Malioboro Tanpa Pedagang Kaki Lima (1): Revisi Lagu 'Yogyakarta' Kla Project
·waktu baca 8 menit
"Ramai kaki lima, menjajakan sajian khas berselera, orang duduk bersila," terancam tiada lagi.

Seminggu terakhir, Yati Dimanto, 63 tahun, nyaris tak bisa tidur. Pikirannya kalut, tak ada detik tanpa cemas sejak mendengar kabar bahwa pemerintah akan merelokasi pedagang-pedagang kaki lima (PKL) Malioboro ke eks Bioskop Indra.
Sebagai Ketua Paguyuban Angkringan Malioboro (Padma) dan juga orang yang dituakan oleh para pedagang kuliner di Malioboro, Yati tidak hanya memikirkan nasibnya sendiri. Ada sekitar 200 nasib pedagang kuliner yang dia pikirkan, lebih dari itu ada total sekitar 2.000 nasib PKL Malioboro yang juga dia risaukan dengan adanya rencana relokasi ini.
“Benar-benar ndak bisa tidur saya, bingung mau gimana, kasihan teman-teman,” kata Yati Dimanto saat ditemui di lapaknya di Malioboro, Kamis (2/12).
Kekhawatiran Yati bukan tanpa alasan. 2004 silam, dia dan ratusan PKL Malioboro juga pernah direlokasi. Saat itu, Yati yang berjualan di sisi barat jalan Malioboro dipindah ke sisi timur. Meski hanya menyeberang, ternyata dampaknya sangat besar, pelanggan pergi. Hampir empat tahun, mereka harus menata ulang usahanya untuk mendapatkan pelanggan lagi. Sampai salah seorang pedagang kaki lima yang juga rekan Yati, meninggal dunia karena tak kuat menahan situasi yang sulit itu.
“Setiap hari ngeluhnya ndak kuat, pusing. Lima hari setelah relokasi, dia meninggal,” lanjutnya.
Yati takut situasi itu terulang lagi. Apalagi kali ini mereka akan dipindahkan ke eks Bioskop Indra dan di shelter yang dibuat di bekas lahan Dinas Pariwisata DIY, yang dianggap kurang strategis. Saat pindah menyeberang jalan saja dampaknya sangat terasa, apalagi jika dipindah ke tempat baru yang lebih jauh, begitu pikir Yati.
Padahal, perekonomian para PKL baru mulai bergeliat setelah digempur pandemi hampir dua tahun terakhir. Mereka bahkan sempat tak berjualan selama enam bulan, ketika awal-awal kasus COVID-19 merebak di Yogyakarta. Baru beberapa bulan mulai berjualan lagi, pemerintah mengumumkan PPKM seiring dengan melonjaknya gelombang kedua pandemi tengah tahun ini. Lagi-lagi, selama empat bulan para PKL tak bisa lagi berjualan.
Baru beberapa bulan terakhir ini mereka mulai bisa berjualan lagi seiring mulai meredanya pandemi. Wisatawan juga mulai banyak yang datang ke Malioboro, sehingga perlahan hasil penjualan mereka mulai berangsur pulih, meskipun masih jauh jika dibandingkan sebelum pandemi.
Namun, Jumat (26/11) kemarin, tiba-tiba Yati dan 20 PKL Malioboro dari empat paguyuban diundang oleh pemda ke sebuah hotel di Jogja. Ternyata, pertemuan itu ditujukan untuk mensosialisasikan rencana pemerintah untuk merelokasi mereka ke tempat baru. Kabar yang membuat semua perwakilan PKL yang hadir terhenyak. Lebih mengejutkan lagi, relokasi itu akan dilakukan pada Januari tahun depan. Artinya, para PKL hanya punya waktu sekitar sebulan untuk mempersiapkan semuanya.
“Kami ibaratnya baru bangun setelah mati suri karena pandemi, baru mulai pulih, tiba-tiba mau direlokasi. Bisa-bisa kami bukan lagi mati suri, tapi benar-benar mati,” ujarnya.
Yati berharap pemerintah masih memiliki empati kepada para PKL yang kondisinya saat ini sedang terseok-seok, hidup segan mati tak mau. Banyak dari mereka yang harus berutang ke sana-sini, bukan hanya untuk mempertahankan usahanya, bahkan sekadar untuk bertahan hidup. Sebab, di tengah penghasilan yang babak belur, kebutuhan hidup tak mau tahu, misalnya ada yang harus membayar kontrak rumah, ada yang anaknya sekolah, serta kebutuhan-kebutuhan yang lainnya.
“Kalaupun kepepet banget mau dipindah, ya diberi waktu dulu lah, paling tidak 5 tahun sampai bisa melunasi utang-utang kami. Jangan tiba-tiba dipaksa pindah begini,” kata Yati Dimanto.
Kaget Seperti Tersambar Petir
Selasa, 23 November, sekitar pukul 5 sore, ponsel Ketua Koperasi Paguyuban PKL Malioboro Tri Dharma, Rudiarto, berdering. Ternyata itu adalah panggilan dari perwakilan Pemda DIY, yang mengundangnya untuk menghadiri pertemuan di sebuah hotel yang akan dilakukan sejam kemudian. Tak ada undangan resmi, Rudi juga tidak diberitahu dalam rangka apa pertemuan itu.
Awalnya, Rudi mengira pertemuan itu akan membahas masalah sengketa antara Tempo Gelato Malioboro dengan belasan PKL Malioboro yang masih menemui jalan buntu. Sengketa itu disebabkan karena pihak Tempo Gelato memasang sejumlah meja dan pot di halaman depannya yang mengakibatkan sekitar 15 PKL tak bisa berjualan.
Namun tak disangka, pertemuan itu justru membahas, atau lebih tepatnya mensosialisasikan rencana pemerintah untuk merelokasi PKL-PKL di Malioboro.
“Kami sangat kaget, seperti tersambar petir di siang bolong. Karena sebelumnya tak pernah ada pembahasan soal relokasi, tapi tiba-tiba pemerintah sosialisasi tentang relokasi,” kata Rudiarto saat dihubungi, Kamis (2/12).
Belum hilang kagetnya, Rudi kembali dihantam berita yang jauh lebih mengagetkan: relokasi akan dilakukan pada Januari 2022. Hanya sekitar sebulan setelah sosialisasi. Waktu yang barangkali bahkan tak cukup untuk menyadarkan mereka bahwa mereka harus meninggalkan tempat mereka mencari nafkah selama bertahun-tahun itu.
Namun, Rudi dan beberapa pengurus paguyuban lain yang hadir tak bisa berbuat banyak. Berita itu benar-benar tidak mereka sangka, mereka datang tanpa persiapan apapun. Rudi belum bisa memberikan sikap apapun dalam pertemuan itu, dia harus mendengar aspirasi dari anggota-anggotanya dulu yang jumlahnya mencapai 920 pedagang.
“Sekarang kami sedang maraton setiap hari untuk menjaring aspirasi anggota, insyaallah Senin besok kami sudah punya sikap resmi dari Tri Dharma,” lanjutnya.
Dari sebagian anggota yang telah menyampaikan aspirasinya, intinya mereka keberatan dengan rencana relokasi itu. Banyak hal yang ditakutkan oleh para PKL, terutama karena tak ada kepastian keberlanjutan usaha mereka. Sebab, dari pengalaman relokasi yang sudah-sudah, alih-alih membaik, perekonomian mereka justru terpuruk. Apalagi sampai sekarang mereka belum dapat kepastian, di mana nantinya mereka akhirnya menetap dan bagaimana fasilitasnya.
“Misalnya relokasi parkir ke Abu Bakar Ali, endingnya teman-teman parkir bermasalah. Bukannya pendapatannya naik tapi justru berantakan, takutnya seperti itu,” ujarnya.
Momentum untuk relokasi ini juga dinilai tidak tepat. Pasalnya, para PKL masih terseok-seok untuk bertahan di tengah pandemi.
“Mereka lubangnya sudah terlalu besar, artinya utangnya sudah terlalu banyak dan sebagainya. Dan sekarang justru disuruh relokasi,” lanjut Rudiarto.
PKL dan Malioboro Dua Hal yang Tak Terpisahkan
PKL, bagi Rudiarto adalah ikon bagi Malioboro sejak berdekade-dekade. Jalan Malioboro dan PKL, baginya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Itu mengapa Kla Project dalam lagu fenomenalnya yang berjudul ‘Yogyakarta’, menulis lirik ‘Ramai kaki lima, menjajakan sajian khas berselera. Orang duduk bersila’.
Baginya, jika hanya ingin membuat pedestrian yang bagus, sudah banyak yang lebih bagus. Tapi, tak ada kota yang memiliki atmosfer PKL seperti yang dimiliki oleh Malioboro. PKL, adalah komponen paling penting dari romantiknya Malioboro yang selama ini selalu digaungkan.
“PKL adalah ikon Malioboro, dua hal yang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.
Rudi sedih, sekaligus menyayangkan keputusan pemerintah untuk merelokasi PKL dari sepanjang jalan Malioboro. Padahal, kota-kota lain justru sedang berlomba-lomba untuk membuat replika dari Malioboro.
Sebutlah Solo, yang mewacanakan untuk menyulap kawasan Ngarsopuro menjadi Malioboro. Begitu juga dengan Pemkot Malang, yang berencana membangun kawasan Kayutangan Malang menjadi Malioboro ala Malang sebagai bagian dari konsep Malang City Heritage. Bahkan kota sebesar Bandung, juga berencana untuk menjadikan kawasan Braga menjadi Malioboro. Jalan Pahlawan Madiun kini bahkan telah disulap oleh pemkot setempat menjadi Malioboro-nya Jawa Timur.
“Kota-kota lain saja berlomba-lomba untuk membuat Malioboro, Jogja yang sudah punya malah ingin diubah,” lanjutnya.
Rudiarto dan ribuan PKL Malioboro lainnya, masih berharap keajaiban, bahwa pemerintah bersedia untuk mengurungkan niatnya merelokasi PKL dari Malioboro. Dia berharap, pemerintah lebih empati dan peduli terhadap sektor-sektor kecil yang saat ini masih berjibaku bangkit dari keterpurukan ekonomi karena pandemi.
“Kami selalu terbuka untuk duduk bersama mencari jalan keluar terbaik untuk semua pihak,” ujar Rudiarto.
Relokasi Demi Sumbu Filosofi
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, ketika ditemui awak media mengatakan bahwa rencana relokasi itu sebenarnya sudah disampaikan sejak jauh-jauh hari. Rencana itu sudah disampaikan sejak 2018, ketika Pemda DIY mulai membangun kawasan eks Bioskop Indra untuk relokasi PKL.
“Kan sudah lama, dulu kan sudah dibangun dari Indra (tempat untuk PKL),” kata Sultan saat ditemui awak media di Kepatihan Pemda DIY, mengutip Kumparan News, Kamis (2/12).
Lebih lanjut, Sultan menjelaskan bahwa rencana relokasi PKL dari Malioboro dilakukan untuk mewujudkan sumbu filosofi di kawasan Malioboro sebagai warisan dunia. Pemda DIY memang sedang membangun kerja sama dengan UNESCO, untuk menjadikan sumbu filosofi Yogyakarta sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia Tak Benda. Sumbu filosofi sendiri merupakan sumbu lurus yang menghubungkan antara Tugu Pal Putih, Kraton Yogyakarta, hingga Panggung Krapyak, dimana Jalan Malioboro merupakan bagian di dalamnya.
“Karena kan kita juga ingin membangun kerja sama dengan UNESCO untuk sumbu filosofinya,” lanjut Sultan.
Sultan juga menjelaskan bahwa lahan yang dipakai berjualan para PKL Malioboro bukanlah milik pemerintah daerah, melainkan milik toko yang ada di sepanjang Jalan Malioboro. Karena itu, Sultan menilai wajar jika para PKL mesti mengembalikan lahan tersebut kepada pemilik toko.
“Karena pemda trotoarnya sudah untuk jalur lambat, mosok ya enggak juga dikembalikan,” ujarnya.
Meski direlokasi, menurut Sultan para PKL tidak perlu khawatir dengan usahanya. Sebab, tempat relokasi nantinya akan tetap di kawasan Malioboro. Pemerintah menurutnya justru memberi ruang kepada PKL dengan memindahkan mereka ke gedung eks Bioskop Indra yang letaknya memang masih di kawasan Malioboro.
“Makanya justru diberi ruang dan kami tata juga, kami kan juga harus bangun Indra tahap kedua di sebelah utara,” kata Sultan. (Widi Erha Pradana / YK-1)
*Ini adalah seri pertama dari 2 seri reportase Malioboro Tanpa PKL. Simak seri kedua:
