Pencarian populer

Senja Terakhir Soeharto Memimpin Negeri

Polisi pada Mei 1998 (Foto: Dok. Muhammad Firman Hidayatullah)
Hari itu bukan hari biasa. Ketegangan mengambang di seluruh penjuru negeri sejak fajar merekah. Di jantung kekuasaan, puluhan ribu tentara berjaga bersiaga. Perang seolah bisa meledak kapanpun. Tak ada yang tahu akan seperti apa nasib negara di pengujung hari.
ADVERTISEMENT
Pagi 20 Mei 1998 itu, jalan menuju Lapangan Monumen Nasional diblokade aparat keamanan dengan kawat berduri, seiring rencana demonstrasi besar ribuan mahasiswa di Monas. Bukan demonstrasi biasa, melainkan aksi dengan tujuan penting: menumbangkan kekuasaan Soeharto yang telah bercokol lebih dari tiga dekade.
Jumlah tentara yang bertambah berlipat ganda hingga 80.000 personel membuat Amien Rais, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang bergabung bersama aksi mahasiswa di Gedung MPR/DPR menuntut Soeharto mundur, akhirnya membatalkan pengerahan mahasiswa ke Monas --mengambil momen Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh 20 Mei.
Kedua pihak, aparat dan mahasiswa, saling menahan diri. Mereka sama tahu, pemicu sekecil apapun dapat berakibat fatal: darah bisa tumpah di tanah tumpah darah.
[Lihat: ]
Mahasiswa berhasil masuk DPR, Mei 1998. (Foto: Dok. Muhammad Firman Hidayatullah)
Di Yogyakarta, 500 ribu orang berdemonstrasi menuntut angin perubahan. Di antara mereka ialah Sultan Hamengkubuwono X. Aksi serupa terjadi di Surakarta, Medan, dan Bandung.
ADVERTISEMENT
Harmoko, mantan Menteri Penerangan Soeharto tiga periode yang saat itu menjabat Ketua DPR/MPR, kembali meminta Soeharto mengundurkan diri selambatnya 22 Mei, atau DPR/MPR terpaksa memilih presiden baru.
Dua hari sebelumnya, 18 Mei, Harmoko didampingi pimpinan DPR/MPR lainnya pun telah meminta Soeharto untuk mundur.
“Dalam menanggapi situasi seperti tersebut di atas, pimpinan Dewan, baik Ketua maupun Wakil-wakil Ketua, mengharapkan, demi persatuan dan kesatuan bangsa, agar Presiden secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan diri,” kata Harmoko.
[Baca: ]
Situasi tak makin jelas siang harinya. Namun para pembantu Soeharto di kabinet sadar rezim di ambang kolaps. Sebanyak 14 menteri bidang ekonomi dan industri berkumpul di Gedung Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menjelang sore, sepakat hendak melepas diri dari Soeharto.
ADVERTISEMENT
Pengunduran diri mereka dari kabinet disampaikan melalui sepucuk surat. Dalam surat itu pula, mereka secara halus meminta Soeharto mundur.
Tirai senja turun kala surat tersebut dititipkan kepada ajudan Soeharto, Laksamana Sumardjono. Namun surat itu tak langsung dibaca, hanya tergeletak di atas meja.
Soeharto. (Foto: Reuters.)
Cendana dijaga ketat. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk, antara lain Panglima ABRI Jenderal Wiranto, Wakil Presiden BJ Habibie, tiga orang mantan wakil presiden yang dipanggil Soeharto --Umar Wirahadikusumah, Sudharmono, dan Try Sutrisno, serta penulis pidato presiden, Yusril Ihza Mahendra.
Tahun 1998 itu, Yusril telah menulis sekitar 204 naskah pidato untuk Soeharto. Ia diangkat menjadi penulis pidato presiden sejak 1996. Dia pula yang kemudian menuliskan pidato berhentinya Soeharto dari jabatan presiden.
Yusril Ihza Mahendra (Foto: Facebook Yusril Ihza Mahendra)
Petang datang ketika Yusril menaruh pakaian kotornya di Jalan Pekalongan yang tak jauh dari kediaman Soeharto di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat. Saat itulah ia disambangi Akbar Tandjung dan Tanri Abeng, dua dari 14 menteri Soeharto yang mundur dari kabinet.
ADVERTISEMENT
Yusril sudah sepekan lebih tak pulang ke rumah. Ia menginap di Cendana, nyaris setiap waktu mendampingi Soeharto yang kian terlihat gelisah dari hari ke hari.
Kepada Yusril, Akbar Tandjung dan Tanri Abeng bertanya bagaimana kondisi Soeharto dan situasi di Cendana.
[Baca:]
Tentara berjaga, Mei 1998. (Foto: Dok. Muhammad Firman Hidayatullah)
Yusril mengatakan, situasi terlihat genting dan ia khawatir. Tentara siap siaga di mana-mana. Anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Makassar dan Banten ditarik ke Jakarta, sehingga sepertiga kekuatan ABRI sudah berada di ibu kota.
“Kalau ada pemicu sedikit, bisa terjadi perang saudara,” ujar Yusril.
Itu pula yang membuat Yusril meminta Amien Rais membatalkan rencana membawa mahasiswa berdemonstrasi ke Monas. Permintaan tak hanya datang dari Yusril, tapi juga Panglima Kostrad Letnan Jenderal Prabowo Subianto.
ADVERTISEMENT
Mereka meyakinkan Amien, Soeharto pasti turun, sebab ia sudah amat gelisah. Jadi tak perlu sampai membawa mahasiswa ke Monas dan Istana, atau Tragedi Tiananmen bisa terjadi di Jakarta. Pada tragedi di Beijing tahun 1989 itu, 3.000 lebih mahasiswa China ditumpas tentara saat berdemonstrasi menuntut demokrasi.
Amien setuju, dan membatalkan rencana demonstrasi di Monas. Ribuan mahasiswa tetap berada di Gedung MPR/DPR.
[Baca ]
Aksi mahasiswa di MPR/DPR, Mei 1998. (Foto: Dok. Muhammad Firman Hidayatullah)
Jarum jam berada di angka 11 ketika Soeharto memerintahkan ajudannya untuk memanggil Yusril, Menteri Sekretaris Negara Saadilah Mursjid, dan Panglima ABRI Jenderal Wiranto.
Malam kian pekat, dan Soeharto telah membaca surat pengunduran diri 14 menterinya. Ia kemudian mengambil keputusan.
Soeharto keluar dari kamar, merenung sambil menepuki kaki tuanya, lalu berkata: saya mundur besok.
ADVERTISEMENT
Ia berucap pada Yusril, “Kamu urus bagaimana cara saya berhenti,” dan kembali masuk ke dalam kamar.
Yusril segera menggelar rapat, menyusun skenario pengunduran diri yang dirasa paling tepat untuk Soeharto. Sementara Wiranto mondar-mandir dari Cendana ke Kantor Menteri Pertahanan Keamanan sampai tiga kali untuk berkoordinasi dengan para Kepala Staf Angkatan terkait keputusan Soeharto mundur.
[Baca: ]
Menjelang pukul 23.30, di pengujung hari, Habibie telah diberi tahu Soeharto tentang keputusan dia mundur, dan akan menyerahkan jabatan presiden kepadanya. Dan Yusril menemui Amien Rais.
The old man most probably has resigned,” ujar Yusril kepada Amien.
Angin malam berembus, hari beranjak berganti.
20 Mei 1998 jadi senja terakhir Soeharto memerintah negeri.
ADVERTISEMENT
Sumber: wawancara penulis dengan Yusril Ihza Mahendra tahun 2015 dan lain-lain.
Ikuti kisah berikutnya:
Soeharto turun. (Foto: Wikimedia Commons)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80