kumparan
1 Oktober 2018 9:21

Memutus Rantai Kematian Suporter di Laga Tandang

FOTO LIPSUS, SUPORTER, Koreografi Persib vs Persija di Stadion GBLA.
Koreografi Persib vs Persija di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. (Foto: Sandi Firdaus/kumparan)
Sepak bola bukan medan perang dan stadion bukanlah kuburan. Sayangnya, pepatah itu belum berlaku di Indonesia. Sejak tahun 1994, menurut catatan organisasi Save Our Soccer, sepak bola di negeri ini telah menumbalkan 86 nyawa suporter dari 76 kejadian.
ADVERTISEMENT
Korban terakhir ialah Haringga Sirla, seorang Jakmania--pendukung klub Persija Jakarta-- yang meregang nyawa setelah dikeroyok Bobotoh--sebutan untuk suporter Persib---di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Minggu (23/9). Ia tewas beberapa jam sebelum pertandingan Persib melawan Persija berlangsung pada pukul 16.00 WIB.
Peristiwa nahas yang seharusnya tidak terjadi. Andai rivalitas tidak mewujud dalam kekerasan yang membabi buta, andai imbauan untuk tidak datang ke kandang lawan dituruti, andai keamanan penyelenggaraan pertandingan terlaksana dengan baik. Andai-andai yang kini sudah waktunya menjelma jadi hasil evaluasi yang lebih konkret.
Beberapa hari sebelum pertandingan Persib vs Persija terlaksana, imbauan baik dari pihak kepolisian maupun pengurus Jakmania sudah disebar. Seluruh pihak mengimbau agar The Jak tidak bertandang ke “kandang macan” --Persib dijuluki maung (macan) Bandung. Alasannya, tentu saja demi keamanan.
Sebelum Haringga: Korban Persib vs Persija
Sebelum Haringga: Korban Persib vs Persija (Foto: Basith Subastian/kumparan)
Perseteruan antara Bobotoh dan Jakmania yang setidaknya berlangsung sejak 19 tahun lalu, memang cukup sengit dan mematikan. Sebelum Haringga, setidaknya ada lima orang lain yang telah menjadi tumbal ganasnya perseteruan antara Jakmania dan Bobotoh.
ADVERTISEMENT
Tapi, apa artinya imbauan bagi para suporter fanatis yang berani--jika bukan nekat--menyaksikan pertandingan klub idola mereka. “Gengsi dan kecintaan kepada Persija,” menurut Diky Soemarno, Sekretaris PP Jakmania, menjadi salah satu alasan suporter rela melakukan away days (mendukung tim untuk partai tandang).
Hal itu ditambah dengan rasa penasaran menyaksikan dan merasakan langsung laga Persija di Bandung. Alasan yang juga melatarbelakangi Oleng (bukan nama sebenarnya) untuk datang ke Bandung demi mendukung Persija.
Ya, Haringga bukan satu-satunya Jakmania yang datang ke kandang lawan. Oleng adalah satu di antara sejumlah Jakmania lain yang juga nekat hadir di GBLA. Kenekatan Oleng untuk datang sore itu adalah demi menunaikan nazarnya tahun lalu.
Saat itu ia menonton pertandingan Persib vs Persija di televisi, Minggu 22 Juli 2017. Ia menyaksikan bagaimana Bobotoh meneror bus yang mengantarkan pemain Persija dengan melemparkan flare dan botol ke dalam lapangan. Aksi itu menggugahnya untuk membuktikan langsung, seberapa kuat teror pertandingan di kandang Maung Bandung.
FOTO LIPSUS, SUPORTER, Bobotoh, Suporter Persib
Suporter Persib Bandung. (Foto: Antara)
“Gue penasaran kenapa sih kalau Persija main di Bandung terornya kuat,” ujar pemuda asal Depok, Jawa Barat, ini kepada kumparan, Kamis (27/9). Baginya Persija tidak hanya klub favorit, tapi juga semangat hidupnya. “Karena klub pertama yang gue kenal itu Persija.”
ADVERTISEMENT
Menunggang vespa berplat nomor D (plat nomor wilayah Bandung), Oleng berangkat ke Bandung bersama temannya pada Sabtu malam, (22/9). Esoknya, ia menginjakkan kaki di Stadion GBLA dengan dua kawannya sekitar pukul 13.30 WIB--beberapa saat setelah Haringga dikeroyok Bobotoh di Ring 3 stadion.
Saat itu kondisi di GBLA sudah disesaki puluhan ribu Bobotoh. Bahkan, menurut Oleng, polisi cukup kesulitan membendung antusiasme Bobotoh yang memaksa masuk ke Ring 2 stadion.
Di tengah antusiasme puluhan ribu suporter rival itu, ia sadar kalau mereka belum punya tiket. Padahal tiket yang disediakan di loket sudah ludes terjual.
Mau tak mau, ia harus mencari calo penjual tiket. Itu artinya, mesti berkomunikasi secara lisan untuk tawar-menawar. Celakanya, Oleng tidak bisa berbahasa Sunda. Logat Jakarta-nya yang kental rawan terendus dan dicurigai orang-orang. Itu bisa berakibat fatal, karena identitas mereka sebagai Jakmania bisa terbongkar.
ADVERTISEMENT
Ya, Oleng memang berniat untuk menyusup, tidak menunjukkan jati dirinya sebagai Jakmania. Sebab, ia tahu bahaya yang bisa menyerangnya.
Beruntung kawannya bisa sedikit berbahasa Sunda sehingga mereka bisa mendapat tiket meski dengan harga dua kali lipat harga aslinya. “Gue dapat tiket Rp 100 ribu karena nawar. Yang nawar juga bukan gue, karena gue nggak bisa bahasa Sunda. Yang nawar itu temen gue karena pacarnya anak sana. Jadi sedikit ngerti bahasa Sunda,” papar Oleng.
Sukses mendapat tiket tidak lantas membuatnya bernafas lega. Oleng mengaku tetap gugup dan takut. Ia tahu rasa itu akan menghampirinya, maka ia membekali diri dengan sejumlah tips hasil konsultasi dengan kawan Jakmania lain yang juga pernah melakukan away days.
FOTO LIPSUS, SUPORTER, Persib Bandung vs Persija Jakarta
Persib Bandung vs Persija Jakarta. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
“Sebelumnya, gue juga udah nanya-nanya ke anak (Jakmania) Pademangan. Bagaimana sih lu bisa ke stadion rival? Ya intinya, jangan panik. Kalau ada yang negur jalan aja, kayak lu nonton Persija main di Gelora Bung Karno,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Selain itu, Oleng paham peta kerawanan di dalam stadion. Ketika masuk, ia memilih melewati pintu barat stadion dan mencari kursi di sekitar suporter yang membawa anggota keluarga. Ia juga memastikan tempat duduknya tidak berada jauh dari pintu keluar stadion.
“Gue nyari tempat duduk yang dekat pintu keluar. Nah, di situ gue sebisa mungkin nyantai, meskipun agak gugup.”
Tak ingin identitasnya diketahui, Oleng menahan gembira ketika Persija mencetak gol. Sebaliknya, ia harus berpura-pura merayakan gol yang dicetak Persib, dan bahkan ikut menyanyikan lagu dukungan untuk rivalnya itu.
“Kalau Persija (cetak) gol, gue jangan bikin refleks. Kalau Persib gol gua cuma ikut tepuk tangan aja, tapi dalam hati tetap kesel. Kalau dia nyanyi, ya gue lipsync aja.”
ADVERTISEMENT
Ia juga menahan diri untuk tidak mengobrol sebab logat Jakarta-nya akan mudah dikenali. Jika diajak ngobrol, sebisa mungkin ia memanggil kang (panggilan untuk laki-laki dalam bahasa Sunda) dan hanya membalas percakapan dengan satu kata: nuhun (terima kasih).
Rasa tegang dan takut yang tak terbendung membuat Oleng memilih pulang di menit ke-70. Ia takut suporter casual Persib (suporter garis keras) akan melakukan sweeping.
“Takutnya, gue kena sweeping. Gue khawatir anak-anak casual Persib pada sweeping. Di antara anak-anak mereka itu ada yang kenal gue karena berteman di Facebook.”
Pukul 05.00 sore, Oleng memutuskan pulang ke Depok, Jawa Barat. Ia belum mengetahui perihal tewasnya Haringga hingga tiba di Cimahi. “Gue baru tahu (Jakmania tewas) di perjalanan. Teman gue lagi ngecek handphone dan ada yang bikin status RIP di video almarhum Haringga dikeroyok itu. Gue kaget, dan gue berhenti. Ternyata itu benar.”
ADVERTISEMENT
Video
Oleng dan Haringga adalah salah dua contoh suporter yang nekat menabrak aturan. Demi mendukung klub yang mereka cintai, segala bahaya mereka terjang. Entah demi loyalitas, gengsi, hingga uji nyali, kenekatan mereka bukan hal baru di sepak bola Indonesia.
Sebelumnya, kejadian serupa kasus Haringga juga terjadi usai laga antara PSIM Yogyakarta versus PSS Sleman pada Juli 2018. Seperti halnya pertandingan Persib vs Persija, laga PSIM vs PSS memang tergolong pertandingan berisiko tinggi. Oleh sebab itu, panpel dan pihak kepolisian melarang pendukung PSS bertandang ke markas PSIM.
Dalam pertandingan itu, Muhammad Iqbal Setiawan yang baru berusia 16 tahun, dikeroyok hingga tewas oleh suporter PSIM Yogyakarta. Siswa kelas dua SMK itu meninggal setelah mengalami patah leher dan luka di pelipis sebelah kanan. Tidak hanya itu, dua kawan Iqbal, Edi Nugroho dan Ahmad Sidiq juga mengalami luka berat.
ADVERTISEMENT
Ketiganya dikeroyok setelah suporter PSIM menemukan logo PSS Sleman di telepon genggam milik dua orang di antara mereka bertiga. Alhasil, ketiganya diamuk massa yang kalap.
86 Nyawa Tumbal Sepak Bola
86 Nyawa Tumbal Sepak Bola (Foto: Basith Subastian/kumparan)
Imbauan hingga larangan nyatanya tak cukup menahan suporter untuk datang ke kandang lawan. Tak hanya sekali suporter yang dilarang bertandang tetap nekat melawat bahkan dalam jumlah massa yang cukup besar.
Aksi macam itu pernah dilakukan suporter PSIM Yogyakarta pada pertandingan Divisi Utama Liga Indonesia melawan PSS Sleman di tahun 2014. Saat itu, meski sudah dilarang panpel dan pihak kepolisian, ribuan suporter yang mengatasnamakan Fans PSIM tetap datang dan memenuhi tribun timur Stadion Maguwoharjo.
Akibatnya, aparat keamanan mau tidak mau tetap harus mengawal kedatangan mereka ke stadion. Di tengah pertandingan, seperti yang sudah diduga, kerusuhan pecah di dalam stadion. Namun, kerusuhan itu tidak sampai menimbulkan korban jiwa.
ADVERTISEMENT
Kerusuhan serupa juga pernah berlangsung saat PSIM menjamu PSS Sleman di Stadion Mandala Krida pada musim 2010. Bedanya, saat itu, 1000 suporter PSS diizinkan menonton pertandingan dengan pengawalan ketat pihak kepolisian--dan bahkan disambut hangat oleh Brajamusti, pendukung PSIM.
Namun, pertandingan tetap berakhir ricuh dan harus terhenti di menit ke-63, setelah aparat kepolisian menembakkan gas air mata ke arah suporter PSIM. Menariknya, baik pada pertandingan tahun 2010 atau 2014, tidak ada satu pun suporter yang kehilangan nyawanya.
Polisi mengamankan seorang suporter
Polisi mengamankan seorang suporter (Foto: Antara/Mohammad Ayudha)
Skema keamanan yang dijalankan pada saat pertandingan PSIM vs PSS di 2010 itu serupa dengan pengelolaan suporter dalam pertandingan berisiko tinggi dengan skema bubble match. Caranya dengan mengontrol kedatangan suporter tim tamu mulai dari pengaturan transportasi, titik berkumpul, tiket, hingga kepulangan.
ADVERTISEMENT
Di Inggris--negara yang pernah mengalami kasus kekerasan suporter sepak bola (Tragedi Heysel)--alih-alih melarang suporter rival bertandang, pihak kepolisian dan federasi justru menjamin keamanan mereka. Para suporter itu dikawal sejak keberangkatan hingga pulang.
Dalam mekanisme bubble match--yang biasanya diterapkan pada pertandingan kategori C, atau high risk match--suporter tamu akan diberi kuota untuk melawat ke kandang lawan dengan syarat harus mematuhi aturan main yang berlaku. Mereka harus bersedia tunduk dan patuh mengikuti arahan polisi yang bertugas menjamin keamanan.
Berdasarkan artikel yang diterbitkan Federasi Sepak Bola Inggris (Football Association), “Summary of Measures Taken to Prevent Football Violence”, FA dan pihak kepolisian punya mekanisme khusus untuk memperlakukan pertandingan yang dikategorikan beresiko tinggi.
ADVERTISEMENT
Pertama-tama, mereka akan berkoordinasi untuk memastikan perjalanan tandang suporter dilakukan secara terorganisir. Itu artinya, suporter harus berangkat bersama-sama dalam kelompok besar dengan pengawalan polisi. Polisi juga akan memastikan rute yang akan dilewati aman dari pencegatan atau gangguan suporter lawan.
Dalam kasus tertentu, terutama dalam pertandingan berkategori C+, atau sangat beresiko, suporter tamu diharuskan membeli voucher pertandingan terlebih dahulu. Voucher itu baru dapat ditukar tiket menjelang keberangkatan.
Polisi
Polisi berkuda di Wembley. (Foto: Reuters/Dylan Martinez)
Di dalam stadion, suporter tamu sebisa mungkin dipisahkan dari suporter tuan rumah. Dalam pertandingan berkategori C+, jumlah polisi dan steward (petugas dari klub) biasanya akan ditambah hingga dua kali lipat.
Setelah pertandingan berakhir, suporter tamu baru diizinkan beranjak dari stadion beberapa saat setelah suporter tuan rumah lebih dulu keluar. Di perjalanan pulang, suporter tamu tetap mendapat pengawalan ketat polisi sampai tiba di titik awal keberangkatan.
ADVERTISEMENT

Sepak bola itu hiburan, bukan kuburan. Arena adu prestasi, bukan kekerasan. Satu nyawa itu mahal.

- Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer

Koordinator Save Our Soccer, Akmal Marhali, mendukung sistem bubble match diterapkan di Indonesia. Menurutnya, berkaca dari sepak bola Inggris, pendekatan itu berhasil menekan angka hooliganisme (perilaku mengganggu atau melanggar hukum seperti kerusuhan, bullying, dan vandalisme) di sepak bola Inggris.
Bahkan, ia menyebut sistem itu pernah dicoba di Jakarta, saat Final Piala Presiden 2015, di Stadion GBK yang mempertemukan Persib versus Sriwijaya FC.
Dalam pertandingan itu, pihak kepolisian mengizinkan sekitar 60 ribu Bobotoh bertandang ke Jakarta. Berkat manajemen pengamanan yang baik, pertandingan bisa berjalan aman dan lancar.
FOTO LIPSUS, SUPORTER, Viking
Suporter Persib Bandung (Ilustrasi) (Foto: ANTARA/Risky Andrianto)
“Kenapa aman? Karena semua turun tangan, dari gubernur, polisi, lalu suporter persija dan persib. Kenapa ini tidak dicoba di sepak bola kita,” ujar Akmal mempertanyakan kebijakan yang melulu melarang suporter tamu datang. Keputusan yang akan terus jadi persoalan selama standar keamanan penyelenggaran pertandingan sepak bola tidak dievaluasi.
ADVERTISEMENT
Pada akhirnya, PSSI dan pemerintah mesti kembali mempertimbangkan aturan pelarangan suporter tandang di laga sarat gengsi, seperti Persib vs Persija, Persebaya vs Arema, atau PSIM vs PSS. Sejarah membuktikan, imbauan acapkali hanya sekadar kata-kata kosong belaka yang tak mempan membendung hasrat suporter untuk mendukung klubnya bertanding.
The Jakmania dan Aremania, The Jakmania
The Jakmania (oranye) menyaksikan Persija bertanding. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
------------------------
Ikuti laporan mendalam Sepak Bola Tumbal di Liputan Khusus kumparan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan