Pencarian populer

Vincent van Gogh, Pelukis Gila dengan Karya Melampaui Zaman

Potret diri Vincent van Gogh. (Foto: Wikimedia Commons)

Vincent Willem van Gogh adalah salah satu pelukis paling terkenal sepanjang sejarah. Ia pelukis pasca-impresionis asal Belanda.

Ironisnya, nama dan karya-karyanya baru mulai diakui dan dikenal secara internasional setelah ia meninggal.

Sejumlah pengamat seni menilai lukisan-lukisan karya Van Gogh telah melampaui zamannya.

Sepanjang hidupnya yang serbasusah, Van Gogh telah membuat 2.100 karya seni, termasuk 860 lukisan cat minyak. Namun semasa ia hidup itu, hanya ada 1 lukisannya yang laku terjual.

Padahal saat ini, setelah mati, hampir seluruh karya Van Gogh telah laris terjual. Sejumlah karyanya bahkan tercatat sebagai lukisan-lukisan termahal di dunia. Beberapa lukisannya yang fenomenal antara lain Portrait of Dr. Gachet, The Starry Night, dan The Potato Eaters.

The Potato Eaters, salah satu lukisan Van Gogh. (Foto: Wikimedia Commons)

Sebelum memilih terjun sebagai pelukis, Van Gogh pernah menjadi pramuniaga di galeri seni milik pamannya di London, Inggris. Ia juga sempat jadi pelayan Tuhan di Borinage, Belgia --sebuah daerah pertambangan batubara yang dihuni penduduk miskin.

Lelaki kelahiran Zundert, Belanda, 30 Maret 1853 ini mulai memutuskan menjadi pelukis pada 1881 sepulangnya dari Borinage, Belgia.

Tidak ada kata telat untuk memulai, pikir Van Gogh di usianya yang 27 tahun lebih saat itu. Tekadnya bulat, meski banyak orang di sekelilingnya, termasuk keluarga besarnya, tak menyetujui keputusan yang ia ambil.

Satu-satunya orang yang setia mendukung keputusan Van Gogh secara total adalah Theo van Gogh, adik kandung kesayangannya.

Sejak kecil, dua dari enam bersaudara itu memang amat dekat. Theo selalu mendukung pilihan karier kakaknya. Bahkan semasa menjadi seniman miskin, Van Gogh mendapat dukungan finansial dari Theo yang seorang pengusaha sukses.

Theo van Gogh. (Foto: Wikimedia Commons)

Selama menjadi pelukis, Van Gogh hidup berpindah-pindah. Ia sempat melukis berbagai objek di beberapa kota di Belanda dan Perancis.

Namun saat tinggal di Arles, Perancis, Van Gogh mengidap gangguan jiwa akut.

Tanpa alasan jelas, pada Desember 1888, ia memotong telinga kirinya dan memberikannya kepada seorang pelacur. Tentu saja hal ini membuat dia harus dirawat di rumah sakit.

Van Gogh juga sempat dirawat di Rumah Sakit Jiwa Saint-Remy, Perancis, pada 1889-1990.

Tapi meski dirawat di RSJ, Vincent tetap rajin melukis. Banyak karya fenomenalnya yang lahir di RSJ Saint-Remy tersebut, di antaranya The Starry Night, The Olive Trees, dan Country Road in Provence by Night.

The Starry Night, salah satu lukisan Van Gogh. (Foto: Wikimedia Commons)

Theo sang adik adalah sosok di balik konsistensi Van Gogh dalam berkarya. Berulang kali penyakit kejiwaan Van Gogh kambuh, berulang kali pula Theo menanggung biaya pengobatannya. Theo pun terus memasok kanvas, cat, pensil, kertas, dan alat-alat lukis lain untuk kakaknya di manapun dia berada, termasuk di rumah sakit jiwa.

Theo pulalah yang tak kenal lelah mencoba menjual lukisan-lukisan Van Gogh yang ia percaya bagus dan bernilai tinggi.

Theo gagal menjual berbagai lukisan Van Gogh, tapi istri Theo, Johanna Bonger, melanjutkan perjuangan suaminya menjual lukisan-lukisan itu hingga akhirnya satu per satu lukisan Van Gogh mulai laku dan dikenal dunia.

Lukisan potret diri Vincent van Gogh. (Foto: Wikimedia Commons)

Van Gogh meninggal di usia 37 tahun pada 28 Juli 1890 di Auvers-sur-Oise, Perancis.

Setelah Van Gogh meninggal, kesehatan Theo sang adik berangsur-angsur memburuk. Theo kemudian jatuh sakit, diduga karena merasa amat kehilangan atas meninggalnya Van Gogh.

Enam bulan setelah Van Gogh meninggal, Theo akhirnya menyusul tutup usia di Utrecht, Belanda, pada 25 Januari 1891. Jasadnya dikebumikan bersebelahan dengan makam Van Gogh di Auvers-sur-Oise.

Sosok kakak-beradik yang amat dekat dan saling menyayangi itu lantas diabadikan ke dalam dua patung sosok mereka yang dibangun di Zundert, tempat kelahiran keduanya.

Patung Vincent dan Theo van Gogh. (Foto: Wikimedia Commons)

Kisah hidup Van Gogh yang fenomenal diabadikan ke dalam novel biografi oleh Irving Stone.

Stone menulis buku Lust for Life setelah melakukan riset serius dengan membaca surat-surat dan catatan harian yang pernah dibuat oleh Van Gogh, mewawancarai orang-orang yang mengenal Vincent, dan mendatangi lokasi-lokasi di Eropa yang pernah didiami olehnya.

Buku yang terbit 1934 itu meledak di pasaran dan membuat nama Irving Stone dikenal sebagai salah satu penulis novel biografi terbaik di dunia.

Cerita dalam buku itu kemudian diadapatasi ke dalam film berjudul sama, Lust for Life, oleh Vincente Minelli pada 1956. Film yang dibintangi oleh Kirk Douglas itu sukses menyabet 1 piala Oscar dan meraih 3 nominasi piala Oscar lainnya.

Selain diabadikan dalam buku dan film, kisah hidup Vincent van Gogh juga diabadikan ke dalam lagu dan sering pula dipentaskan pada pertunjukan-pertunjukan teater.

Don McLean, musisi Amerika Serikat, penah menciptakan lagu berjudul Vincent (Starry Starry Night) yang ia persembahkan untuk mengenang Vincent van Gogh.

Tak hanya musisi luar negeri, seniman-seniman di Indonesia pun pernah turut membuat karya persembahan untuk pelukis yang begitu terkenal justru setelah ia meninggal.

Tahun 1964, Taufik Ismail, sastrawan Indonesia kelahiran Bukittinggi, pernah menggubah puisi berjudul Oda Pada van Gogh. Puisi itu kemudian dimusikalisasi oleh Bimbo, grup musik Indonesia yang beranggotakan 3 musisi bersaudara, menjadi lagu berjudul sama.

Karya-karya Vincent van Gogh masih dikagumi dan dinikmati oleh para pecinta seni sampai sekarang. Di Amsterdam, Belanda, Van Gogh Museum dibangun untuk mengenang karya-karya dan peninggalan pelukis kebanggaan Negeri Kincir Angin tersebut.

Van Gogh Museum. (Foto: Pinterest)

Hingga saat ini, kisah hidup Vincent van Gogh juga masih dibaca dan ditonton oleh banyak orang. Kisahnya bahkan turut menginspirasi orang-orang lain yang hidup setelah zamannya.

Maryam Mirzakhani, wanita asal Iran yang kini menjadi profesor di Universitas Stanford, Amerika Serikat, mengaku terinspirasi oleh buku Lust for Life. Wanita yang pada 2014 meraih Fields Medal --penghargaan internasional di bidang matematika empat tahunan itu, mengaku sangat terkesan oleh novel biografi Van Gogh karena mengisahkan betapa bersemangat, total, dan detailnya sang maestro dalam berkarya.

Maryam Mirzakhani, peraih Fields Medal 2014. (Foto: mathematics.stanford.edu)

Di Indonesia, buku Lust for Life yang berbahasa Inggris sudah pernah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Serambi pada 2011.

Film tentang biografi Van Gogh juga pernah diproduksi dan ditayangkan berulang kali, salah satunya ke dalam film berjudul Van Gogh: Painted With Words pada 2010 yang dibintangi oleh Benedict Cumberbatch.

Tahun ini, 2017, juga akan hadir film biografi Van Gogh lainnya dalam bentuk animasi. Film berjudul Loving Vincent ini terdiri dari 65.000 frame yang merupakan gambar lukisan minyak.

Demi merealisasikan film tersebut, 65.000 lukisan minyak sengaja dibuat beramai-ramai oleh sejumlah seniman dengan mengikuti gaya lukisan Van Gogh. Film ini dibuat sebagai persembahan para seniman untuknya.

Lukisan adalah dunia Van Gogh sepanjang hidupnya, bahkan dalam mimpi.

Ia berkata, “I dream of painting, and then I paint my dream.”

Bukan cuma Van Gogh penderita penyakit jiwa dengan prestasi fenomenal. Simak kisah

Ikuti pula rangkaian kisah berikut

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Rabu,22/05/2019
Imsak04:25
Subuh04:35
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.22