Arogansi Keilmuan dan Pentingnya Kerendahan Hati Kaum Terpelajar

Sarjana Hukum (USU), Sarjana Pendidikan (UNPAB). Aktif dalam Forum Studi Hukum Pendidikan. Pernah pertukaran mahasiswa Ilmu Hukum ke Universiti Teknologi MARA, Malaysia (2023).
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Rafie Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak hal yang terjadi di tengah masyarakat terkait permasalahan ketidaksetaraan ini. Pernahkah merasa dikucilkan dalam sebuah diskusi hanya karena kamu tidak punya gelar tinggi? Atau melihat seseorang yang berbicara dengan nada merendahkan seolah-olah hanya dia yang paham persoalan? Atau bagi mahasiswa, pernahkah merasakan “dihina” oleh dosen karena belum mengetahui sesuatu, yang mana sebenarnya bisa dipelajari dan diarahkan? Fenomena ini, yang sering tak disadari, dikenal sebagai arogansi keilmuan.
Mengenal Fenomena Arogansi Keilmuan
Arogansi keilmuan dapat terjadi dalam berbagai bentuk, tergantung pada konteks situasi dan tempat. Tidak jarang, masalah ini terjadi pada sikap merasa lebih tahu dan lebih benar hanya karena memiliki pengetahuan akademik atau gelar tertentu tanpa melibatkan kerendahan hati. Tentunya sikap ini menjauhkan ilmu dari tujuan sejatinya: membebaskan manusia dan memperluas pemahaman lintas batas sosial.
Hal yang lebih menyedihkan adalah bahwa sikap ini bisa membunuh keberanian orang lain untuk bertanya dan belajar.
Sosiolog Pendidikan Prancis Pierre Bourdieu dalam Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste menyebut bahwa dunia pendidikan dan keilmuan kerap menjadi arena perebutan kekuasaan simbolik. Ilmu pengetahuan, menurutnya, tidak lepas dari modal sosial dan budaya. Orang-orang yang memiliki gelar, kemampuan berbahasa akademik, dan akses ke institusi bergengsi seringkali dianggap sebagai satu-satunya otoritas yang sah untuk berbicara. Dalam banyak kasus, ini melahirkan dominasi dan pengabaian terhadap suara-suara dari lapisan masyarakat yang tidak memiliki akses pendidikan formal.
Arogansi ini semakin kentara ketika akademisi atau kaum terpelajar memandang remeh mereka yang tidak paham teori, meski memiliki pengalaman hidup yang kaya. Padahal, tujuan pendidikan seharusnya bukan hanya menciptakan individu cerdas secara teknis, melainkan manusia yang memiliki kerendahan hati intelektual dan empati terhadap sesama.
Ilmu seharusnya membuat seseorang lebih mampu mendengarkan dan memahami—bukan sekadar mengoreksi atau menggurui. Tak jarang banyak terjadi di dalam kelas bahwa seorang dosen menyepelekan mahasiswanya atau mengatakan kata-kata kotor yang mana hal tersebut tidaklah pantas dilakukan. Mendengarkan dan menggurui perlu dilandaskan etika.
Hal senada lainnya diungkapkan oleh pemikir Ivan Illich dalam Deschooling Society. Ia mengkritik tajam sistem pendidikan formal yang menciptakan kasta-kasta pengetahuan. Menurutnya, ketika masyarakat terlalu bergantung pada institusi dan gelar akademik sebagai penentu sah atau tidaknya sebuah pendapat, maka pengetahuan rakyat yang lahir dari pengalaman, kearifan lokal, atau tradisi—akan dianggap tidak valid. Illich menolak gagasan bahwa hanya mereka yang “terdidik” yang pantas bersuara. Hal ini adalah bentuk kekerasan struktural yang sering kali tak terlihat.
Implikasi Arogansi Keilmuan dan Pentingnya Kerendahan Hati
Arogansi keilmuan, jika dibiarkan, bisa berbahaya. Apalagi dalam konteks yang lebih luas, dapat menjauhkan ilmu dari masyarakat umum, mematikan semangat belajar mereka yang belum berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi, dan membuat diskusi-diskusi publik menjadi tidak setara. Bahkan dalam dunia akademik sendiri, sikap ini bisa menciptakan kultur eksklusif yang anti-kritik.
Sebaliknya, rendah hati intelektual membuka ruang dialog dan pembelajaran yang sejati. Ia mengajak kita untuk menyadari bahwa pengetahuan bukan milik segelintir orang, melainkan sesuatu yang bisa tumbuh di mana saja: di ruang kelas, di jalanan, di ladang, bahkan dalam obrolan warung kopi.
Ilmu seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok. Ia harus mengangkat, bukan merendahkan. Jika kita merasa lebih pintar dan itu membuat kita semakin sulit untuk mendengar, mungkin yang kita perlukan bukan ilmu baru—melainkan hati yang lebih terbuka.
Konklusi
Oleh karena itu, kerendahan hati intelektual menjadi kunci untuk menciptakan ruang pembelajaran yang inklusif dan adil. Ilmu seharusnya bukan untuk merendahkan, tetapi untuk memperkaya pemahaman dan memperluas perspektif. Dengan sikap rendah hati, kita dapat menghindari arogansi keilmuan dan membuka jalan bagi terciptanya masyarakat yang lebih terbuka, di mana setiap individu merasa dihargai dan diberdayakan untuk terus belajar — di manapun berada.
