kumparan
search-gray
Mom23 Februari 2018 14:24

Ternyata Janin Bisa Buang Air Kecil di Dalam Kandungan

Konten Redaksi kumparan
Ternyata Janin Bisa Buang Air Kecil di Dalam Kandungan (32479)
Ilustrasi janin dalam kandungan. (Foto: Pixabay)
Mungkin Anda sudah tahu kalau bayi di dalam kandungan atau janin, suka mengisap jempol. Tapi apakah Anda tahu bahwa di dalam sana, janin juga buang air kecil?
ADVERTISEMENT
Ya, janin juga buang air kecil atau kencing di rahim Anda. Sering dan banyak bahkan. Kalau Anda tidak asing dengan istilah air ketuban atau cairan amnion, itulah kencing atau urine bayi, Moms.
Dikutip kumparanMom (kumparan.com) dari Little Things, memasuki usia 8 minggu, janin mulai menghasilkan urine yang masuk kedalam rongga amnion. Urine janin inilah yang menjadi salah satu bahan utama produksi cairan amnion. Lalu saat ginjal bayi terbentuk sepenuhnya di minggu ke 13 hingga 16 atau akhir trimester pertama, bayi akan mulai menelan cairan amnion, mengeluarkannya dalam bentuk urine, dan menelannya lagi.
Begitu seterusnya hingga pada trimester ketiga sampai waktunya lahir nanti, hampir 100% air ketuban yang mengelilingi janin sebenarnya adalah urine.
Ternyata Janin Bisa Buang Air Kecil di Dalam Kandungan (32480)
Ilustrasi janin dalam kandungan. (Foto: Thinkstock)
Mungkin Anda merasa jijik membayangkannya, tapi proses yang dialami ini justru dapat memberi petunjuk kepada dokter mengenai beberapa aspek penting kesehatan janin. Itu sebabnya tingkat cairan amnion dimonitor selama kehamilan. Tingkat yang terlalu rendah dapat mengindikasikan bahwa ginjal bayi tidak berfungsi dengan baik, dan kadar yang terlalu tinggi dapat mengindikasikan bahwa janin mengalami kesulitan menelan.
ADVERTISEMENT
Kalau bisa buang air kecil, apakah janin juga buang air besar juga di dalam kandungan?
Ini lain lagi, Moms. Kotoran pertama bayi biasanya datang dalam waktu 24 jam setelah kelahiran. Ini disebut mekonium dan sangat lengket sehingga Anda mungkin akan kesulitan mencuci atau menghilangkan nodanya dari popok si kecil. Mekonium terdiri dari sel, lanugo dan cairan amnion, yang semuanya ditelan janin di dalam rahim.
Apabila mekonium sampai dikeluarkan bayi di dalam rahim, dokter mungkin akan perlu memonitor bayi untuk sementara waktu setelah kelahiran guna memastikan ia tidak menghirup mekonium ke paru-parunya, yang dapat menyebabkan infeksi.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white