Edupreneurship: Jadi Kunci Kemandirian Finansial Calon Guru Lewat Les Komputer
Tulisan dari Nazmatul uyun tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ikhtiar Calon Pendidik Merajut Kemandirian Finansial Lewat Literasi Digital
Pernahkah kamu mendengar celetukan klasik, "Kalau mau kaya, jangan jadi guru"? Kalimat itu terdengar seperti guyonan biasa, tapi buat saya yang sedang menempuh kuliah di Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang, obrolan soal nasib kesejahteraan guru ini jujur saja sering bikin kepikiran. Di negeri ini, seolah ada doktrin tak tertulis bahwa siapa pun yang memilih jalan mendidik harus siap hidup serba pas-pasan demi sebuah pengabdian.
Padahal kalau dipikir-pikir, ironis sekali. Di ruang kuliah, kami setiap hari membedah kurva penawaran, teori perputaran modal, dan cara menciptakan nilai tambah ekonomi. Namun di sudut hati terdalam, pertanyaan mengganjal itu selalu mengetuk: buat apa kita belajar memajukan ekonomi orang lain jika kelak calon gurunya sendiri gamang menghidupi kebutuhan dapur?
Pandangan saya mulai terbuka lebar ketika masuk ke kelas mata kuliah Edupreneurship yang dibina oleh dosen kami, Pak Badrus Soleh. Suasana belajar di kelas beliau terasa sangat berbeda. Beliau tidak menyuruh kami duduk manis menghafal istilah bisnis demi mengejar angka di lembar ujian.
Dengan nada bicara yang selalu membakar tekad, beliau menantang cara pandang kami: mahasiswa calon guru ekonomi jangan pernah cuma bermental pasif menunggu dibukakan lowongan kerja. Beliau mendorong kami untuk berani melangkah keluar, memanfaatkan kemampuan mengajar, dan menciptakan ruang belajar mandiri yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Nasihat itu membukakan mata saya. Modal terbesar seorang pendidik sebenarnya bukan modal uang yang melimpah, melainkan kesabaran mendampingi dan kepandaian menyederhanakan materi rumit agar gampang dipahami. Kalau modal intelektual ini dikelola dengan keberanian wirausaha, seorang pendidik bisa mandiri tanpa harus menanggalkan marwah mengajarnya.
Dari ruang kuliah itulah, kami memutuskan untuk membuktikannya langsung di lapangan. Bersama rekan-rekan di LKP Tiranet, kami memberanikan diri merintis kelas kursus komputer bagi adik-adik kelas lima dan enam di SDN Sindangsari.
Kenyataan di lapangan memang menuntut perhatian nyata. Di tengah kewajiban menghadapi Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), masih banyak anak-anak sekolah dasar yang canggung memegang mouse atau menyalakan layar monitor. Komputer di rumah belum ada, sementara fasilitas sekolah dan tenaga pelatih pun sangat terbatas. Kami tidak ingin program ini hadir layaknya bimbingan belajar komersial yang memasang tarif mahal. Sejak awal, kami duduk bersama kepala sekolah dan para orang tua murid. Kami berdialog terbuka, menyepakati tata tertib, dan menetapkan iuran yang sangat terjangkau bagi kantong keluarga di desa.
Di dalam kelas, suasananya berubah jadi riang dan penuh antusias. Anak-anak diajak mengetik cerita pendek di Word, merapikan data tabel angka di Excel, berkreasi membuat kartu presentasi di Canva, hingga diajari etika dasar berselancar di internet secara aman. Saat kegiatan selesai, mereka pulang dengan senyum bangga sambil memegang buku panduan serta sertifikat resmi yang siap dipakai untuk mendaftar ke jenjang SMP. Yang paling membuat kami bersyukur, ikhtiar ini memberi napas lega bagi dapur kami sendiri. Dari iuran terjangkau tersebut, para mahasiswa dan instruktur pelatih menerima honorarium yang layak atas waktu dan tenaga yang dicurahkan. Kami bisa mandiri secara finansial dan membiayai kuliah dengan cara yang halal dan terhormat.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa edupreneurship bukan soal menjual pendidikan, melainkan cara agar guru berani berdaya dengan ilmunya sendiri. Memajukan ekonomi bangsa tidak harus menunggu instruksi kebijakan atau pidato pejabat. Langkah ini bisa dimulai dari ruang kelas kecil: buat gurunya tenang secara finansial, maka mereka akan mendidik generasi penerus dengan ketulusan penuh tanpa terbebani rasa cemas.

