2019, Tahunnya Kuliner dengan Nama Nyeleneh

Tahun 2019 menjadi tahun kegemilangan bagi kuliner bertabalkan nama yang unik dan rada nyeleneh. Berbagai kudapan dari sejumlah daerah mendadak terkenal setelah diulas media lokal maupun nasional.
Misalnya saja 'Memek' dari Simeulue, Aceh, yang kini telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Pertama kali membaca atau mendengar nama bubur yang terbuat dari ketan yang telah disangrai itu, orang pasti akan senyum-senyum sendiri.
Padahal dalam bahasa Simeulue, Memek berarti mengunyah. Ketan yang disangrai dan dicampur dengan pisang itu terasa renyah saat digigit, hingga benar-benar hancur saat dikunyah.
Karena itulah makanya kudapan ini diberi nama Memek. Tidak ada hubungannya dengan arti kata yang dikenal umum oleh sebagai masyarakat Indonesia, yang merujuk pada alat kelamin wanita.
Ada juga penganan dengan nama aneh lain yang muncul di 2019 dan menjadi viral. Namanya Kue Peler Berdebu, khas kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Kue ini berbahan dasar ubi yang ditumbuk dengan sagu, diisi dengan gula merah, yang kemudian dikukus. Kelapa parut menjadi penambah kenikmatannya.
Kue ini sebenarnya mirip onde-onde. hanya bahan dasarnya saja yang tak serupa. Berbeda dengan Memek, penamaan kue yang satu ini berawal pada tahun 1970-an ketika kue itu dibuat nama candaan oleh masyarakat di sana karena bentuknya bulat lembek. Sehingga dijuluki Kue Peler Bedebu.
Sebenarnya masih banyak lagi nama kuliner-kuliner aneh dan nyeleneh, yang diproduksi di berbagai daerah di Indonesia. Tapi mungkin mereka belum seberuntung dua kudapan di atas, yang mendadak terkenal di 2019.
Di wilayah pesisir timur Aceh misalnya, ada kue yang namanya 'Ruti Pukoe Keubeu'. Jika ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia, itu berarti roti kelamin kerbau. Untuk mereduksi kecabulan penamaannya, orang kerap menyingkatnya dengan RPKB.
Padahal kue ini tak beda sedikit pun dengan martabak manis atau martabak bangka, yang telah dikenal luas di Indonesia.
Yang pasti, hampir tidak ada penjual martabak manis di pesisir timur Aceh, yang menulis 'Ruti Pukoe Keubeu' di gerobak dagangannya. Namun sang penjual paham jika ada pembeli yang memesan seraya berujar, "Neu bungkoh Pukoe Keubeu saboh (Saya pesan 'Pukoe Keubeu' satu bungkus)."
Tidak ada yang bisa menjelaskan siapa sebenarnya yang pertama sekali menabalkannya. Entah apa yang merasuki orang itu, sehingga menamakan kudapan nikmat ini sejelek itu.
Ah, tidak elok juga membayankan martabak manis, dengan bentuk alat kemaluan kerbau. Tapi itu telah menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat kita.
Bagi para Master Chef, penamanan makanan pasti ada filosofinya. Itu bisa saja merujuk pada bentuk, campuran bahan, maupun cara penyajiannya.
Nama yang aneh bisa saja juga menjadi daya tarik marketing bagi panganan yang ada. Yang pasti semua makanan yang namanya sedikit nyeleneh di atas, enak untuk dicicipi di kala lapar melanda.[]
Penulis: Riza Nasser
Warga Aceh yang saat ini bekerja di Jakarta
