Marak Konten Malaikat Maut, Pakar Sebut Medsos Perlu Masuk Kurikulum Pendidikan
·waktu baca 2 menit

Konten video remaja menghadang truk di media sosial (medsos), terutama Tiktok, tengah menuai perhatian. Konten bertajuk “Challenge Malaikat Maut” tersebut bahkan telah menelan korban seperti di Banten, Bandung, dan Bekasi.
Atas kejadian itu, platform media sosial perlu lebih aktif dalam mendeteksi konten yang mendorong orang untuk melakukan aksi berbahaya dan perlunya literasi digital masuk kurikulum pendidikan. Hal itu dikemukakan peneliti Pusat Kajian Masyarakat Digital atau Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada (UGM), Faiz Rahman, Kamis (30/6).
“Saat ini, banyak orang mencoba peruntungan untuk menjadi viral di media sosial dengan membuat konten. Tidak jarang, tren viral yang diikuti masyarakat merupakan sesuatu yang dapat membahayakan diri, khususnya apabila aksi tersebut diikuti oleh anak,” kata Faiz dalam pesan tertulis UGM diterima redaksi hari ini.
Menurutnya, media sosial memang bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, media sosial berperan sebagai sarana komunikasi. Di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi titik berangkat terjadinya malapetaka. Untuk itu, media sosial memegang peran penting dalam menyaring konten.
“Platform media sosial perlu lebih aktif dalam mendeteksi berbagai konten yang mendorong orang untuk melakukan aksi yang membahayakan keselamatan,” tegasnya.
Faiz menyatakan, penegakan regulasi di platform media sosial dan moderasi konten berbahaya menjadi salah satu langkah pertama dan utama untuk mencegah penyebaran konten yang mendorong seseorang melakukan tindakan berbahaya.
“Pemerintah juga memiliki peranan yang signifikan dalam menyiapkan dan memfasilitasi kegiatan edukasi yang mumpuni bagi masyarakat. Berbagai kegiatan literasi digital perlu untuk semakin dimasifkan guna meningkatkan literasi digital masyarakat,” paparnya.
Faiz menyatakan, mengakomodasi literasi digital dalam kurikulum pendidikan formal juga urgen. Hal ini mengingat dampak negatif penggunaan media sosial ke anak-anak dan remaja kian banyak.
Selain platform media sosial dan pemerintah, orang tua memiliki posisi sentral dalam edukasi media sosial. “Orang tua juga harus memiliki tingkat literasi digital yang mumpuni, sehingga dapat menjadi contoh dan memberikan edukasi yang maksimal bagi anaknya,” kata dia
Menurutnya, orang tua juga perlu melakukan pengawasan dan memberikan pengertian kepada anak untuk tidak melakukan perbuatan yang membahayakan diri sendiri untuk kepentingan konten media sosial.
Bagi para pembuat konten, Faiz mengingatkan bahwa insiden pengadangan truk dapat menjadi pelajaran. “Peningkatan literasi digital dan moderasi konten menjadi dua kunci utama yang perlu diperhatikan oleh berbagai pihak untuk meminimalisir dampak negatif dari penggunaan dan penyalahgunaan media sosial,” pungkasnya. (akh)
