Boleh atau Tidak Dana Darurat & Investasi Digabung? Ini Penjelasannya
·waktu baca 2 menit

Ladies, banyak sekali orang yang menyepelekan dana darurat, terutama generasi milenial. Tak sedikit yang memilih tidak menyisihkan uang untuk dana darurat, kemudian membeli barang-barang konsumtif.
Padahal, tanpa disadari dana darurat sangat diperlukan untuk situasi yang tidak terduga. Salah satunya di masa pandemi ini, tak sedikit perusahaan yang harus mengurangi karyawannya karena pandemi yang berkepanjangan.
Nah, apabila hal tersebut terjadi kepada kamu, tentu hal yang dikhawatirkan adalah pemasukan yang harus berhenti secara tiba-tiba. Tapi, jika kamu memiliki dana darurat, kamu tentu bisa memiliki waktu senggang untuk mencari pekerjaan lain tanpa mengkhawatirkan keuangan.
Namun, Ladies, ada juga yang perlu kamu perhatikan selain menyisihkan uang untuk dana darurat. Ya, investasi. Tidak sedikit mungkin dari para pekerja yang sudah memikirkan masa depan dengan menyisihkan uang untuk investasi.
Seperti yang diketahui, investasi memang bertujuan untuk jangka waktu yang panjang. Sehingga, keuntungan yang kamu dapat dari berinvestasi pun tidak akan secepat itu. Lantas, apakah bisa dana darurat digabungkan dengan investasi? Atau justru sebaliknya, menjadikan investasi sebagai dana darurat?
Menurut Dennis SLL, investor muda sekaligus Co-Founder dari Sekolah Saham Indonesia, menggabungkan kedua kepentingan tersebut harus dilihat dari kondisinya seperti apa.
"Misalnya saya berangkat dari keluarga sederhana, sudah mulai bisa cari kerja dan enggak punya privilege juga dari orang tua, mulai dari tinggal sendiri, dan lain-lain. Otomatis jawabannya adalah enggak boleh," ungkap Dennis dalam kelas virtual bersama Bank OCBC NISP dengan tema 'No Gain No Pain: Sehat Finansial Sejak Muda' pada Selasa (13/7) pukul 19.00 WIB.
Dennis menambahkan apabila dana darurat dan investasi digabungkan, risikonya akan sangat besar. Misalnya saja kamu memiliki uang sebanyak Rp 5 juta dan ingin memasukannya ke investasi sekaligus sebagai dana darurat juga. Pada saat itu, investasi yang kamu lakukan hanya saham, otomatis kamu akan memasukkan seluruh uang tersebut ke saham.
Kemudian, tanpa diduga, saham tersebut mengalami penurunan, bertepatan dengan itu, kamu sedang dalam kondisi badan yang tidak fit, sehingga memerlukan uang untuk ke dokter. Namun karena dana darurat tersebut telah digabungkan dengan investasi, kemudian saham mengalami penurunan, uang yang kamu perlukan pada akhirnya tidak cukup untuk berobat.
"Jadi kita harus menaruh dana darurat kita di instrumen yang tidak fluktuatif (naik-turun harga). Jangan sampai menaruhnya di saham atau pun crypto. Tapi taruh di instrumen yang tetap, misalnya reksa dana atau deposito yang mudah di akses dan liquid. Saham memang liquid, mau jual sekarang, cair besok juga bisa. Tapi bisa mengalami penurunan karena fluktuatif. Jadi sangat tidak disarankan menaruh dana darurat di instrumen yang fluktuatif," jelas Dennis kembali.
Lantas, bagaimana dengan seseorang yang memang memiliki privilege? Bolehkah menerapkan metode ini? Atau ada saran lain yang bisa diterapkan?
"Beberapa orang mungkin masih memiliki privilege; tinggal sama orang tua, listrik dibayar orang tua, makan di rumah, dan lain-lain. Habis itu kalian sudah mulai nih dapat uang jajan sambil mencari kerja. Akhirnya dapat income nih, Rp 2 juta, terus kamu mau mulai investasi. Maka kamu bisa menyisihkan dana darurat seadanya saja. Jadi gak apa-apa kalau mau diinvestasikan," tambah Dennis.
Namun tetap, Dennis menyarankan agar tetap memisahkan dana darurat dan investasi ketika kamu sudah hidup mandiri. Dengan begitu, kamu tidak perlu khawatir akan apa yang terjadi di masa yang akan datang nantinya.
