kumparan
23 November 2018 15:28

Genoa dan Sampdoria Berebut Kuasa di Pintu Masuk Sepak Bola

Sampdoria vs Genoa
Derby della Lanterna antara Sampdoria dan Genoa musim 2017/18. (Foto: Getty Images/Paolo Rattini)
Langit musim semi di Genoa begitu cerah siang itu ketika kurang lebih 30 ribu manusia tumpek blek di jalanan kota. Wajah mereka semringah. Yel-yel mereka teriakkan dengan lantang. Sebagian besar dari mereka berjalan kaki, tetapi ada pula beberapa mobil bak terbuka yang mereka gunakan untuk memeriahkan perayaan. Dari corong megafon, semuanya jadi lebih renyah.
ADVERTISEMENT
Suasana yang tampak bak parade itu itu sejatinya merupakan sebuah prosesi pemakaman. Sebuah peti mati berwarna biru digotong oleh sebagian dari mereka yang turun ke jalan. Di mobil bak terbuka tadi, tampak seorang pastor dan seorang janda yang mengenakan pakaian serba hitam. Namun, tak tampak mimik sedih di wajah mereka. Justru, tawa riang mereka makin membuat masyuk suasana.
Sekilas, suasana itu memang terlihat tidak wajar. Akan tetapi, dengan konteks yang tepat, semuanya bakal menjadi masuk akal. Pemakaman itu bukan pemakanan sungguhan. Alih-alih begitu, ia hanyalah sebuah olok-olok yang dieksekusi dengan banal dan masif. Hari itu, 22 Mei 2011, suporter Genoa Cricket and Football Club merayakan kematian rival sekotanya, Unione Calcio Sampdoria.
ADVERTISEMENT
Sepekan sebelumnya, Sampdoria kolaps. Di Stadion Luigi Ferraris, Sampdoria menjamu Palermo dalam partai Serie A pekan ke-37. Pertandingan itu adalah pertandingan hidup-mati bagi Sampdoria. Jika sampai kalah, tamatlah riwayat mereka di Serie A. Hasilnya, Sampdoria kalah 1-2. Kapten Angelo Palombo sampai menangis tersedu-sedu seusai pertandingan.
Musim itu tanda-tanda kehancuran Sampdoria sebenarnya sudah tampak sejak awal. Pada musim 2009/10, mereka berhasil finis di urutan empat klasemen untuk mengamankan tiket Liga Champions. Akan tetapi, Sampdoria kemudian gagal melaju ke putaran final usai disingkirkan Werder Bremen, sehingga harus rela turun kelas ke Liga Europa.
Video
Setelah itu, perlahan-lahan prestasi domestik Sampdoria pun ambles. Pada Maret 2011, pelatih Domenico Di Carlo dipecat dan digantikan oleh Alberto Cavasin. Namun, Cavasin tidak mampu berbuat banyak. Hasil buruk demi hasil buruk diterima hingga akhirnya riwayat mereka di Serie A pun tamat, setidaknya untuk sementara.
ADVERTISEMENT
Para suporter Genoa sebenarnya tahu bahwa kematian Sampdoria itu cuma sementara, tetapi mereka tak peduli. Mati, ya, mati, dan dari peringkat 10 di papan klasemen, Genoa menertawakan kematian Sampdoria yang mengakhiri musim di urutan 18.
***
Di Italia, kata derbi sudah mengalami perluasan makna. Semestinya, istilah itu hanya digunakan untuk menyebut pertandingan antara dua tim sekota yang saling bersaing memperebutkan supremasi atas kota tersebut.
Namun, di Italia sana, asalkan ada dua tim yang bersaing serta memiliki kesamaan-kesamaan tertentu, maka pertandingan antara mereka sudah bisa disebut sebagai sebuah derbi. Salah satu derbi yang sebenarnya bukan derbi itu adalah Derby dell'Appennino antara Fiorentina dan Bologna.
Dalam derbi tersebut, La Viola dan Rossoblu memperebutkan supremasi atas Pegunungan Apennini yang memisahkan Toskana (tempat Fiorentina berada) dan Emilia-Romagna (tempat kedudukan Bologna). Kerasnya derbi ini memuncak pada 1989 ketika suporter Fiorentina melempar molotov ke kereta yang mengangkut suporter Bologna sampai membuat seorang bocah 14 tahun terluka.
ADVERTISEMENT
Perluasan makna itu adalah satu dari dua hal yang membuat laga derbi antara Genoa dan Sampdoria menjadi spesial. Satu alasan lain adalah bagaimana derbi-derbi besar seperti Derby della Madonnina dan Derby della Capitale sudah dikooptasi sedemikian rupa sehingga derbi-derbi itu tak lagi jadi milik warga kota, melainkan milik dunia.
Derby della Lanterna, demikian derbi antara Genoa dan Sampdoria itu disebut. Seperti halnya Derby della Madonnina, nama Lanterna pada derbi ini juga diambil dari sebuah ikon kota. Madonnina di Milan adalah patung Bunda Maria kecil yang terletak di puncak Katedral Milan. Sementara, Lanterna adalah sebutan bagi mercusuar tua di Pelabuhan Genoa yang sudah berdiri sejak abad ke-12.
Sebagai kota pelabuhan, Genoa menjadi pintu masuk bagi sepak bola ke tanah Italia. Bersama Turin yang terletak di provinsi tetangga, kota ini menjadi titik nol sejarah Calcio. Genoa CFC yang berdiri pada 1893 pada saat ini berstatus sebagai klub sepak bola aktif tertua di Italia. Rivalitas sengit antara klub-klub di Genoa pun sudah dimulai ketika abad ke-20 masih seumur jagung.
ADVERTISEMENT
Pada masa itu, ada tiga klub di Genoa, yakni Genoa CFC, Andrea Doria, dan Sampierdarense. Di antara ketiganya, Genoa CFC adalah yang terkuat. Mereka adalah klub peraih gelar juara nasional pertama di Italia. Dikepung tiga klub Turin --Internazionale Torino, FBC Torinese, dan Ginnastica Torino, Genoa CFC menunjukkan kedigdayaan mereka.
Enam dari sembilan gelar juara Genoa CFC itu didapat ketika sepak bola di Italia masih sangat muda. Klub yang ikut serta ketika itu sedikit sekali dan Genoa CFC pun tak pernah menemui kendala berarti untuk membawa trofi ke kota mereka. Baru selepas 1905, klub-klub lain seperti Juventus, Milan, Internazionale, dan Pro Vercelli mulai menguat. Saat itulah Genoa mengalami penurunan prestasi.
Genoa CFC (NOT COVER)
Genoa CFC musim 1923/24. (Foto: Wikimedia Commons)
ADVERTISEMENT
Genoa baru mulai bangkit ketika mereka merekrut William Garbutt sebagai pelatih pada 1912. Garbutt yang berasal dari Cheshire itu menghabiskan sembilan tahun berkarier di Reading, Woolwich Arsenal, dan Blackburn Rovers. Di usia 29 tahun, Garbutt pensiun sebagai pemain dan memulai karier di Genoa sebagai pelatih berkat rekomendasi seorang Irlandia bernama Thomas Coggins.
Pada era kepelatihan Garbutt, napas Inggris begitu terasa. Dengan pelatih dan pemain-pemain impor inilah Genoa CFC sukses mengembalikan trofi juara ke Genoa. Tiga gelar diraih Garbutt selama membesut Genoa CFC, yakni pada 1915, 1923, dan 1924.
Kegemilangan Genoa di bawah Garbutt itu tak cuma memunculkan decak kagum, tetapi juga rasa dengki. Benito Mussolini, pemimpin fasis yang memimpin Italia sejak 1922, tidak terima dengan kesuksesan Genoa CFC itu. Il Duce pun lantas memerintahkan Sampierdarnese dan Andrea Doria untuk melakukan merger demi melawan Genoa yang sudah jadi antek asing itu.
ADVERTISEMENT
Pada 1927, terbentuklah La Dominante Genova dari hasil merger Sampierdarnese dan Andrea Doria tadi. Akan tetapi, walau sudah menggunakan kata 'dominan' di namanya, klub karbitan ini tidak berhasil menggusur dominasi Genoa CFC di Genoa. Bahkan, La Dominante gagal terpilih jadi peserta bilamana Serie A pertama kali dihelat pada musim 1929/30. Klub ini pun akhirnya bubar jalan usai terdegradasi ke Serie C pada 1931.
Setelahnya, Sampierdarnese dan Andrea Doria menempuh jalan berbeda. Secara natural, Sampierdarnese menjadi klub yang lebih sukses. Mereka bahkan bisa menembus Serie A pada musim 1933/34. Kemudian, ketika berhasil mengakhiri musim 1938/39 di urutan kelima, klub kelahiran 1897 ini melakukan merger dengan Corniglianese dan Rivarolese untuk membentuk Liguria Calcio. Liguria sendiri merupakan nama region tempat kota Genoa berada.
ADVERTISEMENT
Liguria bertahan sebagai sebuah klub sampai Perang Dunia II kelar pada 1945. Setelahnya, mereka kembali melakukan merger. Kali ini, merger dilakukan dengan Andrea Doria yang sukses menembus Serie A pada musim 1945/46. Tak lama sebelumnya, Mussolini ditembak mati dan mayatnya digantung terbalik di Piazzale Loreto, Milan.
Benito Mussolini
Benito Mussolini (kiri) dan Hitler (kanan) (Foto: Wikimedia Commons)
Kendati Mussolini sudah mampus, idenya untuk menggulingkan Genoa CFC masih bertahan di psike klub-klub lain di Genoa. Dari situlah kemudian lahir Unione Calcio Sampdoria dari hasil merger antara Liguria dan Andrea Doria tadi. Warna merah-hitam khas Sampierdarnese digabung dengan warna biru-putih khas Doria. Jadilah Sampdoria yang kita kenal sekarang lahir.
***
Sampdoria tak membuang waktu untuk mendongkel Genoa CFC dari puncak rantai makanan persepakbolaan Genoa. Presiden mereka, Amedeo Rissotto, langsung meminta pemerintah kota agar Sampdoria bisa menggunakan Stadion Luigi Ferraris sebagai markas. Permintaan itu pun dikabulkan karena pemerintah kota menganggap, Sampdoria juga merupakan klub dari Genoa.
ADVERTISEMENT
Derby della Lanterna pun langsung tersaji di musim 1946/47. Dalam dua pertemuan musim itu, Sampdoria selalu berhasil memetik kemenangan. Pertama dengan skor 3-0, kedua dengan skor 3-2. Dua laga derbi itu merupakan penanda bahwa setelahnya, Sampdoria berhasil menjalankan misi penggulingan Genoa. Ini terlihat dari 42 kemenangan yang diraih La Samp, berbanding 29 kemenangan milik Il Grifone.
Meski demikian, Sampdoria butuh waktu cukup lama untuk bisa mencapai kejayaan di level nasional. Pada 1980, klub ini diambil alih oleh pengusaha minyak bernama Paolo Mantovani saat masih berlaga di Serie B. Perlahan, Sampdoria bangkit. Titik balik kebangkitan itu adalah ketika mereka sukses menjuarai Coppa Italia edisi 1984/85.
Dari sana, Mantovani semakin serius dalam menjalankan proyeknya. Pada 1986, Vujadin Boskov ditunjuk untuk menjadi pelatih dan Sampdoria pun semakin menggila. Mereka berhasil menambah koleksi trofi Coppa Italia di musim 1987/88 dan 1988/89 serta berjaya di ajang Piala Winners. Pada 1989, mereka menjadi runner-up, semusim berikutnya Sampdoria menjadi juara.
ADVERTISEMENT
UC Sampdoria (NOT COVER)
Sampdoria musim 1991/92. (Foto: Wikimedia Commons)
Gelar juara Coppa Italia dan Piala Winners itu lantas dilengkapi dengan gelar Scudetto musim 1990/91. Gelar juara ini membawa Sampdoria ke ajang European Cup (pendahulu Liga Champions, red) di mana nantinya, dengan diperkuat pemain-pemain macam Gianluca Pagliuca, Pietro Vierchowod, Gianluca Vialli, dan Roberto Mancini, mereka sukses menembus final. Sayang, di partai puncak itu Sampdoria ditekuk Barcelona asuhan Johan Cruijff.
***
Rivalitas Genoa dan Sampdoria sempat meredup pada dekade 1990-an dan 2000-an. Penyebabnya, kedua kesebelasan itu kesulitan menemukan konsistensi prestasi di level tertinggi persepakbolaan Italia. Baru pada dekade 2010-an keduanya bisa menjaga stabilitas prestasinya. Derby della Lanterna pun sekarang menjadi semarak lagi
Saat ini, Sampdoria sedikit lebih unggul ketimbang Genoa. Di bawah asuhan Marco Giampaolo, mereka memainkan sepak bola pendek merapat yang sempat membikin Napoli bertekuk lutut 0-3 pada awal musim. Namun, belakangan Sampdoria mulai kedodoran sehingga sekarang harus bercokol di urutan ke-12.
ADVERTISEMENT
Genoa, sementara itu, sedang kebingungan. Sang presiden, Enrico Preziosi, doyan sekali mengganti pelatih, meski akhirnya sosok yang dipilih cuma itu-itu lagi. Kalau tidak Ivan Juric, ya, Davide Ballardini. Saat ini mereka duduk di peringkat ke-14, hanya tertinggal satu angka dari Sampdoria yang memiliki koleksi 15 poin.
Pada Senin (26/11/2018) dini hari pukul 02:45 WIB mendatang, Genoa dan Sampdoria akan bersua di Marassi. Bagi keduanya, kemenangan di pekan ke-13 nanti adalah harga mati. Pasalnya, selain untuk memperbaiki posisi di klasemen, tiga poin akan membuat sang pemenang beserta para pendukungnya memiliki hak pamer yang bakal bertahan setidaknya sampai mereka bertemu lagi tahun depan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan