Akar yang Menolak Patah

R. Meganda Putra Brotodihardjo, kelahiran Bandung 2009. Siswa SMA Trinitas Bandung. Menulis untuk menginspirasi
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari R Meganda Putra Brotodiharjdo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di antara hamparan sawah yang menguning dan matahari yang tak pernah ingkar menyapa pagi, Pak Riyatno menanam lebih dari sekadar cabai. Di lahan kecil yang seluruhnya ia garap seorang diri, tanah kadang merekah saat kemarau panjang dan lumpur mengikat kaki ketika musim hujan datang tergesa. Namun di atas tanah yang tak selalu ramah itu, ia menitipkan keteguhan pada batang-batang cabai yang rapuh, ia menggantungkan harap. Pada setiap biji yang ia benamkan ke perut bumi, tersimpan doa-doa lirih yang tak pernah ia suarakan keras, sebab baginya hidup bukan semata tentang panen yang melimpah, melainkan tentang bagaimana tetap berakar meski angin berulang kali mencoba mencabutnya.
Sejak lama ia kehilangan sosok ibu. Luka itu belum benar-benar sembuh ketika, pada 1996, tepat setelah ia menamatkan bangku SMA, ayahnya terserang stroke. Di usia ketika teman-temannya sibuk mendaftar kuliah dan mengejar cita-cita, ia justru belajar mengganti popok orang tua, menyuapi makanan, dan mengangkat tubuh yang tak lagi mampu berdiri. Mimpinya mengenakan seragam tentara ia lipat rapi bukan karena tak mampu, melainkan karena keadaan memanggilnya pulang.
Rumah kecilnya berubah menjadi ruang perjuangan yang sunyi. Selain merawat ayahnya, ia juga menjaga adiknya yang mengidap sakit parah. Setiap hari ia membagi waktu antara sawah, obat-obatan, dan doa yang tak pernah putus. Pernah suatu malam, ketika listrik padam dan hanya lampu minyak menerangi ruangan, ia duduk di samping adiknya yang demam tinggi, menunggu pagi dengan mata yang tak terpejam.
Tahun 2002 menjadi titik yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya. Siang itu, saat ia sedang memberi obat, adiknya mengembuskan napas terakhir di hadapannya. Tidak ada teriakan. Tidak ada tangis yang pecah saat itu juga. Hanya sunyi yang panjang dan dada yang terasa runtuh perlahan. Dua tahun kemudian, 2004, ayahnya menyusul pergi. Dalam kurun waktu singkat, ia kehilangan hampir seluruh sandaran hidupnya.
Namun, ia tidak tumbang. Dua tahun ia hidup sendiri, menata ulang langkah dari sisa-sisa duka. Hingga pada 2006, ia memutuskan menikah, membangun kembali rumah yang sempat terasa kosong. Ketika istrinya mengandung pada 2007, kebahagiaan itu kembali diuji. Sakit berat membuat istrinya harus terbaring lemah. Ia kembali berjaga malam, kembali akrab dengan cemas. Tahun 2008, tangis bayi yang lahir sehat di ruang bersalin sederhana menjadi jawaban atas doa-doa panjang yang tak pernah ia hentikan.
Belum selesai ujian datang. Tahun 2010, ketika letusan Gunung Merapi mengguncang langit, abu turun seperti hujan kelabu. Atap rumahnya memutih, udara terasa berat. Istri dan anaknya harus mengungsi demi keselamatan. Ia memilih tinggal. Kambing-kambing dan ternak yang menjadi sumber penghidupan tak mungkin ia tinggalkan begitu saja. Di tengah bau belerang dan langit yang kelabu, ia berdiri sendiri. Bukan karena tak takut, tetapi karena merasa ada yang harus ia jaga.
Wajahnya tegas namun murah senyum. Tangannya kasar oleh tanah dan cangkul. Ia bangun setiap pukul lima pagi. Sebelum berangkat ke sawah, ia duduk sejenak di teras rumah, memandang cahaya yang perlahan menyentuh pucuk-pucuk padi. Dalam diam itu, ia seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri menata hati sebelum kembali berdamai dengan hari.
Sebagai petani dengan ekonomi yang pas-pasan, ia tahu betul rasanya ketika harga cabai jatuh tajam. Pernah suatu musim, hasil panen tak sebanding dengan biaya pupuk dan obat hama. Pernah pula ia harus mencari pekerjaan tambahan agar dapur tetap mengepul. Namun, dari bibirnya jarang terdengar keluhan.
“Hidup akan mudah jika kalian menjadi orang jujur dan disiplin,” katanya suatu pagi.
Dan kalimat lain yang sering ia ulang dengan suara tenang namun tegas, “Kita harus bisa berdiri di atas kaki kita sendiri tanpa mengharapkan bantuan orang lain.”
Kalimat itu bukan sekadar nasihat. Itu adalah cara ia bertahan ketika mimpi menjadi tentara harus ia lepaskan. Itu adalah prinsip yang membuatnya tetap tegak ketika kehilangan datang berlapis. Kejujuran, disiplin, dan kemandirian adalah akar yang ia tanam dalam hidupnya akar yang tak terlihat, tetapi menahannya dari tumbang.
Setiap pagi, sebelum beraktivitas, sebelum makan, dan sebelum tidur, ia mengajak keluarganya berdoa bersama. Doa-doa itu sederhana. Tidak panjang, tidak rumit. Tetapi di situlah ia menemukan kekuatan. Iman kepada Kristus menjadi pegangan yang tak pernah ia lepaskan keyakinan bahwa setiap musim, sekeras apa pun, selalu berada dalam rencana Tuhan.
Di sawah, ia belajar tentang sabar. Di rumah, ia belajar tentang kasih. Dari hidup yang jauh dari kata mewah, ia menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan tentang seberapa keras dunia menguji, melainkan tentang seberapa teguh seseorang memilih untuk tetap bersyukur.
Dan ketika pagi kembali datang, di antara tanah yang ia garap dan cabai yang ia rawat, Pak Riyatno terus menanam bukan hanya tanaman, tetapi juga harapan. Ia mungkin tak pernah menjadi tentara dalam arti yang sebenarnya, tetapi hidup telah menempanya menjadi prajurit yang lebih tangguh dari yang pernah ia bayangkan.
Hari terakhir live-in itu datang tanpa terasa. Pagi itu, sebelum saya benar-benar berpamitan, kami berdiri melingkar di ruang tamu sederhana itu. Seperti kebiasaan setiap hari, kami berdoa bersama. Namun kali ini doa itu terasa berbeda. Suaranya pelan, tetapi setiap kata seperti memiliki bobot yang lebih dalam.
Pak Riyatno memimpin doa. Ia mendoakan perjalanan saya agar selamat sampai tujuan. Ia mendoakan masa depan saya, agar saya menjadi pribadi yang jujur, disiplin, dan mampu berdiri di atas kaki sendiri. Di tengah doa itu, saya menunduk, berusaha menahan perasaan yang tiba-tiba menghangat di dada.
Setelah doa selesai, ia dan istrinya mendekat. Tangannya yang kasar memeluk saya erat. Untuk pertama kalinya, saya melihat mata yang biasanya tegar itu berkaca-kaca. Istrinya pun memeluk saya dengan hangat. Air mata mereka jatuh pelan, dan tanpa saya sadari, air mata saya pun ikut menetes.
Di pelukan singkat itu, saya merasa bukan lagi sekadar tamu yang singgah beberapa hari. Saya merasa seperti bagian kecil dari keluarga yang sederhana namun penuh kasih itu.
Melalui kegiatan Live-in SMA Trinitas Bandung tahun 2026, saya belajar bahwa keteguhan tidak lahir dari kemudahan. Saya belajar bahwa berdiri di atas kaki sendiri bukan berarti menolak pertolongan, melainkan berani bertanggung jawab atas hidup yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Dari sawah yang menguning dan tanah yang kadang retak itu, saya memahami bahwa hidup bukan tentang seberapa sering kita jatuh, tetapi tentang seberapa dalam akar kita tertanam.
Live-in ini bukan sekadar kunjungan singkat. Ia adalah perjumpaan yang diam-diam menanam nilai dalam diri saya. Ia mengajarkan saya untuk tidak mudah mengeluh, untuk menghargai setiap proses, dan untuk percaya bahwa selama hati tetap berdoa dan tangan tetap bekerja, selalu ada harapan yang bisa ditumbuhkan.
Dan kelak, ketika musim keras datang dalam hidup saya sendiri, saya tahu saya harus berdiri seperti Pak Riyatno, yang tak pernah tercabut oleh musim.
