Profil Meutya Hafid, Salah Satu Menteri Kabinet Prabowo

Menyajikan informasi profil tokoh ternama dari Indonesia maupun mancanegara.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Profil Tokoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tanggal 20 Oktober 2024, presiden dan wakil presiden terpilih yaitu Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka resmi dilantik. Jajaran menteri baru turut hadir dalam acara tersebut, salah satunya adalah Meutya Hafid.
Mengutip buku Terampil Membaca dan Menulis untuk Mahasiswa, Guru, Dosen, dan Umum, Sihabuddin (2019: 211), Meutya Hafid mengawali kariernya sebagai seorang reporter di Metro TV.
Kesuksesan di bidang jurnalistik mengantarkannya menjadi seorang politisi dari partai Golkar.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Profil Meutya Hafid
Sebagai menteri kabinet Prabowo, profil Meutya Hafid banyak disorot publik. Meutya adalah putri dari pasangan Anwar Hafid dan Metty Hafid. Sebelum keluarganya pindah ke Jakarta di tahun 1980-an, ia tinggal di Bandung.
Politikus ini menempuh pendidikan dasar di SD Menteng 02, SMPN 1 Jakarta, dan SMAN 8 Jakarta. Ia juga pernah bersekolah di Crescent Girls School Singapura, kemudian melanjutkan pendidikan sarjana.
Meutya memperoleh gelar sarjana dari jurusan Teknik Manufaktur di UNSW Sydney Australia dan lulus pada tahun 2000. Pada tahun 2015, Meutya melanjutkan pendidikan S2 Ilmu Politik di Universitas Indonesia dan lulus tahun 2018.
Meskipun jadwal pekerjaannya sangat padat, Meutya tetap berkomitmen menjaga kesehatan tubuhnya. Salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menjalani olahraga favoritnya, yaitu berenang dan yoga.
Baca Juga: Profil Ni Luh Puspa, Perempuan Bali yang Jadi Wakil Menteri
Biodata Meutya Hafid
Meutya berhasil meraih kesuksesan di bidang jurnalistik dan politik, sehingga membuat banyak pihak kagum. Berikut adalah biodata Meutya Hafid yang dapat diketahui.
Nama lengkap: Meutya Viada Hafid
Nama panggilan: Meutya Hafid
Tempat, tanggal lahir: Bandung, 3 Mei 1978
Umur: 46 tahun
Kewarganegaraan: Indonesia
Profesi: Politikus
Instagram: @meutya_hafid
Perjalanan Karier Meutya Hafid
Setelah menyelesaikan pendidikan S1 pada tahun 2000, Meutya kembali ke Indonesia dan memulai karier sebagai reporter di Metro TV. Ia menjalani profesi sebagai jurnalis hingga tahun 2008.
Pada tahun 2005, ia bersama kamerawannya Budiyanto, ditugaskan untuk meliput di negara Irak. Namun, mereka disandera oleh kelompok bersenjata selama 168 jam atau 7 hari.
Berkat upaya diplomasi pemerintah Indonesia, mereka berhasil dibebaskan dan kembali ke tanah air dengan selamat. Penyanderaan tersebut sempat menggegerkan Indonesia.
Peristiwa tersebut membuat namanya semakin dikenal publik. Pada tahun 2007, ia menerbitkan buku yang berjudul “168 Jam dalam Sandera: Memoar Jurnalis Indonesia yang Disandera di Irak”.
Beberapa tokoh Indonesia, termasuk Susilo Bambang Yudhoyono, Don Bosco Selamu, dan Marty Natalegawa, turut berkontribusi menyumbangkan tulisan dalam buku tersebut.
Keberhasilannya di bidang jurnalistik mengantarkan Meutya ke dunia politik.
Pada tahun 2009, ia secara langsung diminta oleh Burhanudin Napitupulu untuk bergabung dengan Partai Golkar dan maju sebagai calon legislatif yang mewakili Kota Medan, Daerah Pemilihan 1 Sumatera Utara.
Namun, perolehan suaranya belum cukup untuk mengantarkannya ke Senayan. Setelah itu, ia dipasangkan dengan H. Dhani Setiawan Isma sebagai calon wali kota dan wakil wali kota Kota Binjai untuk periode 2010-2015.
Pada saat itu, mereka didukung oleh berbagai partai politik, termasuk Golkar, Demokrat, Hanura, PAN, Patriot, P3I, dan PDS. Selain itu, terdapat 16 partai non-fraksi DPRD Binjai. Meskipun demikian, mereka belum berhasil memenangkan pemilihan tersebut.
Pada tahun yang sama, Meutya dilantik sebagai anggota DPR menggantikan Burhanudin Napitupulu yang meninggal dunia.
Ia menjabat di komisi XI, bidang keuangan dan perbankan, selama 17 bulan. Setelahnya, ia dipindahkan ke Komisi I, bidang pertahanan, luar negeri, komunikasi, dan informasi.
Tahun 2012, Meutya terpilih sebagai salah satu dari lima tokoh pers inspiratif Indonesia versi Mizan. Ia diakui sebagai sosok penting dibalik perkembangan pers nasional dan menjadi satu-satunya perempuan di antara para tokoh tersebut.
Pada pemilu selanjutnya, Meutya mencalonkan dirinya kembali sebagai anggota DPR dari Golkar dan berhasil terpilih mewakili daerah pemilihan Sumatra Utara pada periode 2014-2019.
Tak sampai di situ saja, ia juga membuktikan kualitas kinerjanya yang baik, sehingga berhasil terpilih kembali pada periode 2019-2024. Baru-baru ini, ia terpilih sebagai salah satu menteri komunikasi dan digital dalam kabinet Merah Putih periode 2024-2029.
Baca Juga: Profil Basuki Hadimuljono, Karier, Prestasi, dan Kekayaannya
Penghargaan Meutya Hafid
Meutya telah membangun kariernya selama 24 tahun dan mendapatkan berbagai penghargaan. Berikut adalah beberapa penghargaan yang telah diraihnya.
Democracy Award 2019, Majalah Moeslim Choice (2019)
PRESS CARD NUMBER ONE (PCNO), Hati Pers Nasional (2013)
Award untuk Bidang Jurnalis, Australian Alumnar (2008)
Young Inspiring People, Hardrock FM (2008)
Elisabeth ‘O” neil Award, Pemerintahan Australia (2007)
Asia’21 Young Leaders Meeting, Korea Selatan (2006)
Kartini Bidang Jurnalis, Lions Club Jakarta (2006)
Wanita Pemberani, Samsung Award (2006)
Women of Courage, Kaukus Perempuan Singapura (2005)
National Youth Achievement Award, Pemerintah Singapura (1996)
Demikianlah seputar profil Meutya Hafid. Sebagai politisi perempuan, ia berhasil menunjukkan bahwa perempuan bisa mendapatkan posisi tinggi dalam politik. (Nabila)
Baca Juga: Profil Sunarto, Ketua Mahkamah Agung Terpilih Periode 2024-2029
