Konten dari Pengguna

Memahami Agresi dalam Psikologi: Konsep dan Contoh Agresi Psikologis

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustasi Agresi. Gambar: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustasi Agresi. Gambar: Pexels

Agresi sering dikaitkan dengan perilaku yang merugikan orang lain, baik secara fisik maupun psikologis. Dalam psikologi, agresi bukan sekadar tindakan kekerasan, tetapi juga bisa muncul dalam bentuk ucapan atau sikap yang menyakiti perasaan. Memahami agresi penting untuk mengenali penyebabnya dan mencari cara yang efektif untuk mengelolanya.

Definisi dan Konsep Agresi

Dalam tinjauan konseptual Badrun Susantyo (2011) yang berjudul Memahami Perilaku Agresif: Sebuah Tinjauan Konseptual, perilaku agresif dipandang dari berbagai sudut oleh para ahli. Sars (1985, dalam Susantyo, 2011) beranggapan bahwa agresi merupakan setiap perilaku yang bertujuan menyakiti orang lain. Secara singkat, agresi dapat diartikan sebagai tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain atau merusak milik orang lain. Tidak hanya berupa kekerasan fisik, agresi juga bisa tampak dalam bentuk verbal (kata-kata) maupun non-verbal (tindakan) yang menimbulkan dampak negatif.

Apa itu Agresi Menurut Psikologi?

Scheneiders (1955, dalam Susantyo, 2011) mendefinisikan perilaku agresif sebagai luapan emosi atas reaksi terhadap kegagalan individu yang ditunjukkan dalam bentuk perusakan terhadap orang atau benda dengan unsur kesengajaan yang diekspresikan dengan kata-kata (verbal) dan perilaku non-verbal. Sikap ini dapat muncul dalam berbagai situasi, mulai dari pertengkaran kecil hingga konflik besar dalam kehidupan sehari-hari.

Ciri-ciri Perilaku Agresif

Beberapa tanda perilaku agresif antara lain membentak atau berkata kasar, melakukan ancaman secara langsung maupun tersirat, serta bertindak melukai atau mengancam orang lain.

Faktor Penyebab Agresi

Agresi dapat dipicu oleh banyak faktor yang saling terkait. Setiap individu memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda, sehingga penyebab agresi pun bisa sangat bervariasi.

Faktor Internal (Biologis dan Psikologis)

Dalam pandangan biologis, perilaku agresif dapat disebabkan oleh meningkatnya hormon testosteron maupun abnormalitas anatomis seperti kelainan pada jaringan saraf otak (Susantyo, 2011). Dari sisi psikologis, Bandura (1973, dalam Susantyo, 2011) berpandangan bahwa perilaku agresif merupakan sesuatu yang dipelajari dari lingkungan sosial, seperti interaksi dengan keluarga, interaksi dengan rekan sebaya, dan media massa melalui modelling.

Faktor Eksternal (Lingkungan dan Sosial)

Faktor eksternal sosial yang berperan dalam munculnya agresi meliputi keluarga, rekan sebaya, tetangga, dan sekolah (Susantyo, 2011). Keluarga yang tidak memberikan pola sosialisasi yang sehat — baik yang terlalu permisif maupun yang otoriter — dapat menghasilkan perilaku agresif pada anak. Selain itu, stimulus situasional seperti efek senjata, alkohol, dan provokasi juga dapat memicu perilaku agresif.

Contoh Agresi Psikologis dalam Kehidupan Sehari-hari

Agresi psikologis tidak selalu terlihat secara kasat mata. Banyak contoh perilaku agresif yang muncul dalam kehidupan sehari-hari, baik secara verbal maupun non-verbal.

Agresi Verbal dan Non-Verbal

Dalam jurnal yang berjudul Human Aggression, agresi dapat diklasifikasikan ke dalam bentuk fisik dan verbal, serta dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung dalam interaksi sosial (Anderson & Bushman, 2002). Agresi verbal mencakup penghinaan dan kata-kata kasar, sementara agresi non-verbal mencakup berbagai tindakan fisik yang melukai.

Agresi dalam Hubungan Sosial

Menurut Björkqvist, K. (1994) dalam artikelnya yang berjudul Sex differences in physical, verbal, and indirect aggression: A review of recent research, agresi tidak langsung adalah bentuk perilaku menyakiti individu lain yang dilakukan secara tidak terbuka, dengan cara menghindari keterlibatan langsung pelaku. Dalam interaksi sosial, agresi ini dapat muncul dalam bentuk pengucilan sosial, penyebaran rumor, dan manipulasi hubungan interpersonal dalam lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

Dampak dan Cara Mengelola Agresi

Agresi yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan masalah serius bagi pelaku maupun orang di sekitarnya. Lingkungan yang penuh agresi dapat mengganggu keberfungsian sosial individu dan kelompok.

Dampak Negatif Agresi bagi Individu dan Lingkungan

Dampak agresi meliputi stres, konflik berkepanjangan, hingga rusaknya hubungan sosial. Lingkungan yang penuh agresi juga dapat membuat individu kehilangan rasa nyaman dan rasa aman.

Strategi Mengelola dan Mengendalikan Agresi

Koswara (1988, dalam Susantyo, 2011) menawarkan tiga pendekatan dalam pencegahan perilaku agresif: pendekatan secara moral, pengembangan perilaku non-agresif, serta pengembangan kemampuan berempati. Susantyo (2011) juga menyebutkan bahwa salah satu teknik yang saat ini dikembangkan adalah melalui "latihan mengelola amarah". Selain itu, strategi pencegahan memerlukan keterlibatan individu, keluarga, kelompok, organisasi, dan komunitas secara komprehensif. Deffenbacher, Oetting, dan DiGiuseppe (2002) dalam jurnal yang berjudul Principles of Empirically Supported Interventions Applied to Anger Management juga menuliskan bahwa pengelolaan agresi dapat dilakukan melalui pelatihan regulasi emosi dan pengendalian respons, termasuk mengembangkan cara yang lebih adaptif dalam mengekspresikan kemarahan.

Kesimpulan

Memahami agresi dalam psikologi membantu masyarakat mengenali ciri, penyebab, serta manifestasi perilaku agresif yang sering muncul di sekitar kita. Dengan memahami kompleksitas faktor penyebab dan menerapkan strategi pengelolaan yang tepat, risiko dampak negatif dari agresi dapat diminimalisir untuk menciptakan lingkungan sosial yang lebih sehat dan harmonis.