kumparan
1 Okt 2018 9:05 WIB

Dua Hari Penghabisan Haringga Sirla

Lipsus Sepak Bola Tumbal (Foto: kumparan)
Haringga Sirla melewatkan banyak hal.
Ia, misalnya, tak akan tahu kalau lengkung bola mati dari Renan da Silva dan Haji Ismed ternyata efektif menembus pertahanan Persib Bandung. Haringga juga tak akan tahu trengginas aksi Macan Kemayoran sepanjang laga diparang dramatis gol Bojan Mališić di menit ke-94 pertandingan, mengakhiri rekor delapan kali pertemuan tanpa kalah mereka saat jumpa Persib Bandung.
ADVERTISEMENT
Haringga Sirla tak akan pernah tahu itu semua. Umur mudanya selesai di ujung piring, botol kaca, balok kayu, pukulan, dan injakan yang mengoyak tubuh gempalnya --tiga jam sebelum pertandingan dimulai. Nasib Haringga dan tim yang ia bela sama-sama berakhir nahas: Persija tumpas, ia sendiri tewas.
Jalan cerita tentu saja bisa berbeda. Namun, soal mengadili bahwa satu pihak bersalah sementara pihak lain suci tanpa dosa? Nanti dulu.
Persija Jakarta. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
Rencana menjalani away days ke Bandung datang mendadak di kepala Haringga. Sabtu (22/9), sehari sebelum jadwal pertandingan, Haringga melontarkan ide menonton langsung Persija dan mengajak Helmi, teman sejak kecilnya. Helmi tegas menolak.
“Bukan nggak bisa, tapi nggak mau. Gue tahu di Bandung kayak gimana,” cerita Helmi kepada kumparan, Kamis (27/9).
ADVERTISEMENT
Ia masih nongkrong bersama Haringga sampai Minggu dini hari (23/9). Ketika akan pulang lebih dulu pukul 02.00 WIB, Helmi sempat kembali mengingatkan Haringga untuk tidak nekat berangkat ke Bandung.
“Gue omelin. Gue nggak tahu kalau dia berangkat,” kata Helmi. Dia dan Haringga tahu The Jakmania telah mengimbau fans Persija agar tak berangkat ke Bandung.
Toh, pagi harinya, Instagram Story di akun Haringga menunjukkan ia telah berada di Bandung. Dan dia tak sendirian.
Mayrisa Sirawati, kakak Haringga, mengatakan adiknya berangkat dari Stasiun Gambir bersama seorang teman yang belakangan diketahui punya nama panggilan ‘Arab’, salah satu anggota Jakmania lain.
“Mereka naik bersama, tapi turun di beda stasiun. Mereka bertemu kembali di stadion,” ujar Mayrisa yang biasa disapa Risa.
ADVERTISEMENT
Sejak Sabtu, Haringga memang minta izin ke Risa untuk berangkat ke Bandung. Risa yang tak tahu ada jadwal main Persija di Bandung hari Minggu, tak melarang adiknya.
“Dia bilang ke saya, mau main ke rumah teman. Kalau dia bilang ke Bandung mau nonton bola, mungkin akan saya larang,” kata Risa kepada kumparan di kediamannya, Cengkareng, Jakarta Barat.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melayat ke rumah duka Haringga Sirla, Senin (24/9). (Foto: Dok. Pemprov DKI Jakarta)
Minggu menjelang pukul 13.00 WIB, Haringga dan Arab telah berada di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Mereka duduk-duduk di luar Ring 3 --garis awal pemeriksaan tiket masuk stadion.
Dari sejumlah kesaksian temannya, Haringga diduga belum memiliki tiket. Ini membuatnya tak bisa langsung masuk stadion.
Sekitar waktu itu, menjelang kejadian pengeroyokan, Haringga berdiri dan memotret tangannya membentuk huruf ‘J’, salam jempol telunjuk yang identik dengan Jakmania.
ADVERTISEMENT
Aksi itu berbuah petaka. Beberapa Bobotoh yang memergokinya langsung meminta identitas Haringga. KTP dan dompet Haringga direbut, telepon genggamnya dibuka, dan dari situ diketahui bahwa Haringga adalah Jakmania yang menyusup ke GBLA.
Tak ada yang tahu bogem siapa yang pertama mendarat di tubuh Haringga. Tensi tinggi kerumunan penonton di luar ring 3 GBLA yang tak segera bisa masuk stadion (atau yang tak kebagian tiket) jadi tumpah ruah ikut mengeroyok Haringga di dekat Pintu Biru GBLA.
Haringga yang sempat kabur dan meminta pertolongan tukang bakso sekitar, benar-benar terkepung. Kerumunan kadung brutal. Tak seorang tukang bakso pun di dunia mampu mengelakkan Haringga dari nahas saat itu.
Sementara di sekitar kejadian, Arab juga tak mampu berbuat banyak. Tahu akan bernasib sama apabila intervensi seorang diri, ia berlari mencari petugas yang mungkin berjaga di sekitar kejadian. Nihil.
ADVERTISEMENT
Tak punya pilihan lain, beberapa waktu kemudian Arab kabur dari GBLA dan langsung kembali ke Jakarta.
Saat rombongan dari Jakarta menjemput jenazah Haringga dari Bandung ke rumah keluarga ibunya di Indramayu, Arab muncul di sana. Ia menangis meraung. Pun begitu di rumah duka di Cengkareng, Jakarta. Arab muncul lagi penuh rasa bersalah.
“Nangis-nangis, minta maaf nggak bisa nolongin (Haringga),” ujar Helmi.
Video
Tak ada yang lebih sial daripada Haringga siang itu. Serangkaian kondisi tak menguntungkan membuatnya tak tertolong.
Mulanya adalah keterlambatan dibukanya gerbang tiket penonton. Menurut Kapolrestabes Bandung Kombes Irman Sugema, sesuai kesepakatan dalam rapat dengan panitia penyelenggara pertandingan (panpel) dan perwakilan kecamatan serta kelurahan sekitar, untuk pertandingan yang dimulai pukul 15.30 WIB, gerbang tiket sudah wajib dibuka pukul 11.00 WIB.
ADVERTISEMENT
“Tapi kenyataannya baru bisa dibuka panitia jam 12.00,” kata Irman kepada kumparan. Menurutnya, keterlambatan ini membuat penonton tertahan dan kerumunan membeludak di luar Ring 3.
Sementara itu, lanjut Irman, perwakilan-perwakilan dari panpel, Bobotoh, dan ormas Pagar yang mengurus tiket tak jadi muncul memberikan public address ke kerumunan penonton. Padahal, pada Match Coordination Meeting sehari sebelumnya, panpel dan pihak keamanan telah bersepakat untuk hadir di tengah antrean untuk menenangkan penonton yang berjibun.
Selain itu, fun zone seperti layar lebar untuk nonton bareng yang disebar ke berbagai titik di luar stadion juga tak maksimal. Padahal fasilitas itu diminta pihak keamanan.
Dari enam layar lebar yang diminta petugas keamanan, panpel hanya sempat mendirikan empat layar.
ADVERTISEMENT
“Empat layar yang terpasang dan on. Sisanya memang tidak, karena ketika petugas mau pasang sempat rusuh. Polisi juga mengeluarkan gas air mata,” ujar Budhi Bram, General Coordinator Bandung seperti dikutip dari Viking Persib. “Petugas ketakutan, panik dan menyelamatkan barang.”
Rekonstruksi pengeroyokan terhadap Haringga Sirla di Stadion GBLA Bandung, Rabu (26/9). (Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)
Kerumunan yang tak sabar terus mencoba masuk. Mereka mendorong pagar, dan mulai melempar benda ke arah petugas keamanan. Petugas bertahan dengan menguatkan barikade dan melemparkan gas air mata.
“Bahkan suporter Persib yang sudah masuk ke Ring 2, kena lemparan batu juga. Ketika suasana seperti itu kan kami harus melindungi,” ujar Kombes Irman.
Kerusuhan itu juga disaksikan langsung oleh Oleng, anggota Jakmania yang --seperti Haringga-- menyusup masuk ke GBLA. Oleng melihat sendiri bagaimana konsentrasi petugas terfokus menahan massa yang memaksa masuk stadion dan melempar batu ke arah petugas.
ADVERTISEMENT
“Polisi pada sibuknya di situ. Misalnya di pintu A, ya fokus di situ, enggak ada yang keliling,” kata Oleng kepada kumparan di Depok, Rabu (26/9).
Selain fokus pada kerumunan yang memaksa masuk, konsntrasi polisi juga terbagi dengan persiapan masuknya rombongan pemain dan ofisial Persija ke dalam Stadion GBLA.
Menurut pengamatan wartawan kumparan Bandung yang berada di lokasi, opsi jalur masuk ke GBLA yang minim membuat jalan satu-satunya menuju stadion tertutup oleh suporter yang membeludak.
Pada saat yang sama dengan ketika pengeroyokan Haringga terjadi, porsi cukup besar petugas keamanan telah mulai bersiap membuka jalur agar rombongan barracuda pemain Persija bisa masuk dari pintu barat.
The Jakmania (oranye) menyaksikan Persija bertanding. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Antusiasme kedua kubu suporter untuk mendukung tim kesayangannya memang tengah tinggi-tingginya. Ini terutama terjadi pada suporter Persib Bandung yang tengah memuncaki klasemen Liga 1 dan punya peluang terbesar untuk juara pada musim kompetisi kali ini.
ADVERTISEMENT
Tak heran, meski tiket sudah diumumkan habis pada H-1 pertandingan, tetap banyak Bobotoh yang nekat datang ke GBLA dengan harapan mendapat jatah dari calo yang memang masih bertebaran.
Antusiasme tinggi Bobotoh tersebut diamini Mungki, anggota senior Viking --salah satu kelompok suporter Persib dan bagian dari Bobotoh-- yang turut menyaksikan pertandingan langsung di GBLA.
“Pertandingan kali ini lagi seru-serunya, karena dua tim lagi bagus-bagusnya. Persib peringkat satu, Persija peringkat dua,” ujarnya di Bandung. “Seumur-seumur belum pernah liat Persib lawan Persija seramai itu.”
Kapasitas Stadion GBLA sendiri mencapai 36.500 penonton. Menurut data panpel, dari 34.097 lembar yang tersedia, hanya tersisa dua tiket. Sedangkan 2.786 tiket sisanya dibagikan kepada pihak sponsor PT. Liga Indonesia Baru (LIB) dan sponsor Persib.
ADVERTISEMENT
Padahal, menurut awak media lokal yang ditemui kumparan, jumlah massa yang hadir ke Stadion GBLA hari Minggu itu mencapai 50 ribuan orang. Artinya, hampir 15 ribu orang terkatung-katung di luar stadion dan memenuhi daerah luar ring Stadion GBLA.
Anggota The Jakmania ziarah ke makam Haringga Sirla di Indramayu, Senin (24/9). (Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)
Membeludaknya penonton bukannya tak diantisipasi oleh pihak keamanan.
Polrestabes Bandung mengerahkan 4.300 orang personel, dari Kepolisian maupun bantuan militer. Angka itu jauh lebih tinggi dari pengamanan pertandingan biasa yang hanya membutuhkan 2.000-an personel.
Bahkan, menurut Irman, Kepolisian telah mengajukan beberapa opsi lain untuk memastikan pertandingan berjalan tanpa insiden. Dalam beberapa rapat bersama panpel dan pejabat daerah setempat, Irman menyarankan agar pertandingan diundur dua hari dari Minggu ke Selasa (25/9), digelar di stadion lain, atau digelar tanpa penonton.
ADVERTISEMENT
“Kami membahas ini secara alot. Pertimbangannya, hari Minggu itu orang libur, pasti akan senang untuk nonton. Atau banyak orang ke Bandung liburan, dari Jakarta. Jadi, ada potensi konflik kekecewaan dilampiaskan ke target tertentu,” jelas Irman.
Minggu, 23 September, juga bertepatan dengan hari pertama masa kampanye pemilu. Maka, bagi Kepolisian, semakin banyak alasan untuk menunda laga Persib-Persija di Bandung.
Tapi saran penundaan itu ditolak karena berbagai alasan, sehingga Kombes Irman meminta agar pertandingan yang sedianya digelar malam hari dimajukan menjadi sore pukul 15.30 WIB.
“Potensi konflik lebih tinggi malam daripada siang hari, (karena malam) tidak kelihatan apa-apa lagi (gelap),” jelas Irman soal solusi tengah yang akhirnya diambil.
Dari keputusan itu pulalah penggandaan jumlah personel dilakukan. “Sesuai arahan Pak Kapolda untuk selalu overestimate.”
86 Nyawa Tumbal Sepak Bola (Foto: Basith Subastian/kumparan)
Dalam penyelenggaraan pertandingan yang pernah ia hadapi, ujar Irman, tidak ada standar operasional prosedur (SOP) saklek, baik dari PT LIB maupun PSSI. Panpel menyerahkan pengaturan keamanan sepenuhnya kepada Kepolisian.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya, persiapan soal keamanan dilakukan secara dinamis, fleksibel, dan situasional sesuai prediksi intelijen Kepolisian. Tentu dengan tetap menjalin koordinasi antara PSSI, panpel, dan petugas keamanan .
Sementara Pasal 4 soal Keamanan dan Kenyamanan Regulasi Liga 1 2018 menyebutkan, adalah wajib “[...] bertanggung jawab untuk memikirkan, merencanakan dan menjalankan sistem keamanan dan kenyamanan yang baik dalam pelaksanaan LIGA 1 di semua tempat yang terkait [...].” Ini termasuk pengaturan rencana pengamanan yang merujuk FIFA Stadium Safety and Security Regulations.
Soal itu, Irman mengatakan, “Saya belum baca kalau ada SOP-nya. Cuma kan kami lihat dinamisnya gini, Persib-Persija itu musuh bebuyutan, massanya banyak, nah pola (pengamanan)nya mungkin harus lebih banyak daripada yang biasa dilakukan.”
Kapolrestabes Bandung Kombes Irman Sugema dan Panpel Persib Budhi Bram di Stadion GBLA. (Foto: Dok. Polrestabes Bandung)
Terkait kemungkinan suatu saat nanti suporter tandang dalam pertandingan tensi tinggi tetap bisa menonton di kandang lawan, Irman menjawab, “Itulah, maka kami mengajak para pihak terkait ikut berpikir juga bagaimana solusinya.”
ADVERTISEMENT
Menurutnya, dalam kasus Bandung, GBLA tak ideal menggelar laga besar.
“Sarana (Stadion Si Jalak Harupat) lebih baik daripada GBLA. Mulai dari pintu masuknya, layar lebarnya, tersedia. Di sini nggak ada. Jalur pintu (di Jalak Harupat) juga lebih banyak,” ujar Irman.
Dorongan untuk memperhatikan sarana pertandingan juga dikemukakan Muradi, pengamat polisi serta pertahanan dan keamanan dari Universitas Padjadjaran. Ia sependapat GBLA tak ideal untuk menggelar pertandingan besar macam Persib vs Persija.
“Jumlah 4.300 personel aparat dalam tataran pengamanan maximum security minimum risk sudah cukup. Ini (masalah) bukan pada pengamanan, tapi pada venue yang secara security tidak cukup baik,” kata Muradi.
Senada dengan Irman, ia menganggap GBLA yang cuma punya satu akses jalan, menyulitkan pengamanan masuk dan emergency exit.
ADVERTISEMENT
“GBLA itu kayak bottleneck. Udah nggak bisa (apa-apa). Apalagi seperti Haringga (yang berada di kandang lawan). Siapa pun yang diteriaki ‘maling’, sudah pasti celaka di situ,” tutup Muradi.

Sepak bola itu hiburan, bukan kuburan. Arena adu prestasi, bukan kekerasan. Satu nyawa itu mahal.

- Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer

------------------------
Ikuti laporan mendalam Sepak Bola Tumbal di Liputan Khusus kumparan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan