Pencarian populer

Juventus vs Ajax: Leg Pertama Tak Ada Artinya

Rodrigo Bentancur, Federico Bernardeschi, dan Frenkie de Jong pada laga Ajax vs Juventus leg I. Foto: AFP/Emmanuel Dunand

Siapa pun juaranya nanti, takkan ada yang bisa merampas kisah spesial Ajax di Liga Champions musim ini. Di era sepak bola yang begitu brutal terhadap klub-klub berbujet minim, Ajax mampu mendobrak kemapanan. Bayern Muenchen mereka kadali, Real Madrid mereka kencingi, dan kini ada Juventus yang siap mereka kebiri.

Sudah berulang kali figur-figur penting Ajax mengeluhkan betapa besarnya disparitas kekuatan finansial antara mereka dan para klub kaya Eropa. Hampir setiap tahunnya, mereka kehilangan pemain bintang yang tergiur oleh gaji berlipat ganda dan kesempatan berjaya di ajang bergengsi. Namun, Ajax selalu mampu bangkit dan musim ini adalah kesempatan terbaik mereka untuk membuat kejutan sebesar mungkin.

Keberhasilan mempertahankan bintang-bintang muda macam Matthijs de Ligt, Frenkie de Jong, dan Donny van de Beek, dipadukan dengan keputusan jitu mendatangkan pemain matang dalam diri Dusan Tadic dan Daley Blind, membuat Ajax jadi tim yang begitu ditakuti baik di negeri sendiri maupun di Eropa.

Buktinya, Ajax berhasil mencapai babak perempat final Liga Champions untuk kali pertama sejak 2003. Untuk sampai ke situ, mereka mengadali Bayern di fase grup dan mengencingi Real di babak 16 besar. Di perempat final ini, lawan mereka adalah Juventus. Jika pertandingan leg I lalu bisa dijadikan acuan, maka Ajax sejatinya sudah setengah jalan menuju semifinal.

Bagi Ajax, Juventus adalah lawan yang spesial. Pada 1973 mereka berhasil menundukkan jagoan Italia itu di final European Cup. Dua puluh tiga tahun kemudian kedua klub kembali bersua di partai puncak Liga Champions tetapi di situ Ajax harus mengakui keunggulan Juventus lewat babak adu penalti.

Setahun setelah final edisi 1996 itu, Ajax dan Juventus berjumpa di babak semifinal Liga Champions. Laga semifinal 1997 inilah yang hingga kini masih meninggalkan dendam dalam diri Ajax. Dalam dua leg, Juventus sukses menghajar Ajax dengan agregat 6-2. Sejak saat itu, Ajax belum pernah lagi bisa mencapai babak tersebut.

Ajax dan Juventus sebetulnya sempat bertemu pada Liga Champions 2004/05. Namun, karena saat itu pertemuan hanya terjadi di fase grup, tensi pun tidak setinggi sekarang. Jauh sebelum laga leg I perempat final musim ini dilangsungkan, Ajax sudah melancarkan perang urat saraf dengan menuduh Juventus melakukan doping pada pertemuan di edisi 1997. Tentunya, tuduhan itu dibantah mentah-mentah oleh para pemain Juventus yang berlaga saat itu.

Dalam laga leg I di Johan Cruijff ArenA pekan lalu Ajax berusaha menuntaskan kesumat itu dengan menyerang Juventus habis-habisan. Pada babak pertama Juventus sebenarnya bisa mengimbangi sang tuan rumah dan bahkan unggul lebih dulu. Akan tetapi, di babak kedua, setelah Ajax menyamakan kedudukan lewat David Neres, Juventus tak berdaya.

Ajax mendominasi pertandingan itu dengan menguasai bola sebanyak 61 persen dan melepaskan 19 tembakan. Sementara itu, Juventus hanya mampu menghasilkan 7 upaya mencetak gol. Pada babak kedua Juventus bahkan cuma bisa membuat satu tendangan, itu pun tidak tepat sasaran. Pertanyaannya, dalam laga leg II di Allianz Stadium, Rabu (17/4/2019) dini hari WIB nanti, akankah itu terulang?

Sebelum sampai ke sana, ada baiknya kita bicarakan dulu skenario kelolosan kedua tim. Dengan hasil 1-1 di kandang Ajax, maka Juventus hanya butuh hasil imbang tanpa gol untuk lolos karena adanya aturan agresivitas gol tandang. Sebaliknya, Ajax butuh menang setidaknya 1-0 untuk menjejak semifinal. Skenario sederhananya kira-kira seperti itu.

Daniele Rugani berusaha menghalangi Dusan Tadic. Foto: AFP/John Thys

Dengan begitu, Ajax sebenarnya punya kesempatan besar untuk lolos ke semifinal. Sekali lagi, keberhasilan memecundangi Real Madrid di Santiago Bernabeu untuk bisa mencapai perempat final layak dijadikan acuan. Pada laga itu Ajax menang 4-1. Padahal, saat itu mereka 'cuma' bisa mencatatkan 16 tembakan, berbanding 20 tembakan milik El Real.

Jika Real Madrid saja bisa dikalahkan dengan margin begitu mencolok, semestinya Juventus pun bisa ditundukkan, bukan?

Well, tidak semudah itu. Masalahnya, Ajax sendiri bakal tampil tanpa dua pemain bintangnya: De Jong dan Nicolas Tagliafico. Khusus Tagliafico, pemain asal Argentina itu dipastikan akan absen karena akumulasi kartu dan posisinya bakal digantikan Daley Sinkgraven. Sementara, untuk De Jong, situasinya masih bisa berubah karena bisa saja cedera otot calon pemain Barcelona itu sembuh tepat waktu.

Namun, anggaplah De Jong betul-betul tidak bisa bermain. Pada pertandingan leg I lalu pelatih Juventus, Max Allegri, mengakui betapa krusialnya De Jong untuk Ajax. Allegri berkata bahwa kegagalan Juventus mengembangkan permainan salah satunya disebabkan karena mereka gagal mematikan gelandang berusia 21 tahun tersebut. Jika De Jong absen, Ajax akan kehilangan kreator sekaligus katalisator serangan utamanya dan cara bermain mereka pun akan berubah.

Menurut prediksi WhoScored, ketiadaan De Jong akan membuat Ajax bermain dengan pakem 4-2-3-1. Tadic yang biasanya bermain sebagai ujung tombak akan ditarik ke belakang menjadi gelandang serang. Sementara, Kasper Dolberg akan diberi tugas bermain sebagai striker tunggal. Lalu, Van de Beek dan Lasse Schoene bakal berduet sebagai poros ganda.

Frenkie de Jong dalam sesi latihan resmi di Allianz Stadium. Foto: AFP/Marco Bertorello

Formasi 4-2-3-1 milik Ajax ini berpotensi mengurangi fluiditas permainan mereka karena Dolberg sendiri tidaklah selincah dan secerdas Tadic dalam melakukan pergerakan tanpa bola. Selain itu, ketiadaan De Jong tentunya akan mengebiri kreativitas Ajax.

Meski demikian, fluiditas serta kreativitas Ajax itu bisa jadi tidak akan berkurang secara signifikan. Sebab, mereka masih punya pemain-pemain macam Tadic, Van de Beek, dan Hakim Ziyech untuk menjadi kreator permainan. Selain itu, ada pula Neres yang bisa jadi ancaman serius seperti pada leg I lalu. Plus, keberadaan Dolberg boleh jadi justru akan meningkatkan efektivitas penyelesaian akhir Ajax.

Dengan situasi seperti itu, Ajax akan menghadapi Juventus yang tampil tanpa Giorgio Chiellini dan Mario Mandzukic. Dua pemain itu bukan cuma terhitung sebagai salah dua pemain terbaik Juventus, tetapi juga merupakan pemimpin tim. Saat ini Chiellini dan Mandzukic menjabat sebagai kapten dan wakil kapten Juventus.

Ketiadaan Chiellini dan Mandzukic tidak akan hanya memengaruhi kualitas permainan Juventus, tetapi juga kekuatan mental mereka. Walau demikian, Juventus sendiri punya kedalaman skuat yang baik untuk mengatasi ketiadaan mereka. Daniele Rugani pada leg I lalu terbukti mampu jadi deputi yang baik bagi Chiellini dengan catatan 2 intersep, 4 sapuan, dan 2 duel udara berhasil.

Sementara, sebagai pengganti Mandzukic, Juventus masih punya Paulo Dybala dan Moise Kean. Kean sendiri sudah mencetak 6 gol dari 6 laga terakhirnya bersama Juventus dan Timnas Italia. Sedangkan, Dybala sejauh ini telah mengemas 5 gol di ajang Liga Champions.

Kean merayakan gol ke gawang SPAL. Foto: Reuters/Alberto Lingria

Selain kedalaman skuat yang bagus, Juventus juga akan diuntungkan dengan kembalinya Emre Can. Pada pertandingan perdelapan final leg II melawan Atletico Madrid, Can menjadi aktor kunci dengan penampilan defensifnya sebagai gelandang box-to-box. Keberadaan Can itu membuat Joao Cancelo bisa bebas menyerang sehingga Juventus punya personel tambahan di lini depan.

Bicara soal pertandingan melawan Atletico, permainan Juventus di situ pun wajib diwaspadai betul oleh Ajax. Di atas kertas, Atletico punya pengalaman jauh lebih baik ketimbang Ajax di kompetisi Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Menghadapi tim Atletico yang begitu matang saja Juventus bisa tampil kesetanan tanpa memberi kesempatan sedikit pun, apalagi 'cuma' Ajax.

Jikalau Juventus mampu bermain seperti saat menghadapi Atletico di leg II perdelapan final, habislah Ajax. Terlebih, Cristiano Ronaldo akan kembali memimpin lini depan 'Si Nyonya Tua'. Sebagai catatan, Ronaldo adalah pemain terproduktif di babak perempat final Liga Champions. Sepanjang kariernya, pria Portugal itu sudah mencetak 24 gol di babak ini, lebih banyak dari milik Leo Messi (10) dan Raul Gonzalez (10) sekaligus.

Artinya, pada pertandingan leg II antara Juventus dan Ajax nanti, hasil di leg I bisa jadi tak relevan sama sekali. Ajax tentunya punya kesempatan apabila mereka mampu mengulangi penampilan saat menundukkan Real Madrid dan mengonversi peluang dengan lebih baik. Akan tetapi, Juventus pun punya kesempatan yang sama besarnya. Dengan pemain-pemain yang lebih berpengalaman dan dukungan para tifosi, Juventus bisa saja menghentikan dongeng Ajax lewat tusukan belati di dada.

=====

Juventus akan menjamu Ajax dalam pertandingan leg II babak perempat final Liga Champions 2018/19 di Allianz Stadium, Turin. Sepak mula akan dilakukan pada Rabu (17/4/2019) dini hari pukul 02:00 WIB.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23