Mengenal Odalan, Upacara Pemujaan Para Dewa yang Diistanakan di Pura

13 November 2019 17:55 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi, Pura di Ubud, Balu Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi, Pura di Ubud, Balu Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Indonesia dengan keberagaman suku dan budayanya tentu memiliki banyak tradisi atau upacara tertentu yang masih dipegang teguh hingga saat ini. Salah satunya umat Hindu.
ADVERTISEMENT
Kalau umumnya kita mengenal peringatan Nyepi, umat Hindu juga memiliki banyak hari raya besar dalam kalender keagamaannya. Salah satunya adalah upacara piodalan (odalan) atau yang disebut juga sebagai pujawali, petoyan atau petirtaan.
Namun, baru-baru ini masalah intoleransi kembali terjadi. Salah satu warga bernama Utiek Suprapti (57), perempuan beragama Hindu itu mendapat penolakan ketika menggelar upacara odalan di rumahnya di Desa Mangir Lor Rt 02, Sendangsari, Pajangan, Bantul lantaran dianggap tak memiliki izin.
Upacara peribadatan di Bantul, yang dihentikan warga. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Upacara odalan yang ia gelar merupakan sebuah ritual untuk menghormati dewa yang ada di pura peninggalan Ki Ageng Mangir yang berada tidak jauh dari tempat tersebut.
Lantas, apa upacara odalan itu dan seperti apa prosesi di dalamnya? Yuk simak ulasan berikut.
ADVERTISEMENT
Upcara Odalan merupakan rangkaian upacara Dewa Yadnya yang ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widi pada sebuah pura atau tempat suci. Biasanya, prosesi odalan atau hari besar tersebut dipimpin oleh orang suci seperti pemangku ataupun pendeta.
Pancuran air suci di Pura Tirta Empul Tampaksiring, Gianyar, Bali, Rabu (16/10/2019). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Seperti dikutip dari laman Pesona Indonesia, Piodalan sendiri berasal dari kata "wedal" yang memiliki arti "keluar" atau "lahir". Jadi, layaknya perayaan hari ulang tahun, saat peringatan upacara odalan tersebutlah ditetapkan sebagai hari lahir sebuah pura atau bangunan suci. Dengan kata lain, piodalan merupakan peringatan hari lahirnya sebuah tempat suci umat Hindu.
Dengan adanya upacara keagamaan ini, maka setiap pura yang tersebar di Bali bahkan luar Bali memiliki hari yang ditetapkan sebagai hari suci untuk piodalan.
ADVERTISEMENT
Piodalan ini pun terbagi menjadi dua yaitu piodalan alit atau nyanang dan piodalan ageng yang diikuti oleh seluruh warga yang tinggal di luar maupun di dalam desa itu sendiri yang terdiri dari berbagai dadia (klen).
Tokoh agama berdoa di Pura Tirta Empul Tampaksiring, Gianyar, Bali, Rabu (16/10/2019). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Jatuhnya hari peringatan pura ini juga berbeda-beda, karena diambil berdasarkan perhitungan sasih yang merujuk pada kalender Saka yang jatuhnya setiap satu tahun sekali. Hitungan ini berdasarkan perhitungan waktu yang merujuk pada kalender atau penanggalan Bali yang jatuhnya setiap 6 bulan (210 hari) sekali.
Piodalan biasanya dilaksanakan setiap enam bulan atau satu tahun sekali di pura kayangan yang ada di tiap desa. Tujuan dari upacara ini adalah untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis dan sejahtera lahir batin di masyarakat.
ADVERTISEMENT
Mengutip laman resmi Pemkab Karangasem, dalam Lontar Sundari Gama ada disebutkan bahwa, barang siapa yang tidak memelihara dan tidak melaksanakan kewajiban di Pura Puseh tentu masyarakat sekitarnya akan kekurangan sandang pangan, dan tidak terpeliharanya kehidupan masyarakat setempat karena Dewa Wisnu sebagai Pemelihara (Stiti) dengan Saktinya Dewi Sri yang menguasai makanan tidak akan merestui Nya.
Ilustrasi Masyarakat Bali Foto: Shutter Stock
Barang siapa yang secara tulus berbakti dan melaksanakan kewajiban terhadap Pura Bale Agung, tentu masyarakatnya akan menjadi rukun dan tenteram, karena Dewa Brahma yang distanakan di Pura Bale Agung sebagai tempat untuk bermusyawarah, dan Saktinya Dewi Saraswati akan menebarkan pengetahuan kesucian agar menjadikan sama dalam perkataan, sama dalam perbuatan dan sama dalam pemikiran. Sehingga apa yang menjadi harapan bersama akan dapat terwujud dengan baik.
ADVERTISEMENT
Upacara odalan pada sebuah tempat suci bisa dirayakan dalam skala yang kecil dan besar, tergantung dengan kemampuan finansial masing-masing tempat, yang dibagi dalam beberapa tingkatan odalan, seperti odalan tingkat nista, odalan tingkat madya, dan odalan tingkat utama.
Untuk hari-hari baik yang dipilih dan ditetapkan sebagai hari piodalan sebuah tempat suci di antaranya adalah, Purnama Kapat, Kalima, Kadasa. Anggar kasih Kulantir, Julungwangi, Medangsia, Tambir, Perangbakat dan Dukut. Saniscara Kliwon (Tumpek) Landep, Wariga, Kuningan, Krulut, Uye dan Wayang. Buda Wage Ukir, Warigadean, Langkir, Merakih, Menail dan Klawu, dan masih banyak hari baik lainnya.
Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan sejumlah upacara odalan, kamu bisa mengunjungi pura-pura besar yang ada di Bali seperti Besakih dan Ulun Danu Batur. Karena tradisi ini termasuk peringatan hari besar umat Hindu, biasanya pura-pura tersebut akan dipadati oleh umat Hindu.
ADVERTISEMENT