Italia, Mancini berpendapat bahwa pemain-pemain tadi bisa mencapai level yang lebih tinggi. Akan tetapi, hal itu cuma bisa didapatkan dengan satu cara. Yakni, bermain secara konsisten.

"Sangat penting bagi anak-anak ini untuk bermain secara konsisten. Kalau ada yang cukup beruntung untuk melakukannya di kompetisi Eropa, itu lebih baik lagi. Namun, yang terpenting saat ini adalah mereka sudah menjadi pilar di tim masing-masing," kata Mancini dalam wawancara bersama La Gazzetta dello Sport.

"Dua tahun lalu mereka belum jadi seperti sekarang. Seharusnya itu bisa membuat mereka jadi lebih dewasa. Chiesa masih muda dan sangat berbakat. Sensi dan Barella adalah dua pemain luar biasa. Kuulangi lagi, luar biasa."

"Untuk Bernardeschi, ini adalah waktunya untuk bersinar, menjadi poros bagi Juventus. Dia punya teknik, kekuatan, dan kecepatan untuk melakukan itu. Dia bahkan bisa jadi salah satu yang terbaik di Eropa. Sudah waktunya dia meraih itu."

"Dia bisa bermain sebagai penyerang sayap, seorang false nine, seorang mezzala. Dia bisa melakukan segalanya. Bahkan ketika dia lebih sering bermain di posisi tertentu, bukan berarti dia tak mampu bermain di posisi lain karena pada dasarnya dia adalah seorang penyerang," papar Mancini.

Rodrigo Bentancur, Federico Bernardeschi, dan Frenkie de Jong pada laga Ajax vs Juventus leg I. Foto: AFP/Emmanuel Dunand

Menyambut Serie A musim 2019/20, ada sosok yang datang, ada pula yang pergi. Dalam hal ini, Mario Balotelli dan Moise Bioty Kean jadi sosok yang dimaksud.

Balotelli resmi kembali ke Serie A usai menerima pinangan Brescia. Sementara, Kean memilih untuk hijrah ke tanah Inggris untuk memperkuat Everton.

Soal Balotelli, Mancini masih setia dengan sikapnya. Selama si pemain belum benar-benar berada di jalan yang lurus, Mancini tidak akan memanggilnya ke Timnas. Meski demikian, dia berharap Balotelli bisa menemukan itu bersama Brescia yang merupakan klub kampung halamannya.

"Yang menarik dari Balotelli adalah sekarang umurnya sudah 29 tahun dan, untuk kali kedua dalam dua tahun beruntun, kurang dari 10 hari sebelum musim dimulai, dia belum yakin akan bermain untuk klub mana. Dengan begitu, persiapannya pun bakal kurang. Dia harus sadar bahwa ini bukan hal normal," ucap Mancini.

"Ini bukan soal Italia atau Brasil, tetapi tentang bagaimana dia mendapatkan tim. Apakah Brescia bakal jadi solusi yang bagus, itu semua bergantung padanya. Mungkin bermain lebih dekat ke rumah akan membuatnya lebih nyaman tetapi itu juga tidak akan cukup."

"Aku menyayangi anak itu, tetapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Dia harus ingat bahwa saat ini dia berada di usia emas dan dia masih punya banyak hal untuk diberikan. Ini semua adalah soal seberapa besar keinginannya untuk maju," lanjut mantan pemain Lazio dan Sampdoria tersebut.

kumparan post embed

Mengenai Kean, Mancini sebenarnya menyayangkan kepergian pemain berusia 19 tahun tersebut. Namun, Mancini sadar bahwa saat ini situasinya sudah tidak sama lagi untuk Serie A. Maka, ia cuma bisa berharap Kean bisa berkembang pesat di Premier League.

"Ya, sangat disayangkan karena dia orang Italia dan merupakan pemain Timnas, tetapi dia pergi untuk bermain di liga yang bagus dan sulit, bersama sebuah klub yang belum memenangi apa-apa dalam waktu lama. Itu akan membuatnya berkembang," tutur Mancini.

"Kekecewaanku sifatnya personal, tetapi kita semua tahu bahwa sepak bola sudah berbeda dari 20 tahun lalu ketika semua orang ingin bermain di Italia, di mana klub-klub memberimu gaji yang paling tinggi."

"Yang terpenting bagi Kean adalah dia harus tahu bahwa sebagai pemain muda, dia pasti akan membuat kesalahan. Jika itu terjadi dia tidak boleh lupa betapa beruntungnya dia. Dia, bersama [Nicolo] Zaniolo, harus mencamkan itu baik-baik di kepalanya," tambah pria 55 tahun tersebut.