China Tolak Rencana WHO Investigasi Ulang Asal Usul COVID-19

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas keamanan berdiri di luar Institut Virologi Wuhan ketika anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki COVID-19 di Wuhan, China. Foto: Thomas Peter/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Petugas keamanan berdiri di luar Institut Virologi Wuhan ketika anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki COVID-19 di Wuhan, China. Foto: Thomas Peter/REUTERS

China dengan tegas menolak rencana WHO untuk melakukan investigasi ulang soal asal-usul virus penyebab COVID-19.

Dari total empat skenario WHO soal asal-usul virus corona, salah satunya meliputi hipotesis kebocoran laboratorium di China. Hipotesis itu sebelumnya telah dianggap oleh WHO sebagai skenario yang paling tidak memungkinkan.

Tetapi bulan ini, WHO mengutarakan rencananya untuk melakukan studi lanjutan soal asal-usul SARS-CoV-2, termasuk pemeriksaan laboratorium dan pasar-pasar di Kota Wuhan.

WHO juga meminta Pemerintah China untuk lebih transparan soal data-data terkait isu ini.

kumparan post embed

“Kami tak akan menerima rencana pelacakan asal-usul seperti ini, yang dalam sejumlah aspek, tak mengindahkan akal sehat dan menentang sains,” tegas Wakil Menteri Komisi Kesehatan Nasional China (NHC), Zeng Yixin, kepada wartawan pada Kamis (22/7/2021).

Zeng mengaku dirinya terkejut ketika membaca rangkaian rencana WHO, karena daftar tersebut meliputi hipotesis “Pelanggaran protokol laboratorium oleh China” menyebabkan virus SARS-CoV-2 bocor saat penelitian.

Peter Ben Embarek, anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki asal-usul pandemi penyakit virus korona (COVID-19) di Wuhan (30/1/2021). Foto: Thomas Peter/REUTERS

“Kami berharap, WHO dapat meninjau kembali pertimbangan dan saran yang diberikan oleh ahli-ahli di China, dan benar-benar memperlakukan pelacakan ini sebagai masalah ilmiah, serta menghilangkan interferensi politik,” lanjut Zeng, seperti dikutip dari Reuters.

Zeng beserta pejabat pemerintahan dan ahli kesehatan China lainnya mendesak WHO untuk memperluas cakupan pelacakan ke negara-negara lainnya.

kumparan post embed

“Kami percaya bahwa kebocoran lab sangatlah tidak mungkin, dan rasanya tak perlu untuk membuang tenaga dan upaya dalam mendalami hipotesis ini,” ujar Ketua Tim China dalam Tim Ahli WHO, Liang Wannian.

Namun, menurut Liang, hipotesis ini tak boleh sepenuhnya dibuang. Ia menyarankan, jika bukti-bukti diperlukan, negara lain juga dapat meneliti adanya kemungkinan SARS-CoV-2 bocor dari lab-lab mereka sendiri.

Asal-usul COVID-19 memang masih terus diperdebatkan hingga sekarang.

Sejumlah pedagang menggunakan di Pasar Baishazhou Wuhan, Provinsi Hubei, China. Foto: AFP/Hector RETAMAL

Kasus COVID-19 pertama muncul di Kota Wuhan, China, pada Desember 2019 lalu. Virus SARS-CoV-2 ini dipercaya menular dan menjangkiti manusia melalui hewan yang dijual sebagai bahan makan di pasar basah.

Penelitian WHO soal isu ini telah dilakukan pada awal Januari lalu. Mereka menyimpulkan, skenario yang paling memungkinkan adalah penularan dari hewan ke manusia lewat hewan perantara yang masih belum diketahui jenisnya.

Tetapi, sebuah laporan oleh badan intelijen AS yang mengungkapkan ada tiga staf laboratorium Wuhan jatuh sakit pada November 2019, kembali memicu perdebatan soal teori kebocoran lab.

Akhirnya pada bulan Mei, Presiden AS Joe Biden memerintahkan investigasi mendalam untuk mencari jawaban atas asal-usul virus penyebab COVID-19.

kumparan post embed