Konten dari Pengguna

Mengenal Ralph Tyler: Teori dan Profil Tokoh Pengembang Kurikulum

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pengembang Kurikulum. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pengembang Kurikulum. Gambar: Pexels.

Ralph Tyler dikenal luas sebagai pelopor pengembangan kurikulum modern. Teorinya telah memengaruhi sistem pendidikan di banyak negara, termasuk Indonesia melalui penerapannya di lingkungan pesantren.

Profil Ralph Tyler

Ralph Tyler adalah tokoh yang membawa pendekatan sistematis ke dalam pengembangan kurikulum. Dalam bukunya yang berjudul Basic Principles of Curriculum and Instruction (1949), Tyler mencatat bahwa curriculum development needed to be treated logically and systematically — ia berupaya menjelaskan tentang pentingnya pendapat rasional, menganalisis, menginterpretasi kurikulum, dan program pengajaran dari suatu lembaga pendidikan (Dr. Nur Habibullah, M.Pd.I, 2021 dalam Teori Ralph W. Tyler dalam Pengembangan Kurikulum Pondok Pesantren Darussalam Gontor 10 Jambi.).

Tyler telah menanamkan perlunya hal yang lebih rasional, sistematis, dan pendekatan yang berarti dalam tugas mereka. Tyler juga menguraikan dan menganalisis sumber-sumber tujuan yang datang dari anak didik, mempelajari kehidupan kontemporer, mata pelajaran yang bersifat akademik, filsafat, dan psikologi belajar (Habibullah, 2021).

Teori Ralph Tyler dalam Pengembangan Kurikulum

Lebih lanjut, Tyler melaporkan bahwa untuk mengembangkan suatu kurikulum perlu menempatkan empat pertanyaan berkaitan dengan objectives, instructional strategic and content, organizing learning experiences, serta assessment and evaluation (Habibullah, 2021, mengutip Abdullah Idi, 2011).

Tyler tidak menyebutkan langkah-langkah konkret dalam pengembangan kurikulumnya — Tyler hanya memberikan dasar-dasarnya saja (Habibullah, 2021). Model pengembangan ini dapat dilihat pada empat tahapan berikut:

Objectives (Tujuan pendidikan yang diharapkan)

Menurut Tyler, tugas pertama dalam pengembangan kurikulum adalah mendefinisikan tujuan dengan mempertimbangkan studi tentang peserta didik, kehidupan kontemporer, dan saran dari spesialis materi pelajaran (Habibullah, 2021). Data dari studi ini kemudian harus diputar oleh filsafat pendidikan, sosial pembangun kurikulum, dan temuan psikologi pembelajaran. Tujuan itu harus dinyatakan dalam model yang membuat mereka berguna memilih pengalaman belajar (Habibullah, 2021).

Selecting Learning Experiences (Menentukan pengalaman belajar)

Setelah tujuan ditetapkan, pendidik menentukan pengalaman belajar yang akan diperoleh guna mencapai tujuan yang dimaksud (Habibullah, 2021). Pengalaman harus memungkinkan peserta didik mencapai kompetensi yang diharapkan.

Organizing Learning Experiences (Mengorganisasi pengalaman belajar)

Mengorganisasi pengalaman belajar yang akan diberikan agar peserta didik memperoleh pemahaman yang terstruktur dan progresif (Habibullah, 2021, mengutip Ali Mudlofir, 2011).

Evaluation (Mengevaluasi hasil belajar)

Proses evaluasi harus dirancang sedemikian rupa sehingga untuk mengukur sejauh mana tujuan telah tercapai, dan untuk memastikan bahwa pengetahuan ini dimasukkan ke dalam perencanaan masa depan (Habibullah, 2021). Tyler merumuskan evaluasi hasil belajar dari tujuan pembelajaran berdasarkan taksonomi tujuan pembelajaran yang dikembangkan oleh Bloom dan Krathwohl — model Tyler kemudian banyak dipakai untuk mengevaluasi program pendidikan (Habibullah, 2021).

Penerapan Teori Ralph Tyler di Indonesia: Kurikulum Pesantren Gontor

Hasil penelitian Habibullah (2021) di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus 10 Jambi menunjukkan bahwa pesantren tersebut sudah melakukan dinamisasi kurikulum dalam menyikapi perubahan dan perkembangan setiap waktunya dengan melakukan manajemen perubahan pada kurikulumnya sesuai teori Tyler.

Kurikulum PMDG 10 Jambi terbagi menjadi dua: kurikulum formal (Khalafi) yang mengacu kepada kurikulum nasional karena berbentuk madrasah (MTs/SMP dan MA/SMA), dan kurikulum kepesantrenan (Salafi) yaitu pelajaran kitab dan ilmu-ilmu klasik seperti Ushul Fiqh, Faraid, dan lain sebagainya untuk mengembangkan potensi santri (Habibullah, 2021).

Adapun program entrepreneurship (Gontor Berdikari) merupakan bagian dari kurikulum ketiga — dirancang sebagai terobosan dalam bidang ekonomi dan kewirausahaan dengan mengembangkan usaha-usaha yang dinilai produktif sehingga para santri dapat mengembangkan kemampuan atau bakat yang dimilikinya, meliputi bidang perkebunan, peternakan, koperasi pesantren, teknologi dan informasi, serta kecakapan hidup (life skill) (Habibullah, 2021).

Kesimpulan

Ralph Tyler berperan besar dalam merumuskan teori pengembangan kurikulum modern melalui empat tahapan: penetapan tujuan, pemilihan pengalaman belajar, pengorganisasian pengalaman belajar, dan evaluasi. Pesantren Modern Darussalam Gontor sebagai fondasi kuat yang telah lebih dari 100 tahun di Indonesia telah menjadikan elemen program pendidikan dalam bereaksi terhadap perubahan dan perbaikan tanpa gagal — menerapkan keempat komponen teori Tyler secara sistematis (Habibullah, 2021).