Ahli Kebakaran UI Jelaskan Proses Terbakarnya Material ACP Gedung Kejagung

13 November 2020 16:12 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ahli dari Universitas Indonesia, Yulianto Sulistyo Nugroho menjelaskan proses terjadinya api dalam konferensi pers tentang kebakaran gedung Kejaksaan Agung di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (23/10). Foto: Sigid Kurniawan/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Ahli dari Universitas Indonesia, Yulianto Sulistyo Nugroho menjelaskan proses terjadinya api dalam konferensi pers tentang kebakaran gedung Kejaksaan Agung di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (23/10). Foto: Sigid Kurniawan/ANTARA FOTO
ADVERTISEMENT
Bareskrim Polri telah menetapkan 3 tersangka baru dalam kasus kebakaran hebat yang menghanguskan gedung utama Kejaksaan Agung 22 Agustus lalu.
ADVERTISEMENT
Dari hasil penyelidikan dan penyidikan serta olah TKP, ditemukan 2 hal yang menyebabkan gedung Kejaksaan Agung terbakar hebat. Pertama penggunaan cairan pembersih yakni minyak lobi bermerek Top Cleaner yang dianggap flammable (mudah terbakar) dan pemakaian Alumunium Composite Panel (ACP) untuk gedung, lagi-lagi menggunakan material yang gampang terbakar.
Yulianto Sulistyo Nugroho, Ahli Kebakaran Universitas Indonesia dalam jumpa pers di gedung Bareskrim Polri, Jumat (13/11), menjelaskan penyebab kenapa material ACP yang digunakan Kejagung ini gampang terbakar.
Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api yang membakar gedung utama Kejaksaan Agung di Jakarta, Sabtu (22/8). Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Foto
"Panel ACP terdiri dari 3 lapis. Lapis pertama dan lapis ketiga itu terdiri dari material yang terbuat dari alumunium. Di tengahnya ada material inti (core), ini bisa terbuat dari berbagai macam material. Yang umum dipakai yaitu material instalasi ini adalah Polyethylene," jelas Yulianto.
ADVERTISEMENT
Beberapa jenis ACP telah menggunakan material yang tidak mudah terbakar. Sementara untuk panel ACP yang dipakai di gedung Kejagung adalah bahan yang flammable. Fakta tersebut didapatkan setelah tim dari Puslabfor melakukan uji menggunakan material gedung Kejagung yang didapat saat olah TKP.
"Setelah kami mendapatkan sampel tersebut dan kami mendapatkan hasil di mana material panel ACP dipanaskan dan suhunya dibuat menyerupai api saat kebakaran dengan cara menghentikan penyaluran oksigen. Sehingga di sana terbentuk nyala difusi, adalah nyala yang pencampurannya berlangsung secara infusi sehingga udaranya berasal dari udara sekitar, sehingga temperaturnya lebih rendah," jelasnya.
Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api yang membakar gedung Kejaksaan Agung di Jakarta, Sabtu (22/8). Foto: Reno Esnir/Antara Foto
Salah satu ciri api dari material yang mudah terbakar ini berwarna oranye kekuning-kuningan. Dalam pengujian yang dilakukan di Puslabfor, terjadi tetesan material insulasi yang menyebabkan material lain yang ada di dekatnya ikut terbakar.
ADVERTISEMENT
"Di sini terjadi perambatan di bagian atas, banyak material yang menetes dan gugur sehingga kita bisa melihat dan muncul banyak kobaran api di bagian bawah. Inilah yang kemudian menyebabkan di bagian bawah terjadi temperatur yang relatif tinggi. Apabila ada objek di bagian bawah kena tetesan dapat turut terbakar. Apabila temperatur pecah kaca, panasnya masuk ke ruangan, sehingga ada combustible cladding di gedung, yang menambah terjadinya penjalaran api," kata Yulianto.
Ia mengatakan, dengan kondisi seperti itu, api dapat dengan mudah merambat ke bagian lain gedung, terlebih ketika sistem pemadaman api di gedung tersebut gagal memadamkan api yang sudah berkobar begitu besar.
"Apabila kebakaran di dalam ruangan tidak dapat dipadamkan sistem pemadaman untuk ruangan tersebut, maka api dapat merambat ke ruangan lain. Peristiwa ini kurang lebih sama dengan peristiwa yang terjadi di Grenfell Tower di London," ungkapnya.
ADVERTISEMENT