Vatikan, Salah Satu Negara Eropa Pertama yang Akui Indonesia Merdeka
15 March 2017 7:35 WIB
0
0

VatikanGus Dur bersama Paus John Paul II (Foto:NU.or.id)
Vatikan bukan sahabat baru dalam sejarah Republik Indonesia yang kini berusia 71 tahun. Di antara negara-negara Eropa, Takhta Suci Vatikan merupakan salah satu yang pertama mengakui kedaulatan Indonesia. (Baca: Peluk Hangat Vatikan-Indonesia)
Kemerdekaan IndonesiaPengibaran bendera merah putih. (Foto:Wikimedia Commons.)
Merdeka. Lepas dari penjajahan negara asing. Itulah yang terjadi pada sebuah bangsa bernama Indoesia pada 17 Agustus 1945.
Melalui perjuangan panjang dan pertumpahan darah, kemerdekaan akhirnya diraih. Dukungan, setidaknya secara de facto, mengalir dari negara-negara di dunia untuk Indonesia.
Pengakuan atas kemerdekaan Indonesia pertama kali datang dari negara Islam yang memandang Indonesia sebagai aliansinya. Negara itu ialah Mesir.
Pengakuan Mesir atas Indonesia diberikan pada 22 Maret 1946, atas dorongan Ikhwanul Muslimin (IM), organisasi Islam pimpinan Hassan Al-Banna.
IM gencar memperlihatkan dukungannya untuk Indonesia, bahkan mendorong mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di Mesir untuk menulis tentang kemerdekaan tanah airnya.
Dukungan IM lantas jadi bola salju yang terus menggelinding, memicu dukungan lebih besar dari lingkup masyarakat Mesir, dan akhirnya pemerintah Mesir.
Setelah Mesir jadi negara pertama yang mendeklarasikan dukungannya atas Indonesia, menyusul berturut-turut Suriah, Irak, Lebanon, Yaman, Arab Saudi, dan Afghanistan.
Jokowi dan Sukarno bergandengan dengan Raja ArabJokowi dan Sukarno bergandengan dengan Raja Arab. (Foto:Via Reuters dan kingsaud.org)
Liga Arab juga berperan penting dalam menyokong kemerdekaan Indonesia. Isi keputusan Dewan Liga Arab pada 18 November 1946 mengimbau negara-negara anggotanya untuk mengakui kedaulatan negara Indonesia. Dukungan itu didasarkan pada ikatan persaudaraan, keagamaan, dan kekeluargaan.
Dukungan yang diberikan Liga Arab kepada Indonesia lantas menjadi sorotan dunia. Persahabatan antarnegara ini dipandang sebagai kebangkitan nasionalisme-Islam di Asia dan dunia Arab.
Tak cuma dari dunia Arab, dukungan kemudian datang dari Takhta Suci Vatikan, pusat peradaban agama Katolik dunia. Dukungan itu menambah kuat daya Indonesia untuk menjadi salah satu negara yang diakui penuh di kancah global.
VatikanVatikan (Foto:Pixabay)
Takhta Suci Vatikan merupakan salah satu negara Eropa pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia, ditandai dengan pembukaan misi diplomatik Vatikan di Jakarta pada tahun 1947 di tingkat Apostolic Delegate --misi diplomatik setara dengan Kedutaan Besar namun tanpa konsulat dan tanpa kewenangan mengeluarkan visa.
Menindaklanjuti dukungan awal tersebut, hubungan diplomatik resmi antara Indonesia dan Vatikan pun dijalin sejak 25 Mei 1950, dan terus berkembang, melahirkan saling pengertian yang baik.
Terlepas dari kontras latar belakang agama mayoritas penduduk yang menghuni kedua negara, Indonesia dan Vatikan berdiri di atas landasan dan falsafah bernegara yang sama, yakni antiateisme dan mendukung perdamaian dunia, kerukunan antarumat beragama, serta kesejahteraaan dan keadilan sosial bagi seluruh umat manusia.
Vatikan juga mengakui kontribusi besar Indonesia dalam upaya menciptakan perdamaian dunia melalui berbagai forum internasional.
Vatikan Paul John Paul II, Benediktus, dan Francis (Foto:Wikimedia Commons)
Vatikan ikut berupaya memelihara kerukunan kehidupan beragama di Indonesia, terutama terkait perkembangan dan kehidupan umat Katolik di Indonesia.
Takhta Suci Vatikan memandang, prinsip Indonesia yang menjunjung tinggi kebebasan beragama merupakan landasan dasar yang positif bagi kehidupan beragama dan bernegara.
Hubungan bilateral antara Indonesia dan Vatikan terus berkembang. Presiden Sukarno 4 kali mengunjungi Vatikan. Kemudian pada 1970, Paus Paulus VI melawat ke Indonesia, dan tahun 1989 giliran Paus Yohanes Paulus II yang datang ke Indonesia.
Tahun 2000, Presiden RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga menyambangi Vatikan. Disusul oleh suksesornya, Presiden Megawati, yang melawat ke Vatikan dua tahun kemudian, pada 2002.
Selanjutnya tahun 2009, Vatikan mengirim Kardinal Jean-Louis Tauran, Presiden Pontifical Council of Interreligious Dialogue Vatikan yang setingkat menteri, berkunjung ke Indonesia. Dialog antaragama pun digelar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga di Yogyakarta. Kardinal Tauran juga sempat bertemu dengan Sultan Hamengkubowono X.
Istiqlal Saksi Kemegahan Sejarah IbukotaMenlu Vatikan saat berkunjung ke Masjid Istiqlal. (Foto:Kevin Kurnianto/kumparan)
Berikut deretan duta besar Indonesia untuk Vatikan
1. Laksda. Moh. Nazir (1965-1967)
2. Husein Mutahar (1969-1973)
3. R.M. Subagio Surjaningrat (1973-1976)
4. Sunarso Wongsonagoro (1976-1980)
5. Laksda. Drs.R. Toto P. Supradja (1980-1984)
6. Mayjen. Pol (Purn) R. Hardiman Satrapoespita (1984-1987)
7. Roni H. Kurniadi (1987-1990)
8. Achyadi Syarif (1991-1995)
9. R. Suharyono (1995-1996)
10. Irawan Abidin (1996-2000)
11. Widodo Sutiyo (2000-2003)
12. Bambang Prayitno (2004-2007)
13. Suprapto Martosetomo (mulai 2007)
14. Budiarman Bahar (mulai akhir 2011)
15. Antonius Agus Sriyono (2016-sekarang)
Dari berbagai sumber

VatikanVatikan (Foto:Pixabay)

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan, isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab redaksi. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: