kumparan
5 Maret 2019 18:47

Semakin Menumpuk Saja Dosa-dosa Manchester City

Manchester City
Logo Manchester City di Etihad Stadium. Foto: Reuters/Jon Super
Lapangan sepak bola hanyalah panggung sandiwara dan Manchester City adalah jagonya berpura-pura. Setidaknya, begitulah jika dokumen Football Leaks yang diterbitkan Der Spiegel bisa dipercaya seutuhnya.
ADVERTISEMENT
Manchester City adalah simbol modernitas sepak bola di Inggris. Mereka punya pemain-pemain mahal bergaji selangit yang memainkan sepak bola canggih di bawah asuhan pelatih genius. Mereka juga punya fasilitas kelas satu baik untuk tim utama, tim wanita, maupun tim junior. Tak sampai di situ, klub ini juga turut serta dalam proses revitalisasi sisi timur kota Manchester yang sebelumnya lebih mirip latar cerita Dickensian itu.
Di permukaan, seperti itulah citra City. Oh, dan jangan lupakan pula bagaimana mereka, lewat payung City Football Group (CFG), saat ini memiliki 'cabang' di enam negara berbeda. Klub La Liga, Girona, adalah salah satunya. Pendek kata, Manchester City saat ini telah menjadi sebuah imperium di dunia sepak bola.
ADVERTISEMENT
Di balik terus melebarnya sayap City tersebut, rupanya ada praktik-praktik keji yang busuknya berusaha dikubur dalam-dalam oleh para pelakunya. Meski demikian, sedalam-dalamnya bangkai dikubur, aromanya akan tercium juga. Dalam kasus ini, Football Leaks-lah yang pertama kali mencium bau busuk tersebut dan mereka pun kemudian mengerek bangkai yang dikubur tadi ke permukaan. Hanya, sampai sekarang Manchester City belum mau mengakui bahwa bangkai itu adalah hasil kejahatan mereka.
November 2018 lalu Football Leaks sudah merilis dokumen-dokumen yang menunjukkan keterlibatan Gianni Infantino serta Michel Platini dalam menghindarkan City dari hukuman akibat melanggar Financial Fair Play (FFP). Ketika itu, pada 2013, City menderita kerugian sampai 451 juta euro. Padahal, batas maksimal kerugian sebuah klub Eropa, per aturan FFP, ketika itu adalah 45 juta euro.
ADVERTISEMENT
Normalnya, sebuah klub bakal dihukum berat apabila melanggar aturan sampai seperti itu. Pencoretan dari kompetisi Eropa adalah hal mutlak. Akan tetapi, karena City punya banyak uang dan UEFA adalah sarang penyamun, maka segalanya bisa diatur. Akhirnya, City hanya mendapat hukuman denda 20 juta euro, pengurangan jatah pemain di Liga Champions 2014/15, dan pembatasan anggaran belanja di angka 49 juta euro.
Keringanan itu bisa didapatkan City setelah melalui lobi-lobi bawah tanah yang melibatkan pejabat mereka dan Infantino serta Platini tadi. Apa yang dilakukan City ini juga dilakukan oleh Paris Saint-Germain dalam kurun waktu yang sama.
Dosa City rupanya tak berhenti sampai situ. Di awal 2019 ini Football Leaks, lewat corong Der Spiegel tentunya, kembali merilis dokumen-dokumen menghebohkan yang bisa menyeret nama baik Manchester City ke kubangan lumpur. Dari berbagai dokumen itu, ada dua yang menonjol dan semuanya berkaitan dengan transfer pemain.
ADVERTISEMENT
Pertama, soal transfer Jadon Sancho dari Watford. Ya, tak seperti yang selama ini marak diketahui, Sancho bukan didikan asli City. Pemain yang kini berkostum Borussia Dortmund itu memang pernah bermain di akademi City di bawah bendera Elite Player Performance Plan, tetapi aslinya dia adalah produk akademi Watford.
Sancho pindah ke akademi City pada 2015 ketika usianya masih 14 tahun. Untuk mendapatkan Sancho, City membayar uang kompensasi pembinaan 66 ribu poundsterling kepada The Hornets. Sebenarnya, ini praktik yang wajar. Ada banyak pemain yang berpindah akademi di masa remaja. Yang kemudian menjadi masalah, City membayar 200 ribu poundsterling kepada seseorang bernama Emeka Obasi.
Jadon Sancho
Winger Borussia Dortmund, Jadon Sancho. Foto: Patrik Stollarz/AFP
Ketika itu City menyantumkan pembayaran terhadap Obasi itu sebagai biaya pencarian bakat pemain di Amerika Selatan. Akan tetapi, itu cuma yang tertulis di atas kertas karena sebenarnya Obasi adalah agen dari Sancho.
ADVERTISEMENT
Praktik ini ilegal karena dalam aturan FA tidak dibolehkan seorang pemain di bawah 16 tahun memiliki agen. Inilah yang kemudian membuat City diinvestigasi oleh FA. Meski begitu, apakah Manchester City bakal dinyatakan bersalah dan hukuman seperti apa yang akan mereka terima sejauh ini belum diketahui.
Persoalan kedua adalah ihwal kepemilikan pihak ketiga. Kasus Carlos Tevez dan Javier Mascherano yang pindah ke West Ham United lewat Media Sports Investment (MSI) milik Kia Joorabchian adalah kasus kepemilikan pihak ketiga terpopuler dalam dunia sepak bola.
MSI sendiri merupakan perusahaan yang membeli hak komersial atas Tevez dan Mascherano ketika keduanya masih bermain di klub Brasil, Corinthians. Inilah yang disebut sebagai kepemilikan pihak ketiga.
Praktik tersebut sebenarnya umum terjadi di Amerika Selatan. Dengan dana terbatas, klub-klub di sana bisa meminjam pemain yang diinginkan lewat perjanjian bisnis dengan perusahaan pemilik hak komersial pemain. Ketika Tevez dan Mascherano bermain di Corinthians, itulah yang terjadi.
ADVERTISEMENT
Setibanya di Inggris praktik seperti ini langsung mendapat kritikan keras. Ia dianggap sebagai bentuk perbudakan modern karena secara teknis seorang pemain hanya bisa bermain di klub yang disetujui oleh pemilik hak komersialnya.
Praktik kepemilikan pihak ketiga ini pun menjadi ilegal di sepak bola. FA jadi yang pertama kali melarang praktik ini pada 2008. Tujuh tahun berselang FIFA akhirnya benar-benar melarang praktik ini di olahraga yang dinaunginya.
Kepemilikan pihak ketiga yang dilakukan oleh Manchester City ini dimulai pada 2012 ketika mereka menunjuk Ferran Soriano sebagai direktur eksekutif klub. Soriano, mantan Wakil Presiden Barcelona itu, adalah sosok yang pertama kali mencetuskan ide untuk membentuk City Football Group. Dalam proposalnya, Soriano juga menyertakan 'Dana X'.
ADVERTISEMENT
'Dana X' ini nantinya berkembang menjadi praktik kepemilikan pihak ketiga. Soriano ingin agar City Football Group memiliki dana investasi yang membeli, menjual, atau meminjamkan pemain ke klub-klub City Football Group tanpa memengaruhi neraca keuangan klub. Dana ini akan diatur secara independen tetapi dengan instruksi dari City Football Group.
Dana investasi ini, dalam rencana Soriano, bakal digunakan untuk mengijon pemain terutama dari Amerika Selatan. Soriano bahkan tak menutup kemungkinan bahwa dana investasi ini nanti diwujudkan sebagai sebuah klub di Uruguay. Mengapa Uruguay? Karena di negara tersebut sebuah klub bisa mendaftarkan sampai lebih dari 40 pemain. Begitulah rencananya.
Praktiknya sedikit berbeda. Dalam eksekusinya, dana investasi ini akhirnya dijalankan oleh sebuah perusahaan berbasis di Luksemburg bernama MPI II & Partners SCA. Perusahaan ini sendiri dijalankan oleh dua orang, yaitu Gerard Lopez dan Marc Ingla.
ADVERTISEMENT
Lopez adalah pengusaha Luksemburg yang saat ini berstatus sebagai pemilik klub Prancis, Lille OSC. Sementara, Ingla adalah direktur pelaksana klub yang mengorbitkan Eden Hazard tersebut. Ingla dan Soriano sudah berkawan dekat sejak awal 1990-an dan pertemanan itu berlanjut sampai akhirnya mereka sama-sama menjabat di Barcelona. Soriano sebagai Wapres, Ingla sebagai direktur pemasaran.
Di Luksemburg, Lopez memiliki 37,5% saham Mangrove Capital yang didirikan bersama partnernya dari Amerika dan Jerman. Nah, MPI II itu sendiri berstatus sebagai anak perusahaan dari Mangrove Capital. Namun, dalam akta perusahaan tercatat bahwa perusahaan ini dimiliki oleh perusahaan Belanda bernama Stichting MPI II. Keberadaan perusahaan Belanda ini merupakan alasan mengapa MPI II disebut sebagai MPI II & Partners. Namun, perusahaan Belanda itu tidak benar-benar ada, melainkan hanya perusahaan cangkang.
ADVERTISEMENT
Sekarang, kembali ke City Football Group. Untuk menyalurkan uang dari mereka ke MPI II, City Football Group kemudian membentuk perusahaan cangkang lain di Kepulauan Cayman bernama Roscalitar. Perusahaan ini, berdasarkan data Football Leaks, sebenarnya tak lain dan tak bukan merupakan Otoritas Urusan Eksekutif Uni Emirat Arab yang dikepalai oleh Presiden Manchester City dan City Football Group, Khaldoon al-Mubaraak.
Singkat kata, begitulah cara Manchester City mempraktikkan kepemilikan pihak ketiga. Pada 2014 lalu mereka mendatangkan Bruno Zuculini dari Racing Club de Avellanada. Zuculini sebenarnya tidak dibeli oleh Manchester City per se, melainkan oleh MPI II, dan 'dipinjamkan' ke The Citizens.
Mempraktikkan kepemilikan pihak ketiga di sepak bola jelas merupakan sebuah pelanggaran. Akan tetapi, menurut Der Spiegel, pihak Manchester City sendiri mengaku tidak khawatir akan potensi hukuman karena mereka sudah melakukan segala hal sedemikian rupa agar aliran dana tak bisa dilacak ke pihak klub. City juga sejauh ini masih bersikeras bahwa segala laporan yang ada hanyalah upaya untuk menjatuhkan nama baik klub.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan