Kabar Jogja-Jateng: Menghadapi New Normal hingga Tanggap Darurat COVID-19

Keputusan new normal atau normal baru yang diusulkan pemerintah Indonesia menjadi angin segar bagi sebagian warga. Pasalnya bagi pelaku industri pariwisata, dengan adanya new normal, pelaku wisata berharap agar perekonomian dari sektor pariwisata bisa kembali bergerak seperti sedia kala walaupun tetap harus tetap mempertahankan prosedur pencegahan COVID-19.
Berikut ini rangkuman berita sehari kemarin yang mungkin Anda lewatkan:
1. PHRI Gunungkidul Bersiap Menghadapi New Normal
New normal menjadi harapan baru bagi pelaku industri pariwisata mengingat pandemi COVID-19 belum tentu akan berakhir dalam waktu dekat ini. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Gunungkidul Sunyoto berharap penerapan new normal ini tak terbentur dengan birokrasi pemerintahan. Ketidakpastian ini nanti akan semakin membuat industri pariwisata semakin terpuruk dan beban pemerintah kian berat.
Menurut dia, jika pembukaan wisata menunggu dinas membangun perangkat standar COVID-19, maka akan memakan waktu yang lama. Oleh karenanya, ketimbang membuat rumusan pedoman, Sunyoto menyarankan Dinas Pariwisata (Dispar) untuk meminta para pelaku wisata yang menyiapkan sendiri semua fasilitas standar kesehatan tersebut.
"Saya kira itu lebih efektif dan realistis," tuturnya, Rabu (27/5/2020).
2. Pemprov DIY Resmi Perpanjang Status Tanggap Darurat COVID-19 hingga 30 Juni 2020
Pemerintah Provinsi DIY akhirnya kembali memperpanjang status tanggap darurat bencana COVID-19. Perpanjangan status ini berlaku hingga 30 Juni 2020 mendatang. Hal ini dibahas dalam rapat koordinasi kelanjutan status tanggap darurat COVID-19 yang akan berakhir tanggal 29 Mei 2020.
Pembahasan kelanjutan perpanjangan masa tanggap darurat ini digelar pada Rabu (27/5/2020) di Ndalem Ageng Kompleks Kepatihan. Sekda Pemprov DIY, Kadarmanta Baskara Aji mengatakan perpanjangan masa tanggap darurat dilakukan berdasarkan keputusan Presiden RI, bahwa penganggulangan bencana non alam, tidak ada batas waktunya.
"Perpanjangan (sampai) 30 Juni 2020," ujar Kadarmanta Baskara Aji saat dikonfirmasi.
3. Puskesmas Temanggung Adakan Layanan Rapid Test Drive Thru
Pelayanan rapid test yang selama ini dilakukan oleh petugas secara door to door atau dari rumah ke rumah, menemui banyak kendala, sebab ada warga yang enggan melakukannya. Hal itu disebabkan karena biasanya akan timbul stigma negatif dari masyarakat setelah seseorang dikunjungi petugas Puskemas.
Untuk menanggulangi hal itu, Puskemas Bejen, Kabupaten Temanggung melakukan inovasi dalam pelayanan rapid test kepada masyarakat, dengan metode drive thru atau mereka petugas Puskesmas Bejen menyebutnya 'Ditatur', atau akronim dari dirapid tanpa turun. Dengan motode ini, pasien juga tidak perlu berkerumun di ruang tunggu dan bertemu dengan banyak orang. Pasien cukup datang, tidak perlu turun dari kendaraan, lalu petugas dengan APD lengkap dan peralatan medisnya akan mengambil spesimen darah pasien.
4. Calon Penumpang Pesawat yang Akan ke Jakarta Wajib Memiliki SIKM
Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo dan Bandara Adisutjipto Yogyakarta mewajibkan seluruh calon penumpang tujuan Jakarta untuk memiliki Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) dan melampirkan surat bebas COVID-19 dengan tes swab PCR dari kota keberangkatan menyusul diberlakukannya Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 47 tahun 2020.
General Manager Bandara Adisutjipto yang juga Pelaksana Tugas Sementara (PTS) GM Bandara Internasional Yogyakarta, Agus Pandu Purnama menandaskan, seluruh calon penumpang harus menunjukkan hasil negatif COVID-19 beserta dokumen pendukung lain sesuai tujuan perjalanan udara. Khusus tujuan Jakarta, calon penumpang wajib memiliki SIKM dan hasil negatif COVID-19 dengan tes swab PCR dari kota keberangkatan.
"Calon penumpang yang tidak membawa SIKM dan hasil negatif COVID-19 dengan tes swab PCR tidak diperbolehkan melanjutkan perjalanan udara menuju Jakarta," ujarnya, Rabu (26/5/2020).
5. Warga Gulurejo, Kulon Progo Ciptakan Batik Corona
Murtini (45) warga Dusun Sembungan, Desa Gulurejo, Kecamatan Lendah, Kulonprogo memperkenalkan batik corona. Batik ini sengaja ia ciptakan karena terinspirasi akan adanya pandemi COVID-19 yang melanda dunia. Batik tulis ini pun cukup diminati pasar lokal maupun luar daerah.
Murtini mengaku jika ide pembuatan batik motif ini muncul ketika jumlah penderita COVID-19 di Indonesia kian bertambah. Apalagi jumlah pasien positif sudah menyebar sampai di DIY, khususnya di Kulon Progo. Virus ini pun semakin membuat kehidupan masyarakat menjadi sangat terbatas.
"Karena korbannya banyak, saya kepikiran membuat batik corona," ujar Murtini, Selasa (26/5/2020).
