User Stories: Memburu Emas di Pulau Buru

“Menurut pendapat saya, sebaiknya Pulau Buru ini dihutankan dan ditinggalkan selama seratus tahun. Karena pulau ini tidak vulkanis dan terdiri dari savanah, yaitu padang rumput yang diselang-selingi oleh hutan-hutan kecil," Pramodeya Ananta Toer, dalam sebuah wawancara yang dikutip Sindo News.
Pram salah. Atau bisa jadi waktu ia, yang masih menjadi tahanan politik Orde Baru, tak punya cukup informasi memadai yang dapat menjelaskan bahwa Buru bukan sekadar rerumputan serupa karpet bagi tanah yang kurang subur.
Pulau Buru adalah ladang emas. Ya, emas.
Tambang emas di Pulau Buru, yang ditutup pada 17 Maret 2017, mulai ramai sejak ditemukan oleh seorang warga bernama Susyono pada 2011. Informasi keberadaan tambang emas yang berada di Gunung Botak ini langsung tersebar ke berbagai wilayah. Ribuan penambang liar pun berdatangan.
Pada 2015, jumlah penambang di Pulau Buru mencapai puncaknya, yaitu 50.000 orang. Akan tetapi, maraknya penambangan emas justru mengerikan karena proses pengolahan tambang banyak menggunakan merkuri.
Merkuri yang biasa disebut air raksa atau cairan perak banyak digunakan oleh para penambang emas skala kecil. Harganya yang murah menjadi alasan para penambang mengapa mereka kerap menggunakan cairan tersebut.
Para penambang tak pernah peduli betapa limbah merkuri bisa mencemari lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan. Jika kadar merkuri di tanah dan air lebih dari 10.000 nanogram per meter kubik maka evakuasi perlu dilakukan.
Minggu lalu, kumparan melakukan liputan khusus mengenai pertambangan emas liar di Buru tersebut. Adapun infografisnya bisa Anda simak di bawah ini.

Untuk melengkapi perspektif lain dari laporan tadi, kumparan juga meminta kepada sejumlah praktisi terkait pertambangan
Yuyun Ismawati Drwiega, co-founder Balifokus Foundation, menulis soal persebaran merkuri yang kerap diperdagangkan secara ilegal dengan dibekingi oleh para oknum di banyak lokasi pertambangan. Selain itu, dalam tulisannya yang lain, Yuyun juga menyorot praktik masif Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) di banyak negara.
Andre Barahamin, salah seorang peneliti dari Yayasan Pustaka, menyoroti bagaimana pertambangan emas menyebabkan banyak kerusakan lingkungan di berbagai area di Indonesia akibat pemakaian merkuri dan sianida yang kelewatan.
Tentang betapa berbahayanya merkuri dalam praktik pertambangan emas menjadi sorotan utama Corry Yanti Manulang dalam tulisannya. Peneliti dari LIPI ini menjelaskan apa yang dimaksud merkuri, bagaimana cara kerjanya, hingga dampak yang ditimbulkan oleh zat cair tersebut.
Sementara itu, Dwi Sawung, salah seorang aktivis WALHI, menuliskan pengalaman sedih tentang bocah perempuan bernama Hesti yang tinggal di Cisitu, Banten. Hesti, yang mengidap penyakit Minamata sejak usia tiga tahun akibat hidup di area pertambangan, meninggal pada akhir Januari lalu.
Kini, pertambangan emas liar di Pulau Buru telah resmi ditutup. Ini langkah positif dari pemerintah yang layak diapresiasi. Ke depan, mari berharap ada solusi konkrit bagi para penambang liar agar mendapatkan profesi yang dapat mensejahterakan mereka. Sebab bagaimanapun, para penambang tersebut juga bagian dari orang-orang tak berdaya yang mencoba bertahan hidup.
Silakan baca tulisan-tulisan para praktisi di bawah ini.
Merkuri dan Pertambangan Emas Skala Kecil
Belajar Pencemaran Merkuri dari Hesti
