BNPT Bicara Paham Radikal: Menyebar Seperti Virus; Minta Warga Jangan Lengah
·waktu baca 6 menit

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol Boy Rafli Amar, mengatakan penyebaran paham radikal belakangan terjadi sangat cepat. Paham radikal tersebut bahkan disebut menyebar secara masif layaknya virus COVID-19 yang merebak selama dua tahun terakhir ini.
"Penyebarluasan paham ideologi intoleransi radikalisme yang mengarah kepada terorisme seperti menyebarluasnya virus COVID-19 yang begitu cepat," kata Boy dalam jumpa pers di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Senin (20/6).
Boy menuturkan, peningkatan virus COVID-19 selama dua tahun terakhir juga diikuti dengan maraknya penyebaran paham radikal melalui media sosial.
Bahkan para kelompok tersebut secara terang-terangan menyebarkan paham radikal, khilafah, serta bertentangan dengan ideologi Pancasila.
"Mereka yang dulu bergerak senyap sekarang justru memanfaatkan kemajuan teknologi untuk secara gamblang melakukan propaganda nilai atau ideologi, perekrutan, hingga penggalangan dana," ujarnya.
Lebih jauh, lanjut Boy, paham radikal tersebut menyebar dan banyak memengaruhi masyarakat. Termasuk banyak anak muda turut menjadi korban di dalamnya.
"Ini tidak menguntungkan dan merugikan anak bangsa dan kita lihat juga karena propaganda melalui media sosial ada lebih 2 ribu (orang) pernah berangkat ke Irak dan Syiria, dengan tujuan tidak jelas, yang tidak harus diambil karena di sana kita ikut dalam tindakan konflik dan melanggar kedaulatan negara lain," jelasnya.
"Ke depan kami ingin BNPT bersama masyarakat kita harus protect, caranya bukan menjaga fisik keamanan satu persatu, bagaimana meningkatkan imunitas dari pengaruh ideologi yang non-Pancasila," pungkasnya.
BNPT: Banyak Ideologi Bertentangan Pancasila, Warga Tak Sadar Langgar Hukum
Kepala BNPT, Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan, saat ini kemunculan ideologi kontemporer mulai banyak diikuti oleh masyarakat. Sayangnya, tak banyak yang tahu, apa yang dilakukan justru bisa melanggar hukum.
"Karena dalam konteks bidang pencegahan kita tidak ingin semakin banyak masyarakat kita yang masuk dalam situasi yang tanpa disadari ternyata bagian dari sebuah pelanggaran hukum dan mengarah pelanggaran konstitusi," kata Boy dalam jumpa pers di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Senin (20/6).
Lebih jauh, Boy mengungkapkan, pihaknya telah membuat strategi Pentahelix guna mencegah penyebaran ideologi tersebut semakin menyebar.
"Pentahelix ini artinya multipihak. Ini menandakan tantangan dalam menghadapi terorisme berada di semua lini. Kita kembangkan terus penetrasi kita ke semua pihak. Tidak ada yang kebal akan ideologi terorisme. Semua pihak harus melawan ideologi terorisme," jelas Boy.
"Kita perlu literasi edukasi ke masyarakat luas, agar masyarakat tidak banyak yang masuk ke pusaran pelanggaran hukum," pungkasnya.
BNPT soal Khilafatul Muslimin: Ajarkan Untuk Benci Negaranya Sendiri
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar menanggapi adanya sekolah yang terafiliasi dengan ormas Khilafatul Muslimin.
Dia mengatakan, hal ini merupakan kejahatan yang sangat serius. Sebab di dalamnya secara sistematis diajarkan untuk memusuhi negaranya sendiri.
"Kita diajarkan ulama untuk kecintaan negara sebagian dari iman dalam rangka melawan kolonialisme. Ideologi yang sekarang beredar mengajarkan bangsa membenci bangsanya sendiri, ini tidak mungkin," ujar Boy dalam jumpa pers soal Ideologi Kontemporer di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Senin (20/6).
Boy menuturkan, hal ini kemudian menjadi salah satu fokusnya untuk melakukan langkah mitigasi. Termasuk koordinasi dengan kementerian terkait guna mengatasi masalah itu.
Tak Ada Tempat untuk Ideologi Lain Selain Pancasila, Termasuk Separatisme
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menegaskan, Pancasila merupakan ideologi satu-satunya di Indonesia. Oleh sebab itu, BNPT menuturkan tidak ada celah bagi ideologi lain untuk masuk ke Indonesia.
"Tidak ada tempat ideologi lain selain ideologi Pancasila di negara ini termasuk ideologi separatisme," kata Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar dalam jumpa pers di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Senin (20/6).
Menurut Boy, Indonesia telah menjadi negara yang berdaulat sejak memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.
Namun, dia tak menampik masih banyak tantangan dalam mempertahankan kemerdekaan. Baik dari ancaman dalam negeri dan luar negeri.
"Kita menyadari dunia ini bukan kondisi yang vakum tetapi penuh dengan dinamika pengaruh pengaruh eksternal maupun internal terhadap upaya-upaya yang merongrong kedaulatan negara ini," ucap dia.
Eks Kapolda Papua itu mengatakan, dalam menjaga keutuhan NKRI, perlu upaya bersama dari seluruh warga Indonesia. Tidak bisa hanya dari penegakan hukum karena harus ada kesadaran berbangsa dan bernegara.
BNPT Soroti Ideologi Sesat yang Bertentangan dengan Hubbul Wathon Minal Iman
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyoroti maraknya perkembangan ideologi sesat saat ini yang melahirkan gerakan radikalisme dan terorisme. Hal itu bertentangan dengan ideologi bangsa.
Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan, ideologi yang beredar saat ini sangat jauh dari prinsip para ulama saat melawan penjajah yang menjunjung tinggi Hubbul Wathon Minal Iman.
Padahal lewat prinsip tersebut, bangsa Indonesia berhasil mengusir para penjajah dan melawan kolonialisme.
"Jadi kalau era di zaman penjajahan kita diajarkan oleh para leluhur bangsa kita para ulama-ulama besar dengan prinsip Hubbul Wathon Minal Iman, kecintaan terhadap negara itu adalah sebagian daripada iman dalam rangka melawan penjajah kolonialisme," ujar Boy dalam jumpa pers di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Senin (20/6).
Boy khawatir maraknya ideologi sesat saat ini mengajak generasi bangsa melawan bangsanya sendiri. Dia tak ingin hal tersebut berkembang dan merusak bangsa Indonesia.
BNPT Pastikan Tak Ada Tempat Bagi Tindak Kekerasan untuk Mendirikan Negara
BNPT memberikan peringatan kepada para pelaku tindak kekerasan dalam bentuk apa pun termasuk terorisme. BNPT menjamin, tidak ada ruang bagi mereka yang ingin mencapai tujuan dengan kekerasan.
"Di negara kita dengan cara-cara kekerasan dalam pencapaian tujuan tidak dibenarkan tidak ada tempat," kata Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar dalam jumpa pers di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Senin (20/6).
Apalagi jika tindak kekerasan itu bertujuan untuk mendirikan sebuah negara di dalam negara. Boy memastikan BNPT akan bertindak tegas.
"Apalagi memiliki tujuan politik ingin mendirikan Negara Islam Indonesia dengan mengerahkan anak muda dan kemudian mengarah kepada terjadinya aksi-aksi yang mengarah kekerasan," kata Boy.
BNPT: Jangan Lengah dengan Organisasi Pakai Narasi Agama Berujung Kejahatan
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meminta masyarakat jangan lengah terhadap organisasi yang awalnya menggunakan narasi berbau agama. Harus dilihat pula, jangan sampai justru terjebak pada ajakan berujung kekerasan.
"Kita mengkhawatirkan narasi-narasi agama dibangun tetapi memiliki tujuan untuk melakukan sebuah peristiwa yang menyakiti satu sama lainnya, melakukan kejahatan," kata Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar dalam jumpa pers Ideologi Kontemporer, di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Senin (20/6).
"Makanya dalam ujaran kebencian pun kami juga mengingatkan karena ujaran kebencian bisa menjadi titik pangkal orang pada akhirnya bersikap toleran," tambahnya.
Dari narasi agama tersebut, kata Boy, masyarakat bisa timbul pemikiran baru yang tidak seharusnya. Seperti timbul permusuhan antar-golongan.
"Kemudian mendapatkan ideologi yang berdasarkan kebencian dengan entitas lain dengan yang tidak sejalan dengan dirinya pokoknya benci, tidak mau terima, dan bahkan sampai kepada sebuah eskalasi yang istilahnya itu mengkafirkan," katanya.
